Sutera Emas, Program untuk Kesehatan yang Sudah Mendunia

PRESTASI: dr Hadi Puspita dengan beberapa penghargaan di dunia kedokteran yang dia dapatkan.

Dikenalkan di Puskesmas Kepanjen, Diapresiasi USAID dan WHO
Sejak 2004, dr Hadi Puspita, bersama dua rekannya, merintis sebuah program sederhana. Program Sutera Emas. Program tersebut singkatan dari Surveilans Epidemiologi Terpadu Berbasis Masyarakat. Berkat pemikirannya, Kabupaten Malang kini bisa menjadi daerah percontohan untuk wilayah lain di Indonesia dalam hal teknik penanganan kesehatan. Hebatnya, kini tidak hanya berkembang di Indonesia, sebab Sutera Emas telah diadopsi hingga keluar negeri.

Dokter berusia 49 tahun ini, cukup ramah begitu ditemui Malang Post, meskipun baru saja mengikuti kegiatan kepramukaan yang dia gemari. Dia menceritakan banyak hal mengenai kelebihan Sutera Emas.
‘’Melalui program ini, bertujuan mengurangi resiko kematian ibu dan bayi. Selain itu, mengetahui gizi masyarakat, pencegahan serta pengendalian penyakit menular lebih cepat terdeteksi,’’ awalnya bercerita.
Hadi mengungkapkan, program tersebut dikembangkan pertama kali di Puskesmas Kepanjen, tempat dia mengabdikan diri. Ternyata hasilnya positif. Kemudian terus dikembangkan di puskesmas lain di Kabupaten Malang.
Selanjutnya, program tersebut diadopsi oleh Kementerian Kesehatan RI, sebagai program kesehatan nasional. Termasuk beberapa lembaga kesehatan dari luar negeri.
‘’Selain di Indonesia, Sutera Emas telah diadopsi oleh negara-negara di Afrika. Diantaranya Kenya dan Nigeria, yang sangat buruk mengenai kesehatan masyarakatnya, serta penanganan yang diberikan. Sementara untuk Malaysia dan Singapura, saya sudah pernah mempresentasikan Sutera Emas di sana,’’ ungkapnya.
Dia mengakui, tidak mengetahui secara pasti, mengapa program yang dia temukan bersama Rianto sebagai nutrisionist, dan Sri Lesmono Hadi, sebagai programmer ini, bisa tersebar hingga luar negeri.
Dia hanya mengetahui, program tersebut menjadi proyek kerjasama pemerintah dengan USAID (United States Agency for International Development), karena keberhasilan dalam mengurangi angka kematian dan resiko penyakit lebih cepat teratasi.
Selain itu, World Health Organization (WHO) juga telah meminta kepada pemerintah Indonesia, untuk turut mengadopsi program tersebut, kemudian di kembangkan di beberapa negara lain. Paling baru, WHO hendak menggunakan program serupa di India.
‘’Sudah diminta untuk mempresentasikan di India. Namun masih menunggu waktu yang tepat, karena saat ini juga masih terus mensosialisasikan kepada puskesmas dan lembaga kesehatan di Indonesia melalui seminar,’’ tegas pria yang pandai bermain musik ini.
Menurutnya, paling cepat November nanti, akan berangkat ke Kalkuta India, dan menyusul kemudian ke Amerika. Di Amerika, dia diharapkan memberikan presentasi di John Hawkins University.  Saat ini, dua negara tersebut tengah menunggu kedatangannya.
Selain memperkenalkan program Sutera Emas, Hadi pun harus terlebih dahulu melihat keadaan di negara tersebut. Apakah sesuai dengan program yang tergolong sukses di Indonesia ini.
Secara detail Hadi menjelaskan, teknologi pelaporan kasus kejadian luar biasa (KLB) dan serangan penyakit, bisa lewat pesan singkat (SMS).
Semua itu dapat dilakukan dengan melibatkan kader kesehatan yang tersebar di tingkat RT dan RW. Untuk mendukung akurasi data, peran tokoh masyarakat juga penting dalam membuat peta desa secara detail hingga mencakup RT/RW.
‘’Sutera Emas itu filosofinya sederhana, tapi sangat membantu masyarakat. Penanganan kesehatan masyarakat harus dilakukan sejak dini dengan menemukan kasus penyakitnya, selanjutnya dilaporkan agar mendapatkan data akurat penderita, alamat, dan tempat tinggalnya. Setelah itu, aksi pengobatan cepat sehingga penderita selamat,’’ tegas bapak tiga putri ini.
Di samping prestasinya menciptakan metode penanganan kesehatan yang telah menembus luar negeri, ternyata dia memiliki banyak penghargaan yang merupakan kebanggaan dalam kariernya sebagai dokter.
Pada tahun 2006, dia dianugerahi sebagai dokter teladan nasional. Tahun 2008, pada peringatan seabad Kebangkitan Nasional sesuai dengan rekomendasi Ikatan Dokter Indonesia, dia mewakili dokter-dokter di Malang untuk diseleksi menjadi dokter terpuji nasional.
‘’Penganuegrahan pertama dari Indonesian Caring Fusion, dan menjadi 12 terbaik. Dan mengalahkan salah satu dokter yang juga mantan menteri,’’ beber pria yang masih saudara dengan Yuni Shara ini.
Prestasi selanjutnya, pada tahun 2009 melalui majalah Campus Asia dia dianugrahi sebagai newcomer peneliti, juga berkat program Sutera Emas tersebut.
Sebelum mengakhiri cerita, pria yang juga menyukai aktivitas kepramukaan ini menyampaikan hal penting mengenai masalah kesehatan di Indonesia.
Sebagai seorang dokter, Hadi melihat Indonesia sedang menghadapi berbagai masalah kesehatan yang luas dan kompleks. Sebut saja gizi buruk, penyakit menular dan tidak menular, kanker, serta kasus malapraktik.
‘’Semua itu harus dirubah di Indonesia. Terutama tentang tenaga kesehatan, tujuannya harus benar-benar mengabdikan diri kepada masyarakat, jangan mencari keuntungan karena ingin mengembalikan modal selama masa pendidikan,’’ pungkas lulusan Universitas Udayana Bali ini. (Stenly Rehardson)