Angkat IKM, Wujudkan ‘Harajuku’ Kayoetangan (1)

UKLAM UKLAM Kayoetangan. Branding fashion ini sebentar lagi bakal diwujudkan Pemprov Jatim dan Pemkot Malang di Jl. Basuki Rachmad, Malang. Berikut catatan Hary Santoso, wartawan MALANGPOST terkait persiapan yang dilakukan Pemprov Jatim dan Pemkot Malang.

Ide menciptakan Uklam-uklam Kayoetangan, awal mulanya muncul dari kunjungan Hadi Prasetyo, Asisten Pemprov Jatim ke Tokyo, Jepang, pekan lalu. Setelah stand pameran Indonesia tutup karena sudah malam, Pras - begitu biasa disapa - menyempatkan diri mengunjungi fashion street terkenal di daerah Harajuku. Sebuah daerah sekitar stasiun kereta api Harajuku. Badan jalan Harajuku tidak terlalu panjang hanya sekitar 300 meter saja.
‘’Tetapi, manusia dari berbagai negara yang berkumpul di sini sangat banyak. Tidak hanya warga Jepang, khususnya Tokyo, tapi wisatawan pun tumplek blek di sini,’’ ujar Pras, yang asli Turen, Malang ini.
Sekilas, kawasan Harajuku malam, tidak jauh berbeda dengan Kya-Kya ala Kembang Jepun, Surabaya. Tetapi, karena fashion menjadi daya tarik cukup kuat di Harajuku, menjadikan kawasan ini mampu menjadi mesin devisa negara.
‘’Tidak ada yang mahal. Tapi, karena suasana dan produk yang ditawarkan khas Jepang menjadikan Harajuku jujugan wisatawan mana pun untuk mampir ke sana,’’ tuturnya bersemangat.
Selain aneka mode pakaian Jepang dengan corak warna-warna dan berani, di Harajuku ditawarkan pula aneka asesoris ala Jepang. Gantungan kunci model shuriken (senjata rahasia Ninja seperti bintang), gelang tangan ala Ninja sampai korek api Zippo yang atasnya dihias tulisan Kanji serta manik-manik khas Jepang.
‘’Ini harganya tidak terlalu mahal. Paling mahal asesoris di Harajuku Rp 100 ribu. Gantungan kunci ini hanya Rp 40 ribu. Tapi larisnya minta ampun,’’ ujar Pras, sembari menunjukkan gantungan kunci shuriken.
Kekhasan lain, Harajuku fashion street sengaja diciptakan untuk mangkal kalangan muda pamer pakaian. Mereka tampil dengan aneka gaya, bentuk pakaian dan asesorisnya. ‘’Mereka di situ hanya nampang saja. Mereka ingin menunjukkan, kalau tampilannya menarik dan modis,’’ katanya.
Berangkat dari situasi dan kondisi di Harajuku itulah, saat itu Pras langsung diskusi dengan Achmad Basuki (Kabag Badan Penanaman Modal Jatim) untuk memboyong Harajuku ke Jatim. Pilihan pertama akan diwujudkan di Malang. Pilihan kedua akan diwujudkan di Surabaya.
‘’Tapi dibanding Surabaya, Malang lebih pas. Karena industri fashion di Malang tidak kalah dengan Bandung. Selain itu, Malang punya banyak produk ciri khas sendiri ala Aremania. Makanya, malam itu juga saya langsung telpon Hadi Santoso (Kadisperindag Pemkot Malang),’’ paparnya bersemangat.
Dari sekian banyak kawasan di Malang, Kayutangan dianggap paling pas disulap jadi Harajuku-nya Malang. Dua sisi badan jalan, Kayutangan sisi barat sangat pas dijadikan Harajuku. Karena akses Kayutangan adalah jalan protokol, mungkin tidak perlu setiap hari.
‘’Misalnya, Jumat malam, Sabtu malam dan Minggu malam. Di situ ayo kita tampilkan penuh ke khasan Aremania. Kekhasan bumi Malang. Saya yakin, wisatawan berbagai daerah pasti akan turun ke Malang. Kalau tidurnya di kota Batu, pasti belanja dan makannya di Malang,’’ ungkapnya.
Agar konsep penanganan ekonomi riil sektor UMKM ini segera terwujud, Pemprov Jatim tidak hanya ‘bermodal’ kebijakan. Sebaliknya, Pemprov Jatim akan minta Bank UMKM untuk mem-back up penuh rencana ini. Sehingga modal tidak menjadi handicap setiap ada ide brilian.
‘’Beri mereka fasilitas tenda yang khas dan bersih. Kalau bisnis mereka lancar dan butuh modal, baru berhubungan dengan Bank UMKM. Ini nama sinergi. Pemerintah memfasilitasi, UKM bergerak dan permodalan bukan masalah,’’ katanya.
Sekarang ini, produk UMKM Harajuku sudah mendunia. Mereka yang tidak bisa mengunjungi bisa membeli aneka asesoris, sepatu, jaket dan produk lainnya melalui internet. Sebab, UMKM yang hidup di Harajuku semua memiliki website.
Masyarakat Indonesia yang membeli produk fashion street Harajuku terbukti cukup banyak. Dari Jepang, barang dipesan dikirim melalui salah satu cewek asal Jakarta yang pernah ke Harajuku.
‘’Bayangkan kalau Harajuku Kayoetangan jalan dan berkembang. Pasti ada yang lain lagi di Malang. Pasti tidak hanya sekedar jalan-jalan biasa di Malang. Dan pasti, ekonomi rakyat ikut terkoreksi,’’ pungkasnya. (bersambung)