Dulu Kumuh, Sekarang Runner Up Kampung Bersinar

Lomba kebersihan Kampung Bersinar 2012/2013  memang sudah lama berlalu. Namun begitu, bisa dipastikan para juara mampu mempertahankan kebersihan lingkungan mereka meski lomba sudah berlalu, seperti yang terlihat di lingkungan RW 06 Kelurahan Tlogomas. Tidak hanya bersih, sepanjang jalan kampung yang mendapatkan juara dua ini juga terlihat sangat asri dan indah. Salah satunya Jalan Telaga Warna, berbagai jenis bunga tertata rapi di sepanjang jalan, mulai dari jenis bogenvil, bunga palm, mawar, dan masih banyak lagi.
“Bunga-bunga yang ditanam tersebut, merupakan hasil pembibitan warga sendiri. Ditanam di sepanjang jalan untuk memberikan nuansa keindahan, sehingga warga termasuk pengguna jalan merasa sangat nyaman saat melintas di jalan ini,’’ kata Ketua RW 06 Kelurahan Tlogomas Anang Sulistyono.
Sebagai Ketua RW, Anang mengaku sangat bangga dengan perilaku warganya yang saat ini sudah mulai berubah. Terlebih perubahan itu tidak sekadar sadar hidup bersih dan sehat, tapi juga sadar akan keindahan lingkungan.
Menurut pria yang pernah menjabat sebagai anggota DPRD Kota Malang ini, semuanya diawali dari tahun 2008 lalu. Saat itu kali pertama Anang dipilih sebagai Ketua RW. Meski mungkin jabatan ketua RW adalah hal biasa bagi orang lain, tapi bagi Anang itu merupakan tugas yang sangat berat. Terlebih di lingkungannya.
“Dulu tidak seperti ini keadaannya. Sangat kumuh, warga kerap membuang sampah sembarangan, lingkungannya juga gersang, pokoknya tidak sedap dipandang,’’ katanya sembari mengatakan kondisi kumuh itu tidak pernah ada perubahan dari tahun ke tahun.
Anang pun membuat program. Salah satunya mengajak masyarakat warga RW 06 untuk hidup sehat. Meski awalnya sangat sulit, namun Anang yang juga menjadi pengajar  di Universitas Islam Malang (Unisma) ini terus bersabar mengampanyekan hidup sehat. Setiap ada pertemuan dengan warga, dia mengajak mereka untuk menjaga perilaku hidup bersih. Bukan itu saja, Anang juga sempat mengajak para ketua RT melakukan studi banding di wilayah Kelurahan Margodadi, Surabaya, yang menjadi pemenang lomba kebersihan.
Upaya itu membuahkan hasil. Warga mulai terbuka hati, yang semula membuang sampah sembarangan, mulai mengerti dengan tempat sampah. Termasuk saat diajak kerja bakti, warga langsung merespon positif, dan bersama-sama ikut melakukan bersih-bersih lingkungan. Semangat warga inipun membuat Anang berani untuk mengikutkan wilayahnya pada ajang lomba kebersihan Kota Malang. “Pertama ikut tahun 2010, saat itu dapat juara 26. Kami tidak putus asa, warga sangat bersemangat, dan terus menciptakan lingkungan di sini sebagai lingkungan yang bersih,’’ ucapnya.
Tahun 2011 pun kembali dirinya ikut lomba kebersihan. Hasilnya ada peningkatan. Dari awalnya juara 26 meningkat menjadi juara 16. Peningkatan juga terjadi pada kegiatan lomba berikutnya, dimana wilayah RW06 mampu naik menjadi juara 6. Tidak kapok, Anang kembali mendaftarkan wilayahnya pada even lanjutan, dan hasilnya dapat juara 4. “Dan tahun 2012/2013 lalu, kami mendapat juara 2. Itu lomba terakhir kami di Kota Malang, karena tiga besar pemenang lomba tidak diperbolehkan ikut pada tahun depannya,’’ cerita pria ini.
Meskipun bukan yang pertama, Anang dan warga mengaku senang dengan perolehan tersebut. Terlebih, adanya peningkatan rangking di setiap gelar lomba. Itu sebabnya, pada bulan Maret lalu, pihaknya kembali ikut lomba kebersihan tingkat provinsi. “Ikut lomba kategori pratama, dan tahun depan ini kami mengejar untuk tingkat madya,’’ ulasnya.
Sementara perilaku sehat warga ini juga terlihat dari berbagai kegiatan yang dilakukan. Setelah didapuk menjadi pemenang, warga kian aktif, menyiram bunga, termasuk melakukan pembibitan. Pembibitan itu tidak hanya pada satu jenis pohon, tapi berbagai jenis, mulai dari buah, sayur dan lainnya.
Sedangkan para ibu-ibu kini juga lebih kreatif. Mereka tidak lagi diam dan duduk-duduk saja, tapi juga berpartisipasi dalam menanggulangi masalah sampah. “Sampah rumah tangga wajib dipilah, sampah basah dan sampah kering. Yang basah akan dikelola lagi menjadi kompos, sedangkan yang kering dijual. Hasil penjualan dikembalikan lagi untuk melakukan perawatan tanaman. “Tidak ada yang sulit jika kita mau berusaha. Itu saja kata kuncinya,’’ tandas Anang sembari tersenyum.(ira ravika/han)