Melihat Pelaksanaan Sekolah Jurnalisme Indonesia PWI Malang

Usaha maksimal dilakukan PWI Malang, dalam meningkatkan profesionalisme wartawan Malang Raya, melalui Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI), yang berlangsung sejak Senin (2/9) kemarin. SJI angkatan pertama untuk Jatim dan menjadi SJI ke-11 untuk seluruh Indonesia itu, siapa sangka tidak hanya berisi sistem pembelajaran atau peningkatan profesionalisme semata.

40 persen teori dan 60 persen praktik. Begitulah metode pembelajaran dalam pendidikan dan pelatihan, yang dijalankan dengan mengacu pada rumusan kompetensi jusnalisme menurut Unesco. Cukup banyaknya praktik lapangan yang harus dilakukan peserta, menjadikan tantangan tersendiri untuk wartawan, yang notobene memang menghabiskan waktu lebih banyak di lapangan, dibandingkan dengan kantor.
Dalam menjawab metode itu, beberapa langkah menarik pun terlihat dari sejumlah pemateri, yang didatangkan khusus untuk memperdalam profesionalisme kerja wartawan. Dari total sekitar 17 materi teori dan materi praktek yang harus dijalankan peserta, pemateri dari masing-masing sesi didatangkan khusus dari luar Malang Raya.
Yang menarik, pemateri-pemateri yang mengisi setiap pelajaran pelatihan, adalah orang-orang yang handal dalam dunia jurnalistik. Seperti di hari pertama pelatihan, pengajar senior jurusan ilmu komunikasi FISIP Universitas Gajah Mada, yang juga Direktur LP3Y yakni Ashadi Siregar, menjadi pemateri pertama menjelaskan mengenai filosofi dasar profesi jurnalisme. Pada posisi ini, peserta diingatkan kembali mengenai posisi profesi wartawan pada tingkatan tatanan pilar negara.
Pemateri lain yang tidak kalah handalnya, tatkala materi pelatihan menyajikan teknik wawancara. Pada posisinya ini, wartawan senior yang juga Ketua Bidang Pembinaan Daerah PWI Pusat, Atal S Depari, turut menjadi pemateri. Wawasan dan pengetahuan lapangan yang cukup luas, menjadikan nuansa pelatihan berjalan mengalir dan muda dipahami oleh peserta.
Beberapa pemateri lain menyangkut jurnalistik, diantaranya pula TD Asmadi, eks wartawan Kompas yang kini menjadi Ketua Forum Bahasa Media Massa.
Bahasa Indonesia Jurnalistik yang menjadi bahan pemaparannya, mampu mengingatkan kembali, bagaimana peran dan pentingnya penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Beberapa tokoh lain yang akan dihadirkan, diantaranya pula Encub Soebekti, Direktur Program Pendidikan PWI Pusat dan Pelaksana Harian Sekolah Jurnalisme Indonesia PWI Pusat yang mengisi materi dasar-dasar penulisan jurnalistik.
Liberty P Sihombing, dosen Universitas Indonesia yang akan mengisi materi logika dalam bahasa jurnalistik dan Sabam Siagian, redaktur senior The Jakarta Post mengisi hubungan pers dengan pemerintah.
Yang tidak kalah menariknya selama dua hari pertama pelatihan itu, Encub Soebekti pun mulai memberikan gambaran jelas dalam pembuatan suatu media massa harian.
Bahkan, layaknya mendirikan media cetak baru dengan sistem harian untuk wilayah Malang, peserta yang terbagi atas pimpinan redaksi, redaktur pelaksana, redaktur hingga wartawan, diminta membuat media massa dengan jumlah halaman yang disesuaikan dengan kemampuan layaknya mendirikan media massa nyata.
Selama proses pelatihan, sebenarnya bukan itu saja beberapa hal positif yang bisa diambil oleh peserta. Seperti pemateri Atal S Depari, pada kesempatan itu pun juga menawarkan kesempatan kepada peserta pelatihan, untuk memaksimalkan profesi kewartawananya dengan bagian dari media massa online yang akan dikembangkannya.
Media yang websitenya sudah dibuat dan akan meramaikan persaingan media online tentang berita-berita olahraga lokal dan mancanegara itu, pun sudah siap dikembang-luaskannya.
Kesempatan peluang kerja tambahan untuk peserta SJI, pun secara tidak langsung juga muncul dari Wartanto, Direktur Pembinaan Kursus dan Pelatihan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Sosok yang berperan dalam munculnya SJI itu, juga memberikan wawasan luas mengenai bagaimana kesempatan-kesempatan yang bisa dikembangkan wartawan di luar dari tugas kesehariannya.
Bahkan, mengenai keberadaan SJI sendiri, Wartanto menjelaskan secara rinci mengenai pembeda antara pelatihan yang digelar PWI dengan uji kompetensi yang sudah mulai dilakukan oleh sejumlah wartawan.
Sertifikat dari SJI yang nantinya dikeluarkan, akan sangat berpengaruh terhadap tingkat profesionalisme wartawan. Sertifikat tersebut secara tidak langsung menjadi dasar atau sertifikat sebelum nantinya dilakukan uji kompetensi terhadap wartawan.
‘’Sertifikat yang akan dikeluarkan nanti, merupakan langkah awal wartawan setelah lolos di tingkatan sarjana. Sementara uji kompetensi, merupakan tingkat lanjutan yang menentukan wartawan itu,’’ ujar Wartanto.
Karenanya, tambah dia, ada istilah wartawan muda, madya dan utama. Sebagai contoh, seorang sarjana, usai merampungkan kuliah, statusnya masih sebatas sarjana kedokteran. Untuk meneruskan ke dokter apa nantinya, itu perlu sertifikat kembali.
‘’Sertifikat inilah yang posisinya sama dengan yang tengah dicari sarjana kedokteran itu. Jadi, cukup beda antara sertifikat yang akan diberikan kepada peserta SJI dengan uji kompetensi yang sudah dilakukan dibeberapa tempat,’’ ujar Wartanto. (sigit rokhmad e)