Malang Post

Lufas Galery, Home Industri dengan Omzet Ratusan Juta

Share
Membuka usaha, tak harus dengan modal banyak. Sekalipun dengan modal sedikit dan pas-pasan, kalau ditekuni dengan serius, pasti akan membuahkan hasil yang luar biasa. Seperti Lufas Galery milik Saiful Ghozi. Hanya dengan Rp 2 juta, sekarang setiap bulannya sudah beromset Rp 350 juta.

Mencari lokasi Lufas Galery di Kecamatan Kepanjen, sama sekali tidak sulit. Karena nama Lufas, sudah cukup dikenal oleh banyak warga. Tempatnya berada di Jalan Sidoluhur 15, RT05 RW01, Desa Dilem. Dari jalan protokol, sekitar 50 meter masuk gang ke arah barat.
Lufas Galery ini, berdiri sejak tahun 1996. Sebelum membuka usaha kerajinan dari bahan kulit, Saiful Ghozi adalah karyawan kontrak sebuah perusahaan kulit di Surabaya pada 1985. Kemudian untuk mencari pengamalaman, Saiful berpindah pekerjaan hingga 1992 diterima pada salah satu perusahaan tas terbesar di Surabaya.
Empat tahun berjalan, selanjutnya 1996 Saiful memutuskan untuk keluar. Dia pulang ke kampung halaman di Kepanjen, untuk membuka usaha sendiri.
Modal awal hanya Rp 2 juta. Itupun pinjaman dari orangtuanya.
Uang untuk modal usaha itu, kemudian dibelikan bahan kulit. Dia mulai merintis usahanya dengan membuat dompet dan ikat pinggang.
‘’Hasil produksi saya jual ke pabrik tempat bekerja dulu. Sehingga pembuatannya tergantung order, dengan keuntungan hanya 10 sampai 15 persen saja,’’ ungkap Saiful Ghozi.
Setelah usahanya berkembang, Saiful lalu menciptakan produk-produk baru. Seperti tas, sepatu, sandal, jaket dan produk lainnya dari bahan kulit. Namun saat itu, masih belum memiliki nama. Untuk pemasarannya, dia masih ndompleng merek lain yang waktu itu sudah cukup terkenal.
Namun karena berpikiran bahwa memakai nama merek lain, justru akan membesarkan merek tersebut, akhirnya Saiful mulai berfikir untuk mencari nama.
Tercetuslah Lufas pada 2005 lalu. Nama tersebut adalah kebalikan dari nama Saiful. ‘’Hanya karena untuk memudahkan orang menghafal, huruf i saya hilangkan,’’ ujar pria berusia 41 tahun ini.
Sejak nama Lufas muncul, usahanya kian berkembang. Terlebih Saiful sendiri sering ikut pameran di beberapa tempat yang difasilitasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang dan Pemerintan, hingga membuat nama Lufas ini makin terkenal.
Bahkan, untuk meningkatkan usahanya, pada 2006 Saiful membangun showroom di Jalan Sidoluhur, Dilem  - Kepanjen yang sekarang ini ditempati. Juga mengembangkannya lewat website pada 2008.
‘’Situs itu, bertujuan sebagai media untuk memperluas pemasaran sekaligus mempermudah menampilkan semua hasil produk kami kepada konsumen ataupun distributor,’’ kata bapak dua anak ini.
Namun, meski saat ini nama Lufas sudah berkibar dan pemasarannya sampai ke luar pulau, tetapi ada kisah yang menyedihkan. Pada 1998 lalu, ketika krisis moneter, usahanya sempat berhenti produksi selama sebulan. Itu karena kenaikan bahan baku yang hampir 100 persen.
Tetapi karena sudah jalan dan berjodoh dengan usahanya, setelah sebulan sempat berhenti, tiba-tiba ada orang yang membeli hasil produksinya dengan harga sesuai.
Saat itulah, akhirnya harapan suami Kurotul Aini untuk mengembangkan usahanya, bangkit lagi. Bahkan, dari yang semula hanya dikerjakan sendiri serta dibantu saudara, sekarang ini sudah memiliki 25 karyawan.
‘’Semua karyawan ini, adalah warga sekitar (Lufas Galery) sini saja. Karena saya membuka usaha ini, untuk lapangan pekerjaan warga. Tetapi harapan saya, nantinya karyawan bisa mengembangkan usaha sendiri seperti saya ini,’’ paparnya.
Pemasaran produk Lufas tidak hanya di Malang Raya. Tetapi juga beberapa kota besar seperti, Surabaya, Solo, Surabaya dan Sidoarjo. Bahkan juga sudah tembus luar Pulau, seperti Bali, Banjarmasin dan Balikpapan.
Untuk harga sendiri sangat terjangkau. Dompet antara Rp 25 ribu  -  Rp  75 ribu. Tas Rp 150 ribu – Rp 400 ribu. Sepatu Rp 150 ribu  - Rp 200 ribu dan ikat pinggang Rp 80 ribu – Rp 100 ribu.
‘’Produk kami memiliki ciri khas sendiri. Yaitu selalu berganti model setiap tiga bulan sekali. Dari bahan yang baik serta kwalitasnya yang rapi,’’ tuturnya. (agung priyo)
comments

This content has been locked. You can no longer post any comment.