Eko Cahyono, Sebulan Empat Penghargaan untuk Perpustakaan Swasta

Sosoknya biasa. Tapi karyanya bagi kemajuan pendidikan di Malang Raya dan Indonesia, sangat luar biasa. Berkat konsistensiya sejak 1998 lalu, yang menyirami dahaga membaca ribuan orang di dalam dan luar kampungnya secara gratis, Eko Cahyono berhasil menyabet beberapa penghargaan kelas nasional. Berikut kisah suksesnya.

Rona wajah pria yang saat ini berusia 33 tahun, pendiri sekaligus pengelola Perpustakaan Anak Bangsa terletak di Jalan Ahmad Yani Desa Sukopuro Kecamatan Jabung, tampak sumringah, ketika Malang Post mengunjunginya.
Hal itu wajar saja terjadi. Laki-laki yang masih melajang ini, adalah sosok yang memang dikenal ramah dan rendah hati. Selain itu, bebannya sekarang semakin ringan.
Kondisi ini tentunya jauh berbeda ketimbang empat tahun silam. Sekedar mengingatkan, pada tahun 2009 lalu, pria yang hanya lulusan SLTA ini, dalam kondisi penuh keprihatinan. Untuk mempertahankan perpustakaan miliknya dari ancaman penggusuran, Eko Cahyono, hampir saja menjual ginjalnya.
Namun, berkat perjuangan tanpa mengenal lelah, akhirnya dia berhasil mempertahankan perpustakaan rintisannya. Hal itu seiring, beberapa prestasi yang acap kali dia raih.
‘’Kondisi perpustakaan saya saat ini, lebih baik. Bangunan sudah permanen dan koleksi buku semakin bertambah banyak,’’ ujar Eko Cahyono kepada Malang Post.
Berkat konsistensinya memberikan bacaan gratis kepada warga Kabupaten Malang, mengantarkannya menyabet beberapa penghargaan nasional. Bahkan hanya dalam waktu satu bulan, dia mendapatkan empat penghargaan nasional berturut-turut. Tepatnya, momen yang tidak bisa dia lupakan itu, terjadi pada November 2012.
Penghargaan pertamanya, datang dari Kedutaan Besar Turki melalui Pasiad Award 2012. Kemudian, dilanjutkan penghargaan Indonesia Award 2012. Penghargaan ketiga yang sukses ia sabet, yakni Swara Negeriku Award. MNC TV Pahlawan Indonesia, menjadi penghargaan terakhir yang diraih. Semua penghargaan itu, atas kegigihannya mengelola perpustkaan gratis.
‘’Seluruh penghargaan yang saya raih, adalah kategori pendidikan. Sesuai dengan basic perpustakaan yang saya dirikan, untuk mencerdaskan masyarakat,’’ terangnya.
Yang menarik, seluruh penghargaan yang diterima, Cahyono tidak pernah mengajukan diri atau mendaftarkan diri. Tapi ada beberapa pihak luar yang mengikutkannya.
Kemudian setelah didaftarkan, pihak penyelenggara langsung mensurvei, melakukan verifikasi dan penilaian. Semua itu, tanpa dia duga. Apalagi sampai mempersiapkan diri.
‘’Tiba-tiba, tempat saya didatangi tim juri. Tentunya saya tidak bisa menolak. Namun, saya bersyukur dapat mengikuti berbagai ajang tersebut dan mengucapkan terimakasih kepada pihak yang telah mendaftarkan perpustakaan saya,’’ ucapnya.
Dikarenakan sudah meraih penghargaan dalam empat ajang tersebut, otomatis membuatnya kembali masuk nominasi. Saat ini, pria lulusan SMAN 1 Tumpang ini, mempersiapkan diri untuk dapat meraih kembali penghargaan-pemghargaan bergengsi lainnya.
Namun, di tengah persiapan mendapatkan penghargaan lainnya, ada yang mengganggu pikirannya. Yakni, masih kurangnya perhatian pemerintah untuk memberikan bantuan kepada beberapa perpustakaan swasta seperti miliknya.
Padahal, dia mengatakan, jumlah perpustakaan swasta tersebut, sangat banyak di Kabupaten Malang. Kiprah mereka sangat penting untuk mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa ini yang kelak menjadi penerus.
‘’Kami tidak mengharapkan bantuan yang muluk-muluk, berupa uang tunai maupun fasilitas mentereng lainnya. Melainkan, dipermudahlah pengurusan untuk membuka perpustakaan. Jangan ditarik dana yang banyak, maupun persyaratan yang ribet. Karena membuat perpustakaan ini, bukan bertujuan untuk komersil,’’ keluhnya.
Keluhan itu terpaksa dia sampaikan, karena Eko mempunyai pengalaman pahit. Ditarik pajak reklame sebesar Rp 6 juta, hanya karena memasang nama papan Perpustakaan Anak Bangsa di tempatnya.
Selain itu, dia juga miris ketika banyak pejbata-pejabat yang datang ke tempatnya, namun hanya sekadar foto-foto, kemudian dipublikasikan ke media massa. Tanpa memperdulikan kondisi perpustakaanya, yang masih membutuhkan banyak perbaikan dan penambahan fasilitas.
‘’Mereka biasanya hanya menjanjikan. Tapi tidak pernah satupun menepatinya. Tapi, itu sudah biasa bagi saya. Toh masih ada pihak-pihak swasta yang peduli terhadap nasib perpustakaan ini,’’ cetusnya.
Bila fakta yang terjadi memang seperti itu, sudah seharusnya pemerintah lebih memperhatikan lagi nasib beberapa perpustakaan swasta yang ada di Kabupaten Malang.
Karena buku, merupakan jendela dunia bagi anak-anak calon penerus bangsa. Bila pemerintah lebih memperhatikan nasib perpustakaan-perpustakaan tersebut, berarti turut mengantarkan program pencerdasan bangsa. Terutama untuk anak-anak, calon pemimpin bangsa. (binar gumilang)