Bendera Aremania Raksasa yang Membentang di Kanjuruhan

Aremania kembali membuat kreatifitas yang mencengangkan, bendera raksasa berukuran 45 x 75 meter! Bendera tersebut dibuat untuk menepis anggapan, Aremania terkotak-kotak oleh komunitas. Anggapan yang sama sekali salah, dan terbukti bahwa bendera itu dikibarkan Aremania dengan berpegangan tangan di Stadion Kanjuruhan.

Hanya Aremania, tak ada embel-embel komunitas apapun. Bersatu padu mengibarkan karya Aremania. Ammoy Sabbath Sapir, salah satu Aremania yang terlibat dalam pengerjaannya, menegaskan, bendera itu bukan dibuat komunitas manapun. Bendera itu dibuat oleh Aremania, untuk Aremania dan demi Aremania.
‘’Tolong dicatat, bendera itu bukan dari komunitas apapun. Itu hanya dibuat oleh Aremania untuk Aremania dan demi Arema,’’ tegas Sapir.
Proses pengerjaan, dibuat sekitar 20 hari. Finalnya sekitar tanggal 30 Agustus 2013 lalu. Lima hari pertama, bendera itu dikerjakan oleh lima relawan Aremania. Hanya saja, kata dia, sama sekali orang-orang itu tidak mau disebutkan namanya.
‘’Nawak-nawak tidak mau disebut namanya. Ini demi menepis anggapan bahwa Aremania terkotak-kotak dalam komunitas masing-masing,’’ imbuh pria berumur 33 tahun ini.
Nyatanya, saat dikibarkan, bendera tersebut dipegang secara beramai-ramai tanpa embel-embel komunitas. Selama ini yang dimaksud komunitas, adalah bahwa aremania berangkat dari kampung sendiri-sendiri. Untuk memudahkan koordinasi, maka datang berkelompok, dan sesampai di stadion tetaplah menjadi satu bagian yang sama, yakni Aremania.
‘’Aremania tidak pernah terkotak-kotak. Buktinya di tengah lapangan Aremania bergandengan tangan mengibarkan bendera. Semua memiliki tujuan satu untuk support arema dan untuk aremania,’’ tegasnya lagi.
Sapir, memberikan alamat rumah, jika ada Aremania yang ingin meminta rekaman proses pembuatan sampai pengibaran. Rekaman itu berukuran delapan giga, dan diberikan secara gratis.
‘’Tidak untuk tujuan komersil, datang saja ke Perumahan Bumiasri Sengkaling blok N nomor 48, cari saja Om Ho, antara jam 9 – 13 siang. Tapi yang utama untuk para relawan dulu, ini demi agar punya cerita untuk anak cucu,’’ urainya.
Ternyata dari 20 hari pembuatan itu, hanya butuh tiga hari untuk menjahit kain sebanyak 50 glondong. Jika ditotal panjangnya kain itu, kata Sapir, mencapai sekitar tiga kilometer. Hebatnya hanya dijahit oleh satu Aremanita asal Kelurahan Sisir.
‘’Dikerjakan tiga hari, penjahitnya baru berumur 27 tahun, dan ketika disodori langsung ngomong sanggup,’’ imbuh dia.
Karena ukuran rumah penjahit sangat sempit, maka kain itu diproses secara perlahan. Kain bahan yang diberikan kepada penjahit memiliki bobot tak kurang dari 250 kg. Begitu selesai dijahit, proses selanjutnya adalah mencari lokasi untuk pengerjaan.
‘’Kita sudah siapkan bahannya, termasuk desain berupa lambang Arema, gambar suasana sunset di tribun stadion Kanjuruhan serta tulisan for hope and better life,’’ ujarnya.
Menurut Sapir, gambar tribun itu menggambarkan simbol tribun sebagai rumah kita, rumah aremania. Banyak sekali kenangan disana. Mulai lolos divisi utama, juara copa dan juara liga, semuanya di Kanjuruhan. Sedangkan for hope and better life, memiliki dua makna.
‘’For hope adalah, kita ingin Arema ke depan semakin disegani, menjadi macan Asia. Bisa juara dunia antar klub, bertemu klub Amerika Latin. Itulah harapan kita,’’ terangnya.
Sedangkan for better life, adalah bahwa arema harus memiliki  kehidupan yang lebih baik. Ketika itu terjadi maka tak akan kesulitan dana, dan sponsor datang dengan sendirinya. Seperti Arema saat ini yang dipercaya oleh sponsor-sponsor besar.
‘’Memang idenya dari Harie Pandiono. Dananya juga dari dia. Tapi tidak etis jika disebutkan, nawak lain juga ada yang urunan seperti minuman dan makanan,’’ katanya.
Proses pengecatan dengan teknik air brush, hanya dengan cara di skala dengan tali tampar dan bambu. Yang paling sulit adalah menentukan lokasi pembuatan, karena susah mencari lokasi untuk ukuran seperti itu dan gratis. Yang ada hanya hanggar pesawat di Lanud Abd. Saleh, akan tetapi tidak mungkin dikerjakan disana.
‘’Akhirnya diputuskan digarap di Lapangan Sisir Kota Batu, dan meliburkan sepak bola selama 20 hari,’’ jelasnya.
Awalnya dari lima orang, kemudian berkembang sampai 25 orang dari beberapa korwil. Uniknya, selama mengerjakan bendera itu, sama sekali hujan tidak turun. Tapi sialnya, pada hari terakhir tanggal 30, hujan malah turun sekitar 10 menit.
‘’Padahal semua sudah selesai dan tinggal kita angkut, akibat hujan ada yang luntur, namun segera kita benahi lagi, kita angkat sekitar 11 orang, pakai bambu sampai bambunya patah,’’ katanya.
Dia menjelaskan bahwa nantinya, kreatifitas akan tetap bermunculan dari Aremania. Bahkan ke depan juga semakin baik dan bermacam-macam. Membuktikan bahwa selama ini Aremania tetap sebagai gudangnya suporter kreatif.
‘’Kreatifitas dari Aremania akan terus ada,’’ tandas pegawai salah satu resort megah di Kota Batu ini. (Bagus Ary Wicaksono)