Geliat Seni dalam Penjara Kelas I Lowokwaru (1)

Untukmu ku bersujud
Dan bersimpuh dihadapan-MU
Aku Bersyukur
Ku yakin ini jalan yang terbaik

Walau penuh rintangan dan cobaan
Janganlah ragu untuk memohon
Karena betapa besar keagungan-MU
Yang tercurahkan untukku

Syair di atas, merupakan penggalan dari lagu berjudul Hidup yang Yakin, garapan band Lowokwaru. Band yang satu ini, bukanlah Begundal Lowokwaru, street punk band yang ternama itu. Band Lowokwaru ini, personilnya benar-benar para narapidana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Lowokwaru.
Mereka saat ini, hidup dalam bui. Namun memiliki gairah untuk berkarya. Wujudnya lagu berjudul ”Hidup yang Yakin”, merupakan lagu religi yang syairnya dibuat warga binaan secara berjamaah. Namun aransemen dan tata musik, dikerjakan oleh Teuku Hendri B bassist band itu dan Isam Nuri Jadi,  gitaris.
Koordinator dari band ini adalah Ernowo, mantan Wakapolsek Sukun, yang dibui karena kasus 372 dan 378 KUHP. Ernowo juga selaku vokalis bersama Agus Budi Santoso dan Mahendra. Band Lowokwaru memiliki tiga vokalis dan drummer bernama Heru Yuwono.
Para personilnya ada yang masuk bui karena kasus pembunuhan, ada juga yang narkoba. Mereka baru enam bulan ini membentuk band tersebut. Mantan pembunuh, pemadat, berkumpul berkarya dan menghasilkan dentuman musik yang menggetarkan hati.
’’Kami baru tiga kali tampil. Itupun di depan teman-teman kami sendiri di dalam penjara, ketika ada kunjungan dari pihak luar,’’ aku Ernowo kepada Malang Post.
Band itu sudah memiliki enam buah lagu, namun yang sudah matang baru tiga lagu. Antara lain : hidup yang yakin, kenang di hati dan cinta hampa. Lagu hidup yang yakin, bahkan sudah direkam oleh mereka. Perekaman menggunakan alat sederhana yang disiapkan di dalam penjara.
’’Kami memanfaatkan apa yang ada disini, dengan bimbingan Pak Siswoyo petugas lapas selaku pembina band,’’ ungkap Ernowo.
Para pemain band tersebut, merupakan benih-benih seniman diantara 1.700-an napi dan tahanan Lowokwaru.
Lapas yang dibangun sejak jaman Belanda 1918 itu, memiliki 22 blok. Termasuk blok keamanan maksimum yang dihuni para napi teroris dan makar.
Malang Post harus berjalan sekitar 500 meter, untuk sampai ke gedung serbaguna itu. Melewati blok-blok tahanan, termasuk juga sel dengan penjagaan ekstra maksimum tadi.
Para narapidana tengah beraktifitas rutin, layaknya di sebuah kampung. Untuk masuk tempat itu, handphone harus ditinggalkan, juga menjalani pemeriksaan menyeluruh oleh petugas.
Begitu keluar dari ruang pemeriksaan, terdapat jalan lurus sepanjang 500 meter. Blok penjara dan sel narapidana berada di kanan kiri jalan tersebut. Sebelum memasuki areal itu, terdapat sebuah wartel, para narapidana tampak tengah mengantre untuk menelepon.
Di dekat wartel ada pos penjagaan lagi, mau tak mau juga harus melewati sebuah pagar besi yang tinggi. Di tengah pagar terdapat sebuah pintu, di balik itu, merupakan wilayah para tahanan dan narapidana. Gedung untuk latihan band sendiri berada di ujung paling timur.
Berarti harus melewati perempatan blok tahanan, workshop, serta gereja dan masjid yang saling berhadapan. Di sepanjang jalan, para narapidana berlalu lalang untuk menjalankan aktifitas masing-masing. Begitu di depan gereja, lamat-lamat suara musik sudah terdengar di telinga, berasal dari gedung serbaguna.
Saat Malang Post masuk, sontak latihan terhenti, saat itu barisan karawitan yang tengah bermain. Seorang pemuka seni bernama Novianto (29 tahun) menjabat tangan Malang Post. Dia adalah koordinator seluruh kegiatan seni di tempat itu, yang disebut pemuka seni. Novianto adalah seorang guru, yang terpaksa menjalani kehidupan di penjara karena kasus pembunuhan.
’’Yang baru dibentuk disini memang band Lowokwaru ini, sekitar bulan Februari. Kemudian bulan April bentuk jazz dan band reggae, sebelumnya kami sudah punya karawitan, campursari, capoeira bahkan ludruk sampai wayang wong,’’ terang Mas Bin, sapaan akrabnya.
Setelah mengenalkan seluruh personil karawitan dan band, Malang Post kemudian diminta duduk. Band Lowokwaru, kali ini menampilkan dua buah lagu, yakni hidup yang yakin, kenang di hati.
‚’Lagu yang dibuat syairnya ya dikumpulkan dari teman-teman sesama napi, kami merenung selama disini,’’ ujar Hendri selaku bassist band Lowokwaru.
Kata Hendri, band ini memiliki cita-cita untuk membuat album rekaman. Mereka sudah mengumpulkan enam lagu dan bakal terus bertambah. Selama di penjara, para personilnya berlatih hari Senin dan Jumat, pagi dan sore.
’’Yang perlu ditambah disini adalah peralatan bandnya, namun yang ini saja sudah layak dipakai,’’ imbuh Isam sang gitaris.
Beberapa saat kemudian, Isam mendendangkan lagu yang dia ciptakan. Berjudul cinta hampa, sebagai wujud kerinduan kepada sosok perempuan yang dia cintai. Suaranya keras menjelang chorus. ’’Kini baru kusadari, hatimu bukan untukku.’’ (bagus ary wicaksono)