Tinggalkan Jabatan Kasek, Keliling Puluhan Daerah di Indonesia

KETEKUNAN  Drs. Suyadi, SPd., MM membina dan mengembangkan PAUD  Pelita Hati di  Kota Malang akhirnya berbuah manis. Alumnus Fakultas Pendidikan UMM ini berhasil merebut juara pertama  pengelola PAUD tingkat Jatim dan mendapat penghargaan Gubernur Jatim H.Soekarwo.

Kepada Malang Post, ia menuturkan sangat bangga karena seluruh jerih payahnya selama ini tidak sia-sia. ‘’Saya bahkan telah berkeliling ke ratusan PAUD  di sekitar 40 kota dan kabupaten se-Indonesia untuk menelaah potret dari berbagai PAUD tersebut.Dari situ saya  terus mengembangkan pembinaan terbaik untuk saya terapkan hingga saat ini di PAUD Pelita Hati,’’ paparnya.
Ayah dua anak ini mengungkapkan sebenarnya hanya sedikit kaum pria berkecimpung sebagai  pengelola pendidikan tingkat PAUD.Hanya sekitar  5 persen saja. Selebihnya, 95 persen, dikuasai oleh kaum ibu. Namun hal tersebut sama sekali tak mengendorkan semangatnya untuk berkecimpung di dunia pendidikan golden age tersebut. Awalnya, keputusan Suyadi untuk memulai kiprah di bidang PAUD dan meninggalkan posisinya yang sudah mapan sebagai Kepala SMA Airlangga  sempat dipertanyakan banyak orang. Namun seiring kegigihannya memperjuangkan Lembaga Pelita Hati yang berdiri pada tahun 2004 lalu, saat ini masyarakat dapat menilai hasilnya.
Dalam kiprahnya di dunia PAUD, ayah dari dua orang putri  ini memang selalu ingin bekerja secara maksimal. Bekal akademiknya sebagai sarjana teknologi pendidikan di UMM, sarjana pendidikan di IKIP  PGRI Malang, serta magister manajemen SDM di Sekolah Tinggi Mahardika, Surabaya, masih dirasa belum sempurna. Untuk itu, demi perencanaan dan pelaksanaan yang matang dalam pembentukan lembaga, ia mengorbankan sengaja materi dan waktu yang tak sedikit untuk mengunjungi ratusan PAUD di sekitar 40 kabupaten di Indonesia. “Di Jakarta, ada PAUD yang sangat bagus tapi tidak ada secuilpun pohon. Kami tidak mengatakan itu tidak berkualitas, tapi memang bidikannya berbeda,” ungkap Wakil Ketua HIMPAUDI Kota Malang tersebut.
Dalam lomba se-Jatim baru lalu, pria berusia 46 tahun ini mempresentasikan  profil  PAUD Pelita Hati di Tengah Hijaunya Biota Organik, sebab lingkungan belajar di PAUD  berlokasi di Perumahan Sukun Pondok Indah Blok V No 6 Kota Malang ini  memang penuh dengan biota organik. Presentasinya benar-benar  memukau tim juri yang terdiri dari tiga unsur, yaitu Dinas Pendidikan, Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) dan HIMPAUDI Provinsi Jawa Timur.
“Tema tersebut sengaja saya angkat  sebab  lingkungan hijau, asri, rindang dan bersih membantu bumi bertahan lebih lama untuk anak cucu kita, termasuk di antaranya ialah siswa PAUD ini,” terang pria yang aktif menulis artikel tentang pendidikan anak tersebut. Karena itu, konsep green environment yang murah dan mudah di PAUD Pelita  sangat ia harapkan sekaligus dapat menjadi inspirasi bagi PAUD lainnya.
Disisi lain, Suyadi berkomitmen untuk terus menyosialisasikan berbagai terobosan yang ia rancang di PAUD yang memiliki sekitar 190 siswa ini. Diantaranya, adalah memperkuat keterlibatan tiga unsur dalam pengelolaan PAUD. Ketiga unsur tersebut ialah tomas (tokoh masyarakat), tono (tokoh non formal), serta toga (tokoh agama).
Tokoh masyarakat  dimaksud  adalah tokoh yang memiliki peran penting dalam penentuan kebijakan dan pola pikir di masyarakat. Misalnya, pemilik yayasan sosial atau pejabat yang disegani. Tokoh agama biasanya merupakan pemilik surau atau madrasah yang menjadi jujugan masyarakat di bidang agama. Sedangkan tokoh non formal umumnya berupa person yang aktif menyokong kegiatan dalam hal opini masyarakat, misalnya juragan-juragan yang memiliki banyak anak buah.“Tiga unsur tersebut adalah bingkai dalam pengelolaan pendidikan kita. Tentunya dengan pendekatan Komutin (komunikasi, musyawarah, dan tindakan/aksi),”  tutup putra ke 5 dari 9 bersaudara ini. (laili salimah)