Pendekar Gunung Ukir Pamer Kedigdayaan di Korea Selatan

Indonesia, justru jadi bintang kesenian bela diri, saat tampil di Korea Selatan. Sedangkan di negara sendiri, justru Boy Band Korsel sangat digandrungi kalangan masyarakat. Dua pendekar dari Gunung Ukir Kota Batu, membuktikan hal itu. Mereka jadi bintang di Korea.

Tepat pukul 16.00, Sabtu (14/9) lalu, para pendekar dari Padepokan Gunung Ukir, tiba di tanah kelahirannya, Desa Torongrejo Kecamatan Junrejo Kota Batu. Disambut dengan tarian reog, serta jaranan oleh warga sekitar, mereka di arak dari balaidesa Torongrejo hingga Padepokan Gunung Ukir, setelah pulang dengan membawa prestasi yang membanggakan dan mampu mengharumkan nama baik Negeri.
Tampak rasa lelah, letih dan ngantuk yang tersisa dari raut wajah sosok dua laki-laki. Ki Iswandi dan Agus Mardianto, ketika Malang Post tiba dirumahnya, mencoba meminta waktu bercerita hasil penampilannya di Chungju World Martial Arts Festival, Korea Selatan.
Meski kurang lebih 10 hari, mereka berada di negeri orang, tidak lantas membuat para pendekar dari Padepokan Gunung Ukir Kota Batu itu, lupa akan kampung halamannya.
‘’Ternyata 10 hari meninggalkan tanah kelahiran, membuat kami kangen rumah Tapi selama di Korsel, kami bisa mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman,’’ kata Agus yang tak lain merupakan anak dari Ki Iswandi, Pimpinan Padepokan Gunung Ukir.
Diapun bercerita, selama tampil di Korsel, kalau pun ada rasa grogi dan canggung, hanya saat tampil perdana. Apalagi di atas panggung yang sangat fantastis dan spektakuler. Disertai audio visual dan sound system yang serasa menggertak jantung.
Tampil dengan hanya lima orang, di atas panggung yang besar, para pendekar asal Kota Wisata ini pun tidak ingin mengecewakan para penonton. Dengan tiga kali perform dan satu kali training (workshop). Rincinya, festival beladiri, penampilan budaya, dan penampilan pencak silat dari segi spritual, serta dilanjut dengan training yakni langsung mengajari para peserta lainnya dan mencoba kesenian beladiri Indonesia.
Padahal sebelum tampil, mereka merasa disepelekan. Apalagi yang hadir di acara tersebut, utusan dari berbagai negara. Ada 80 negara yang ambil bagian. Tapi setelah para pendekar itu memadukan empat asa (perpaduan antara seni, bela diri, olahraga dan mental spiritual), decak kagum langsung meluncur.
‘’Memang dari tahun ke tahun, wakil Indonesia menampilkan itu-itu saja. Makanya kami padukan empat unsur ini, agar beda dari biasanya. Alhamdulillah penonton terkagum-kagum melihat penampilan kami,’’ timpal Iswandi dengan nada bangga, sambil memamerkan piagam penghargaan yang diberikan oleh Presiden UNESCO kepadanya.
Tak hayal, dalam waktu singkat, para pendekar inipun menjadi artis dadakan di Negeri Gingseng tersebut. Saat makan bersama di restoran dan kontingen Indonesia datang terakhir, tepuk tangan dan ucapan kagum dari para peserta, langsung menggema menyambut mereka.
Tak jarang banyak yang mau foto bareng dengan Iswandi dkk. ‘’ Bapak (Iswandi, Red.) langsung menjadi artis dadakan. Orang sampai ngantri mau foto bareng. Termasuk Presiden UNESCO meminta kami untuk foto bareng,’’ terangnya.
Rasa bangga dan senang, terlihat sekali saat keduanya bercerita. Iswandi yang mendapat predikat the best master spritual performance, atau biasa disebut power of strong mengakui, dia belum terlalu puas dikala anak didiknya belum bisa sepertinya. Apalagi kedepannya, prestasi yang sudah diukir ini, tidak bisa diteruskan oleh penggiat seni dan beladiri di Indonesia.
‘’Saya lebih puas jika anak didik saya, mampu seperti saya. Termasuk dapat mempertahankan torehan yang saat ini dicapai. Kalau bisa, lebih baik lagi kedepannya,’’ harapnya.
Dalam even tersebut, kontingen bela diri Indonesia, meraih predikat 10 the best performance (penyaji terbaik), The Best Culture Performance dan the best spritual performance atau biasa disebut power of strong.
Mereka masuk 10 negara dengan penyajian terbaik. Seperti Amerika, Kanada, Uzbhekistan, India, Philipina, Jepang, Korea Selatan, China dan Indonesia.
‘’Hasil ini tidak kami duga. Melebihi dari yang kami harapkan. Tapi kami mampu membawa nama Kota Batu, dikancah Intenasional. Karena Kota Batu masih asing dibenak masyarakat dunia,’’ yakin bapak dan anak yang terlihat kompak itu.
Namun bukan cuma bangga saja yang diperolehnya. Ada sekitar enam negara yang mengkritik dan memberi masukan. Mereka mengatakan, jika negara Indonesia sangat makmur, terdiri dari beribu pulau dan kesenian. Tetapi masyarakat Indonesia hanya mementingkan perutnya sendiri.
‘’Dengan bahasanya masing-masing, mereka mengatakan seperti itu. Saya sempat merah mendengar saat LO menjelaskan maksud dari omongan mereka. Tapi mereka kami anggap bukan menjelekkan Indonesia, melainkan memberi masukan bagaimana rakyat Indonesia mampu mencintai dan mengagumi budayanya sendiri,’’ urainya dengan nada tegas. (Miski Al Madurain)