Angkat IKM, Wujudkan Uklam-uklam ‘Harajuku’ Kayoetangan

KEINGINAN  Pemprov Jatim membuat Harajuku fashion street di Malang, diiyakan Pemkot Malang. Begitu juga  terkait jatuhnya pilihan harus di Jl. Basuki Rahmad. Berikut catatan Hary Santoso, wartawan MALANGPOST terkait persiapan Pemkot Malang.

‘’Konsep sudah saya siapkan. Usai pelantikan pak walikota, saya akan minta persetujuan beliaunya,’’ sambut Hadi Santoso, Kadis Perindustrian & Perdagangan Pemkot Malang, yang akrab dengan panggilan Soni.
Soni, yang juga adik kandung Hadi Prasetyo ini, lalu mengurai jelas potensi Industri Kecil Menengah (IKM) yang akan diboyong di Uklam-uklam Kayoetangan. Sedikitnya ada 89 IKM dengan aneka produk kerajinan dan layak masuk Harajuku Kayutangan.
‘’Malam itu, begitu ditelpon mas Pras dari Tokyo, esok hari, konsep langsug saya siapkan. Seluruh kekuatan IKM juga saya siapkan. Tinggal running saja,’’ kata Soni dengan menyebut, Pemkot Malang sangat terbantu dengan model penanganan UKM konsep Pemprov Jatim ini.
Disperindag sebenarnya juga sangat berkeinginan mewujudkan konsep ala Harajuku Tokyo ini di Kayutangan. Tetapi, karena anggaran pengadaan tenda untuk IKM memajang produknya terbatas, rencana itupun tidak pernah terkonsep secara mendalam.
Sekarang, ujar Soni, masuknya sinergi Bank UMKM Jatim sebagai peyedia tenda otomatis sangat membantu sekali. Dan bukan tidak mungkin opsi pemasangan tenda yang didominasi Bank UMKM, di masa mendatang akan menjadi rebutan produk lain.
‘’Terus terang anggaran untuk pengadaan tenda cukup besar. Lha, kami ini, tidak ada pos untuk pembelian tenda. Makanya, kalau Bank UMKM menyediakan maka ke depan kalau ada produk lain ingin masuk, biar berurusan dengan Bank UMKM. Karena perintisnya dia,’’ ucap Soni.
Pada malam hari, Jalan Basuki Rahmad memang tidak begitu padat. Lepas jam kerja, kisaran 18.00 ke atas kendaraan melintas bisa dihitung dengan jari. Karena itu, Disperindag akan berkoordinasi dengan instansi terkait, utamanya kepolisian agar sisi barat Basuki Rahmad bisa disulap menjadi Harajuku Kayoetangan.
‘’Teknisnya, dari bawah jembatan depan Telkom sampai depan Bank BNI, perempatan kita tutup. Sepanjang jalan itu kita dirikan tenda dengan bentuk khusu dan khas model Bumi Arema untuk para IKM memasarkan dan memperkenalkan produknya,’’ paparnya.
Sambutan Disperindag atas ajakan Pemprov Jatim, bukan tanpa landasan kuat. Sebaliknya, dari catatan Soni terbuktikan putaran uang masyarakat Malang untuk kebutuhan konsumtif mencapai Rp 1,5 triliun perbulan.
‘’Putaran ini bisa saja menurun, kalau tidak ada produk baru atau hal baru yang muncul di Malang. Karena itu, tidak ada salahnya kita wujudkan ide ini. Bandung saja bisa, kenapa kita tidak,’’ kata Soni dengan menyingkap perjalanan sukses kawasan Jln Braga, Bandung.
Di sisi lain, pola hidup dan gaya hidup kalangan muda di Malang pun sekarang sudah sangat majemuk. Artinya, untuk menjaga brand image dirinya sendiri mereka harus tampil modis dan fashionable.  
‘’Tidak hanya anak muda Malang Raya saja. Mahasiswa dari berbagai penjuru di Indonesia yang menempuh pendidikan di Malang, juga potensi sebagai pasar fashion. Sangat eman kalau potensi ini tidak dimanfaatkan maksimal,’’ kata Soni, yang mantan Kadispora Pemkot Malang.
Sebagai bukti kekuatan IKM-nya, tahap awal , Soni memboyong mereka ke Pesta Rakyat dan Pesta Seni di Lapangan Rampal dalam rangka HUT Jatim, 23-27 Oktober. Sedang dalam skala kecil, Soni akan menempatkan beberapa perajin, khususnya keramik khas Dinoyo tampil setiap hari di hotel-hotel di Malang.
‘’Tamu yang menginap di hotel di Malang bisa membuat aneka asesoris keramik buatannya sendiri. Selama ini mereka hanya mengenal keramik Malang, tapi tidak tahu bagaimana membuatnya. Nah, di hotel itu kami beri kesempatan mengenal lebih jauh,’’ ungkapnya.
Sebagai tambahan, Soni mengungkapkan, produk para perajin IKM tidak monoton dan tradisional banget. Karena, pola pikir dan ketrampilan mereka telah dibantu mahasiswa Universitas Ma Chung, Malang. Hasilnya, polesan perajin IKM yang tersentuh ‘teknologi’ Ma Chung kualitasnya jauh lebih bagus.
‘’Konsep ini sama-sama menguntungkan Mahasiswa Ma Chung bisa menerapkan ilmu teorinya. Dan pengrajin produknya lebih bervariasi karena masukan ilmu dari mahasiswa akademisi,’’ pungkasnya. (hary santoso)