Sekar Lapas, Kolaborasi Warga Binaan dan Petugas Lapas

ADILUHUNG : Narapidana dan petugas Lapas Lowokwaru berkolaborasi memainkan gamelan.

Geliat Seni dalam Penjara Kelas I Lowokwaru (Habis)
Gending rijik-rijik mengalun merdu di dalam Gedung Serbaguna Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Lowokwaru. Rijik, dalam bahasa jawa bisa diartikan bersih, jika dimaknai secara religius, bisa jadi membersihkan hati. Gending itu dimainkan narapidana (warga binaan) yang berkolaborasi dengan petugas Lapas tersebut.
Harno Kabid Kantib Lapas Lowokwaru, terlihat berada di balik saron. Pria yang lama berdinas di Lapas Wanita Kelas IIA Sukun ini, menjadi satu-satunya petugas Lapas yang bermain gamelan, siang itu. Di sebelahnya duduk Mudiharno warga binaan yang tangannya penuh tatto, juga memainkan saron.
Pengrawit lainnya, juga warga binaan yang dibui dengan beragam kasus. Mulai yang berat sampai menengah. Novianto yang menjalani masa hukuman 14 tahun, tampil memegang bonang. Pemuda ini adalah pemuka seni, dia membawahi beragam kegiatan seni di tempat itu.
Persis di dekat Novianto, ada Solikhin yang memainkan bonang penerus. Adapun demung dipegang Bibit, sekaligus nembang. Selanjutnya Ivan pada kenong, Parno memainkan kendang dan gong di tangani oleh Kasiyono. Kelompok seni karawitan ini diberi nama Sekar Lapas.
Menurut Harno, kelompok seni ini sudah kerap tampil di depan umum. Terutama jika lapas tengah mendapat kunjungan dari pejabat penting. Selain bisa memainkan gamelan, sejumlah narapidana juga pandai memerankan lakon. Wayang orang, ludrukan dan ketoprak, mereka bisa.
’’Saya menganggap mereka seperti tetangga sendiri, karena setiap hari bertemu,’’ ujar Harno kepada Malang Post.
Yang paling punya pengalaman dalam bidang seni pertunjukan Jawa, adalah Bibit. Pria asal Blitar ini, pernah ikut perkumpulan wayang orang. Dia bisa memerankan tarian Bambang Cakil dan sederet peran sulit lainnya. Seringkali kelompok karawitan ini juga mengiringi kuda lumping. ’’Seni ini membuat pikiran menjadi positif, sehingga dikembangkan di lapas.’’ imbuhnya.
Gamelan yang digunakan pun seadanya, bahkan sebagian besar sudah keropos dimakan jaman. Sejatinya, kata Harno, gamelan sudah harus diganti. Namun tentu saja tak mudah mendapatkan dana dari pusat, sehingga dibiarkan seadanya saja.
’’Ya mudah-mudahan pihak luar ada yang peduli dengan kelompok seni karawitan di lapas ini,’’ harapnya.
Adapun menurut Novianto, seni karawitan ini mulai berkembang di lapas sekitar tahun 2009. Awalnya, tidak begitu disukai, karena tidak ada yang bisa. Dengan pendekatan persuasif, karawitan ini pun mampu berkembang dan bertahan hingga kini di lapas.
’’Kawan-kawan ini punya bakat, karawitan ini ada untuk menampung bakat-bakat mereka,’’ jelasnya.
Hebatnya, karawitan ini, juga bisa menjadi semacam Kiai Kanjeng. Karena bisa berkolaborasi juga dengan kelompok dangdut, rock dan jazz. Yang paling sering dengan kelompok dangdut. Di lapas, ada juga personil dangdutnya. Rudi pemain keyboard, Yusuf bagian melodi, drummernya Satria, vokalisnya Ernowo.
Jika sedang berkolaborasi, biasanya pengrawit berpindah tugas. Misalnya Mujihadi yang semula saron, akan memegang ecek-ecek. Kelompok ini juga dibina petugas Lapas bernama Daryono.
‘’Saya kadangkala membawa penyanyi luar, untuk memeriahkan pentas, kesenian ini dibuat agar anak-anak tidak semakin stres,’’ ujarnya.
Sehingga meskipun ruangan hanya dijaga dua petugas lapas, situasi sangat kondusif. Saat Malang Post berada di ruangan itu, hanya ada dua petugas. Namun situasi sangat kondusif, tak ada sikap yang berlebihan dari para narapidana. ’’Persis Pak Harno, saya anggap seperti di kampung sendiri,” imbuhnya.
Kepala Lapas Lowokwaru Herry Wahyudiono, mengaku mendukung penuh kegiatan itu. bahkan dia mendorong para narapidana dan tahanan agar memanfaatkan kesenian itu sebaik-baiknya. Dengan berkesenian, jiwa para warga binaan itu akan menjadi semakin lembut.
’’Harapan saya dengan karawitan semoga saudaraku warga binaan dan para tahanan dapat memanfaatkan sarana tersebut sebaik-baiknya, disamping untuk sarana rekreasi seni, sehingga jiwanya menjadi lembut,’’ urainya. (Bagus Ary Wicaksono)