Nyaris Tak Bisa Dilantik, Minta Dipanggil Abah, Bukan Pak Wali

Setelah 10 tahun dipimpin duet Peni Suparto-Bambang Priyo Utomo, terhitung mulai kemarin warga Kota Malang sudah punya pasangan nakhoda baru. Pasca memenangi Pilwali, Mei lalu, pasangan H Mochamad Anton dan Sutiaji (AJI), akhirnya dilantik sebagai N1 dan N2 (sebutan wali kota dan wawali Malang). Ironisnya, Anton nyaris tidak bisa menghadiri momen bersejarah dalam hidupnya itu. Lho kok!

DUA sedan Toyota Camry hitam, melesat memecah suasana teduh di halaman depan Kantor Redaksi Malang Post, sore kemarin. Tampak mobil patroli Dinas Perhubungan (Dishub) dan Satpol PP mengekor di belakangnya, kemudian menepi. Tak lama berselang, dua sosok pria berseragam safari putih keluar dari mobil mewah berplat merah tersebut.
Hening yang sedari tadi menyingkap kantor Korane Arek Malang pun langsung pecah tersulut riuh. Melihat dua sosok yang sudah tak asing lagi itu, para karyawan langsung berhamburan keluar untuk bersalaman.
‘’Selamat datang di rumah kami, Pak Wali dan Pak Wawali. Selamat atas pelantikannya,’’ ujar General Manager Malang Post, H Sudarno menyambut dua tamu istimewa sore itu.
Gurat lelah tak lagi bisa ditutupi. Tapi dua sosok istimewa yang tak lain adalah Anton dan Sutiaji, tetap membalas sambutan itu dengan semangat yang tak kalah hangat.
‘’Jangan panggil saya Pak Wali. Saya lebih suka dipanggil Abah saja, kesannya lebih akrab. Saya tidak ingin ada sekat-sekat,’’ ujar Anton dengan sumringah.
Hal senada juga ditekankan tokoh Tionghoa muslim itu, saat memimpin rapat koordinasi dengan seluruh SKPD di ruang sidang Balaikota, beberapa menit sebelumnya.
‘’Begitu selesai rapat, kami langsung ke sini. Jadi, Malang Post adalah lokasi pertama yang kami kunjungi setelah resmi menjabat wali kota dan wawali,’’ serunya disambut ger-geran karyawan Malang Post.
Namun, siapa sangka, bila sebenarnya Anton nyaris saja tidak dapat menghadiri seremonial pelantikan dirinya bersama Sutiaji. Kurang dari tujuh jam sebelum dilantik Gubernur Jatim, Soekarwo di Ruang Paripurna DPRD Kota Malang, pria kelahiran 31 Desember 1965 itu masih tergolek lemas di peraduan.
Pasca melakoni operasi kecil di Malaysia, beberapa waktu lalu, kondisi kesehatannya masih labil. Bendahara NWC NU Lowokwaru tersebut bahkan ragu bisa datang ke momen bersejarahnya sendiri.
‘’Saya berpikir, bagaimana ini mau pelantikan, tapi saya masih lemas. Rasanya sakit sekali. Saya baru bisa tidur pukul 01.00 dini hari. Takut mengecewakan masyarakat yang sudah menunggu momen ini,’’ paparnya dengan mimik lesu.
Tak  dinyana, kondisinya berangsur membaik saat terbangun. ‘’Saat subuh saya bangun, sakitnya sudah tidak terasa. Jadi langsung mandi dan siap-siap. Bahkan sampai sekarang (kemarin sore di ruang rapat Malang Post, Red.), saya masih kuat. Rasanya ini adalah hidayah Allah,’’ tandasnya ceria.
Dengan semangat menggebu, ayah dari Lely An Sisca, Yan Hidayat dan Hans Candra Wijaya itu, langsung memaparkan berbagai program yang telah disusunnya bersama sang partner.
Diantara program-program pro rakyat itu adalah bedah 1000 rumah tak layak huni di seantero Kota Malang dan pendidikan gratis untuk SD-SMP.
Suami dari Hj Dewi Farida Suryani itu juga mengoarkan wacana penataan pedagang kaki lima (PKL). Konsepnya, PKL akan dijadikan salah satu magnet wisatawan yang berkunjung ke Kota Pendidikan ini.
‘’Jadi akan dibuat seperti food court. Sama sekali hilang kesan kumuh. Nantinya, wisatawan pasti tertarik. Ini yang akan menunjang kemajuan Kota Malang di berbagai sektor,’’ urainya saat ditemui H Sudarno beserta Pemimpin Redaksi Malang Post, Sunavip Ra Indrata dan sejumlah staf.
Sutiaji yang duduk di sampingnya menambahkan, bahwa program ini bakal digeber tanpa mengandalkan dana APBD. Semua direalisasikan sebagai wujud bakti kepada masyarakat.
‘’Tidak akan pakai APBD. Ini murni untuk CSR (corporate social responsibility). Selagi kita punya link, harus dimanfaatkan dengan baik,’’ jawab wawali yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua FPKB DPRD Kota Malang itu.
Tak hanya itu, pasangan AJI juga menjanjikan kawasan Jalan Ijen sebagai area wisata budaya. ‘Kesakralan’ Jalan Ijen sebagai kawasan cagar budaya, akan dipertahankan.
Nantinya, ada Perda khusus yang mengatur kebersihan dan keindahan Ijen Boulevard. Termasuk mencegah menjamurnya bisnis ritel waralaba di sana.
Inisiatif lain yang tak kalah inovatif adalah menjadikan kawasan sekitar Stasiun Kota Baru, menjadi Kampung Arema. Menilik lokasi yang strategis di pusat kota dan dekat dengan sejumlah tempat ikonik berbau Singo Edan. Seperti Kantor Malang Post dan Kantor Manajemen Arema serta sejumlah toko merchandise di Klojen.
Sutiaji menganggap, ide ini bakal prospektif dan diapresiasi positif. ‘’Sepertinya pas sekali ya kalau di sekitaran sini jadi Kampung Arema,’’ imbuh politisi kelahiran 13 Mei 1964 itu.
Bukan itu saja, Abah Anton dan Sutiaji juga sempat foto ‘resmi’ pertama setelah dilantik menjadi N1 dan N2, di studio foto milik Malang Post. Layaknya foto resmi dengan uniform putih ciri khas pimpinan daerah, mereka juga harus mau ‘diatur’ oleh fotografer Malang Post.
‘’Abah harus tetap tampil bagus difoto. Sebaiknya harus dipasang lagi dasinya,’’ ujar Mahmudi, Redaktur Malang Post, sembari memasangkan dasi ke kerah baju Abah Anton.  (tommy yuda pamungkas)