Antar Prodi Raih Akreditasi Internasional, Fokus Penelitian Keamanan Pangan

DOSEN Universitas Brawijaya (UB) yang juga Ketua Jurusan Teknologi Hasil Pertanian (THP), Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Agustin Krisna Wardani, STP. MSi. PhD terpilih menjadi Ketua Jurusan (Kajur) berprestasi ke-2 se Indonesia pada Pemilihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Tinggi Berprestasi Tingkat Nasional 2013 yang digelar oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.  Keberhasilannya mengantarkan prodi Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) THP meraih akreditasi internasional diraih dari Institute of Food Technologists (IFT), USA menjadi salah satu poin keberhasilannya meraih prestasi tersebut. Bagaimana sosok dan kiprahnya?

Menghadirkan profesor dari luar negeri dan terus mengupgrade kualitas pembelajaran menjadi agenda wajib setelah akreditasi internasional diraih 2012 lalu. Tak heran kalau Agustin sebagai penggawanya disibukkan dengan kegiatan itu. Termasuk saat Malang Post hendak bertemu beberapa waktu lalu. Ia sedang menunggu seorang profesor Amerika.
"Saya menunggu Prof Nicks yang akan datang ke UB, kami akan sharing dan menimba ilmu dari beliau yang pakar pangan dari Kentucky University," ungkapnya.
Menurut Agustin pasca meraih akreditasi ada tugas penting bagi jurusannya untuk terus berinovasi. Sebab pada 2017 mendatang akreditasi harus dievaluasi kembali. “Dengan diraihnya akreditasi internasional tersebut, membuat THP UB mampu bersaing dengan program studi yang sama di seluruh dunia,” kata Agustin.
Pada lomba kajur berprestasi tersebut, peringkat pertama diduduki oleh IPB dan peringkat ke-3 diperoleh ITB. Ada enam kategori dalam pemilihan ini, yaitu dosen, kajur atau kaprodi, pustakawan, tenaga administrasi akademik, tenaga pengelola keuangan, dan laboran. Penetapan Agustin sebagai kajur terbaik Indonesia berdasarkan karya unggulan atau inovasi yang telah dihasilkan selama mengelola Jurusan THP.
"Karya unggulan yang saya presentasikan di depan dewan juri berkaitan dengan keberhasilan dalam mengantarkan Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) meraih akreditasi internasional dari Institute of Food Technologists (IFT), USA. Selain itu, Jurusan THP telah berhasil mendapatkan kembali akreditasi A baik untuk Program S1 dan Program Magister. Di kawasan Asia hanya UB dan IPB yang berhasil meraih akreditasi internasional ini," kata Agustin.
Menurutnya untuk mencapai kondisi kurikulum sesuai standar internasional diperlukan sebuah perjuangan keras. Sejak tahun 2010 telah dilakukan persiapan dan upaya penyesuaian kurikulum yang ditetapkan oleh IFT. Selain itu persiapan lain yang dilakukan adalah penggodokan dan pengaplikasian langsung kurikulum dalam proses belajar mengajar, persiapan fasilitas fisik, laboratorium dan pilot plant yang diupayakan sesuai dengan standar internasional yang telah ditetapkan IFT.
Alumnus S2 UGM Yogya dan S3 Osaka Jepang ini mengesankan sosok yang kalem tapi bertangan dingin. Agustin adalah sosok pimpinan yang visioner. Proses dan tahapan hingga meraih akreditasi internasional diraih berkat kerja kerasnya bersama staf jurusan. "Yang paling berat menyiapkan fasilitas fisik yaitu pilot plant, bentuknya lab mini skala industri yang bisa digunakan mahasiswa untuk mendukung kompetensinya," ungkapnya.
Pilot plant ini mengharuskan jurusan memiliki mesin imitasi yang dipakai di industri. Saat ini sudah dimiliki mesin pengolahan tepung yang terdiri dari beberapa rangkaian. Sebuah mesin baru juga siap dihadirkan yaitu rangkaian pengolahan buah menjadi jus. "Dana yang dibutuhkan sekitar Rp 2 milyar dan sedang kami ajukan ke rektorat," urainya.
Ia menambahkan dengan diperolehnya akreditasi internasional dari IFT ada beberapa keuntungan yang diperoleh, yaitu peluang kerjasama yang semakin terbuka lebar, student exchange dan mahasiswa punya akses utk mendapatkan beasiswa dari IFT. Tidak kalah pentingnya, kesempatan ITP UB menjadi pilihan mahasiswa dari mancanegara untuk belajar ilmu teknologi pangan.
Kelahiran Nganjuk 7 Agustus 1969 ini adalah dosen yang rajin meneliti. Salah satu concernnya pada masalah keamanan pangan atau foodsafety. Menurutnya kelemahan industri pangan di Indonesia saat ini adalah dalam hal labeling yang masih jauh tertinggal dibandingkan Jepang dan Amerika. Karena itu masyarakat perlu mendapatkan edukasi mengenai keamanan pangan tersebut. Ia pun cukup aktif bersama himpunan mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian untuk melakukan edukasi dan sosialisasi bagaimana produk pangan yang aman.
"Tanggung jawab keamanan konsumen perlu dikembangkan terus kepada produsen, jangan hanya mengejar profit," pungkas doktor Bioteknologi Pangan ini. (lailatul rosida)