100 Ribu Porsi Makan Gratis Ludes Diserbu Warga

PESTA rakyat betul-betul jadi pestanya rakyat. Ratusan ribu orang makan gratis sesuai menu yang disukai. Mereka juga leluasa memilih hiburan religius hingga seni budaya  di 15 panggung kecil dan satu panggung utama. Itulah semaraknya Pesta Rakyat menyambut pemimpin baru Kota Malang, H Moch Anton-Sutiaji.


Ratusan gerobak makanan dan minuman berjejer di Bundaran Tugu hingga Jalan Kertanegara sepanjang hari  Sabtu kemarin. Warga menyerbu gerobak makanan  yang diparkir berjejer itu. Usai makan, bebas meninggalkan tempat tanpa harus membuka dompet.
“Senang. Ini baru namanya pesta. Gak ngeluarin uang blas. Gratis, tis, tis….” ucap Choirul usai menikmati bakso di depan gedung dewan. Warga Jodipan ini tidak datang sendirian. Ia mengajak istri dan dua anaknya.
Choirul tidak sendrian. Ratusan ribu  warga lainnya pun menikmati hal yang sama. “Selamat memimpin Abah Anton. Kami kebagian makan gratisnya,” kata Misdi, warga lainnya.
Makan gratis merupakan bagian dari Pesta Rakyat.  Makan dan minum gratis sudah disiapkan sejak kemarin siang dan malam. Minggu siang ini, ditempat yang sama juga masih disediakan makan gratis.
Sebelumnya, Jumat  malam n juga sudah berlangsung istiqosah di Bundaran Tugu. Ini merupakan rangkaian penyambutan Abah Anton dan Sutiaji yang baru dilantik pada Jumat (13/9) kemarin. Khusus Minggu siang ini, selain makan gratis juga akan digelar acaara penyerahan program 1.000 rumah yang dilakukan duet Abah Anton-Sutiaji. Rencananya digelar jam 09.00 WIB.
Pimpinan  ORBIT Organizer sebagai penyelenggara acara, Ot Soewarto menjelaskan,  Pesta Rakyat menyediakan 100 ribu porsi makanan dengan menu yang beragam. Mulai dari tahu campur, soto, nasi goreng, bakso, gado-gado hingga berbagai jenis makanan lainnya. Sedangkan minuman yang disediakan diantaranya es campur, pisang ijo, beras kencur  hingga berbagai minuman kemasan. Acara makan gratis dibagi dalam dua sesi. Setiap sesi mengerahkan 300 rombong milik pedagang makanan.  “Disinilah masyarakat menikmati kebersamaan. Ini juga menggambarkan Abah Anton dan Pak Sutiaji sebagai pemimpin yang peduli wong cilik,” ujarnya kepada Malang Post.
Menggelar makan massal tentu mengundang pertanyaan berapa besar biaya yang dikeluarkan. “Disini tidak bicara rupiah. Ini murni partisipasi,” kata Soewarto. Ia  tak bisa memastikan berapa biayanya. Karena banyak pihak yang ikut berpartisipasi. Misalnya kalangan perbankan, PHRI, UKM, Koperasi memobilisasi usaha makanan yang dimiliki. Pemkot Malang juga mengerahkan UKM yang selama ini dibina. Soewarto lalu mencontohkan, saat makan gratis berlangsung kemarin, seorang pengusaha mengirim 1.000 porsi mi. Ada pula yang mengirim 1.000 kotak makanan. Ada juga kiriman 4.500 kaleng sebuah produk minuman.
Usai makan dan minum gratis, warga masih dimanjakan oleh berbagai hiburan. Tadi malam misalnya, Kakang Kawah tampil di panggung. Ada juga musik sholawat tampil di panggung utama. Dangdut tuna netra dan musik perkusi juga ditampilkan.  
Panitia menyediakan 15 panggung kecil lain yang tersebar di sekitar Bundaran Tugu dan Jalan Kertanegara dengan penampilan berbagai jenis musik. Sedangkan di enam welcome stage di pintu masuk menuju balai kota  terdapat penampilan musik perkusi. “Tersedia juga penampilan pantomin dan 20 manusia patung,” ujarnya.  
Penyelenggara tak setengah hati menyenangkan publik. Panggung utama berukuran 12x 8 meter memanjakan penonton. Sedangkan panggung kecil lainnya berukuran antara  4 x 6 meter dan 12 x 6 meter.
Sedangkan sound sytem dan lighting juga menjadi perhatian utama penyelenggara. Sound system yang dikerahkan berkekuatan 100 ribu watt. Sedangkan kekuatan lighting mencapai 60 ribu watt.
Gema pesta rakyat tidak hanya dirasakan di Bundaran Tugu dan Jalan Kertanegara. Di jalan protokol juga terasa suasananya. Ini karena kemarin sejumlah mobil tua konvoi keliling kota. (vandri van battu)