Suliono, Satu-satunya Kades di Kota Batu Lakukan KB Pria

PROGRAM KB, identik dengan perempuan, karena mayoritas alat kontrasepsi digunakan oleh kaum hawa itu. Namun KB yang dicap untuk kaum perempuan tersebut, tidak berlaku untuk Suliono, Kades Sumberbrantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Kades yang bertugas di wilayah ujung utara Kota Batu itu sudah ber-KB sejak tahun 2011 lalu.

Berbagai macam alat kontrasepsi, sudah cukup dikenal masyarakat selama ini. Alat kontrasepsi itu seperti pil, spiral, suntik, kondom dan MOP. Dari beberapa alat kontrasepsi tersebut, hanya kondom dan MOP (medis operasi pria) yang digunakan untuk pria.
‘’Kondom memang untuk pria. Tahu itu hal biasa. Saya bisa kalau hanya pakai kondom, tidak ber-KB. Makanya saya pilih MOP,’’ ungkap Suliono kepada Malang Post.
Suliono, menjadi satu-satunya kades di Kota Batu, yang ber-KB. Dia memutuskan mengikuti KB dengan sistem MOP, setelah ada sosialisasi dari Pemkot Batu kepada warganya di Sumberbrantas.
Saat itu petugas KB menyatakan, saat ini KB tidak hanya bisa dilaksanakan oleh kaum perempuan. Para bapak juga bisa mengikuti program KB dengan sistem MOP.
Warga sekitar, sempat tidak percaya jika KB bisa dilakukan oleh pria. Meski sudah ada metode baru, warga Sumberbrantas masih ragu akan tingkat keberhasilan atau metode itu bisa membawa efek samping negatif. Ketakutan lain, mereka sudah tidak bisa produktif ketika ingin memiliki anak lagi.
‘’Karena warga masih ragu, biarlah saya yang mencoba dulu. Kalau ada apa-apa dengan KB, berarti saya duluan yang kena. Kalau saya sudah berhasil, mereka yang ingin mengikuti sistem MOP tidak akan ragu-ragu lagi,’’ tegas Suliono.
Menurutnya, petugas KB Pemkot Batu membawa kendaraan dan peralatan lengkap saat melakukan sosialisasi. Dengan peralatan itu, warga yang ingin mengikuti program KB bisa langsung dilayani ditempat. Jika ada pria yang mengikuti MOP, dia bisa menjalani operasi langsung dalam kendaraan.
Kades Sumberbrantas itu kemudian menjalani operasi di dalam kendaraan tertutup saat warga masih berada di Balai Desa, lokasi sosialisasi.
Kades yang bakal habis masa jabatan tahun 2014 ini, merasa kasihan dengan kaum perempuan untuk ber-KB. Kaum perempuan sudah penuh pengorbanan. Mulai hamil, melahirkan hingga ber-KB. Terkadang kaum perempuan juga mengalami rasa sakit atau efek lain dari ber-KB. Malahan dia masih disalahkan jika program KB itu masih gagal.
‘’Biar kaum pria tidak selalu disalahkan dan untuk meringankan beban istri, biarlah saya yang ber-KB,’’ tegas dia.
Dia malahan mendapatkan efek positif dari mengikuti KB sistem MOP. Awalnya, dia memiliki keluhan sakit pinggang, namun sejak mengikuti KB, keluhan tersebut tidak dirasakan lagi. Begitu juga soal hubungan suami istrinya, dia tidak memiliki kendala. ‘’Malah lebih greng, setelah ber-KB,’’ katanya terkekeh.
Pihaknya juga mendapatkan keterangan dari petugas medis, jika pria yang mengikuti KB sistem MOP, masih bisa memiliki anak lagi. Caranya, peserta KB itu melakukan operasi lagi sehingga alat reproduksi bisa bersifat normal kembali.
Di Kota Batu, KB dengan sistem MOP mulai dikenalkan tahun 2010 lalu. Pada tahun pertama itu, jumlah peserta KB untuk laki-laki ini berjumlah 36 orang. Angka tersebut terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, karena berbagai sosialisasi yang dilakukan pihak Pemkot Batu langsung ke desa-desa. (febri setyawan)