Ditulari Sang Ayah, Tetap Masuk 10 Besar di Sekolah

Drummer Licek yang Piawai Bawakan Aliran Musik Jazz

Bermain musik, sudah menjadi milik semua usia. Termasuk musik jazz, yang dikenal susah dan harus bermain dengan ‘hati’. Tapi siapa menyangka, genre musik itu justru mampu dibawakan apik oleh anak-anak belia. Terutama sang drummer yang masih SD.

I can recall my desire
Every reverie is on fire
And I get a picture of
all our yesterdays
Yes, today
I can say, "I get a kick every time
They play that, 'Spain," again"

Petikan lagu Al Jarreau itu, mempertontonkan kecepatan scat singing serta skill band pengiringnya. Siapa sangka, lagu ini dibawakan band yang anggotanya anak-anak muda. Bahkan drummernya, Dias Faturohman, masih 11 tahun. Dia siswa Kelas 6 SDN Tambakasri 1 Bululawang.
Gebukan drum yang mantab, mengiringi nomor cantik dari Al Jarraeu berjudul Spain ini. Dias yang menjadi sorotan dalam aksi itu, mampu tampil sangat apik.
Tanpa melihat drummernya, telinga akan mendengar gebukan drum yang cukup lumayan. Untuk anak seumuran Dias, bakat istimewa itu sukses ditunjukkan kepada penonton di Andromeda kafe Kota Malang.
Istimewanya lagi, musik jazz ini mengalun dari band Duoble L, yang bermarkas di Jalan Klengkeng nomor 9 Tambakasri, Kabupaten Malang. Jarang sekali, bakat hebat seperti ini muncul dari Kabupaten Malang, yang jauh dari hingar bingar. Inilah suguhan jazz berkelas dari ndeso yang memukau.
Double L band, dulunya bernama Dolphin band, mereka menjadi tamu istimewa ulang tahun Sylvia Saartje di kafe itu. Anggotanya adalah vokal : Insani; Gitar : Hudi; keyboard : Sungging; bas : Faiz dan Dias sebagai drummer.
Di tengah hingar bingar musik rock di kafe itu, band ini melalui Dias berhasil merebut hati penonton dengan nomor jazz. ’’Belajarnya dari bapak saya. Ya musik jazz, rock maupun pop, saya bisa,’’ ujar Dias kepada Malang Post.
Dias adalah putra pertama dari Tusariyono alias Irung. Dulu merupakan personil dari band rock bernama Perak, era 1993-1994. Irung ini pula yang memberikan ’racun’ musik kepada sang anak.
’’Sering diajak nonton konser sama ayah saya. Pertama lihat konser Pas Band di Malang, saya masih TK waktu itu,’’ imbuhnya.
Menurut dia, selama berlatih drum, ayahnya membebaskan untuk memilih musik. Kadangkala dia berlatih lagu jazz, rock dan pop untuk mengasah skillnya. Dalam seminggu, Dias mengaku berlatih satu minggu sekali. ’’Sekolah tidak terganggu kok, bahkan saya masih masuk 10 besar,’’ tegasnya.
Sang ayah, Tusariyono mengaku sudah melihat bakat bermusik anaknya sejak kecil. Dia tidak pernah memaksakan keinginan kepada sang anak, agar bermain musik.
Hanya, Tusariyono memfasilitasi gairah bermusik sang anak, dengan mengajak menonton konser, untuk menimbulkan keinginan dan pertanyaan soal musik.
’’Sejak nonton konser musik, dia lalu minta alat musik biola, keyboard bahkan kemudian drum,’’ ujar Irung sapaan akrabnya.
Dias adalah putra pertama. Masih memiliki adik bernama Erlita berumur delapan tahun. Namun bakat musik nampaknya hanya dimiliki Dias. Versi Irung, anaknya ini sedang mencari identitas bermusik. ’’Sudah sering ikut festival, termasuk festival Metalicca. Ya sedang mencari identitas, doakan saja,’’ jelasnya.
Dias ikut festival pertama kali pada kelas 3 SD, festival sejumlah musik beraliran keras. Untuk musik jazz, dia memang penggemar berat dari Al Jarreau. Penampilannya pula, yang membuat lady rocker pertama Indonesia Sylvia Saartje terpukau.
’’Band itu lumayan bagus juga. Secara keseluruhan, permainan mereka bagus arrangement bagus, vocalis bagus, drummer keren banget,’’ aku Jipi sapaan akrab Sylvia Saartje.
Ketika band itu tampil, kata Jipi, mata orang memang langsung tertuju pada drummer yakni Dias. Anak itu adalah pusat dari pertunjukkan, dan merupakan bibit unggul generasi penerus musisi Kota Malang.
’’Malam itu aku membayangkan, kalau mereka show dan set drum nya ditaruh di depan dan sebelum band main, diberi nuansa back light lantas Dias demonstrasi drum beberapa menit baru disambung semua personil, pasti keren sekali,’’ urainya.
Jipi memberi saran, agar band itu sesekali mencampurkan unsur rock di dalam arrangement musiknya agar lebih mantab. Sebab, vokalisnya juga memiliki ciri khas, suanyanya halus tapi menyengat.
’’Kalo rekaman keren. Tidak usah liat orangnya masyarakat langsung bisa nebak siapa penyanyinya. Suaranya khas. Mereka masih belia. Harus banyak latihan dan mencari jati diri. Tetap semangat dan menggali dan terus menggali sampai saat tidak bisa menggali ilmu lagi,’’ tandas Jipi. (Bagus Ary Wicaksono)