Menghitung Peluang Bisnis Hortikultura di Lumajang (1)

KABUPATEN Lumajang memang mampu memanfaatkan hortikultura sebagai produk andalan. Benarkah proses sebelum dan pasca panen telah sesuai pasar konsumen? Berikut catatan Hary Santoso, wartawan Malang Post, dari Kampoeng Pisang Senduro, Lumajang.

Klaim besarnya angka produksi pisang mas Kirana (Garcinia Maggostana L), rasanya belum cukup jika dijadikan acuhan prestasi keberhasilan. Pun juga terbitnya Keputusan Bupati Lumajang Nomor 188.45/406/427.12/2006 tentang Pisang Mas Kirana sebagai produk andalan Lumajang.
Teknis pola tanam hingga produksi, sepenuhnya memang menjadi ‘kekuasaan’ petani. Karena merekalah tulang punggung produsen pisang mas Kirana, yang tahu persis apa yang dilakukan agar tanaman pisangnya bisa mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Putaran penjualan pisang Mas Kirana 40 Kelompok Tani (Gapoktan) sebesar Rp 1,89 Miliar per bulan melalui 10 pemasok lokal dan Jakarta, sebenarnya berpeluang dilakukan peningkatan. Artinya, produk pisang bulan berjalan harganya bisa lebih tinggi jika penanganan pasca panen benar-benar diperhatikan secara detail.
Beberapa kelemahan masih terlihat dan tidak terpikirkan oleh petani. Misalnya, saat mereka melakukan pengemasan (packaging). Di rumah pengemasan milik salah satu bank swasta nasional ini, petani hanya puas jika mampu mengemas pisang dalam jumlah banyak.
Petani hanya cukup bangga jika produksinya segera bisa dikirim ke pemasok karena pisang Mas Kirana tenggat waktu jualnya sangat terbatas, yaitu hanya 5 hari. Sebab, lebih kesegaran pisang mulai dipetik hingga 5 hari kemudian, telah mengalami perubahan atau penyusutan.
Mereka tidak memikirkan bagaimana mengelola pengemasan pisang yang hygienis dan sehat. Mereka tidak diberitahu bahwa hygienis sangat menentukan kualitas produk. Pasar ekspor, mungkin tidak akan mau membeli pisang Lumajang, jika kelemahan proses pengemasan di rumah pengemasan menjadi standard operasional seluruh petani.
Proses dan tempat pencucian pisang sebelum dikemas, seharusnya dibentuk dan dikelola secara sehat. Antara tempat pencucian dan pasca pencucian harus dipisahkan, agar kebersihan dan faktor hygienis bisa tercipta. Begitu juga pemberian label (labelling) dan pengemasan, juga dipikirkan secara hygienis.
Kesan tidak sehat sangat kuat ditunjukkan petani saat proses mengemas. Saat mencuci pisang mereka tidak menggunakan sarung tangan. Atau mereka seharusnya mencuci dulu tangannya sebelum mencuci pisang, yang akan dikemas.
Usai dicuci, pisang diletakkan dilantai. Lantai itu posisinya persis di bawah kran air tempat mencuci pisang sebelumnya. Kondisinya pun cukup kotor dan tidak sehat. Belum lagi lantai itu menjadi jalan utama keluar masuk orang-orang yang terlibat dalam rumah pengemasan.
Pemkab Lumajang mungkin sudah harus berpikir, bagaimana cara mengelola pengemasan yang hygienis. Meskipun kelihatan sepele, tetapi proses ini sangat menentukan calon importir sebelum memasukkan pisang ke negaranya. Dan mereka pasti menempaykan proses pengelolaan secara hygienis sebagai syarat ekspor ke negerinya.
Melihat besarnya putaran uang penjualan pisang Mas Kirana, barangkali tidaklah rugi jika di rumah pengemasan ini diletakkan sebuah conveyor. Pisang yang sudah dicuci secara sehat dan bersih, kemudian bisa berjalan menuju tempat labelling dan pengemasan.
Tidak hanya diproses akhir. Pada proses awal perawatan tanaman pisang pun juga masih memerlukan banyak perhatian. Kondisi kebun pisang yang biasa kotor dan kumuh, bisa dipikirkan kebersihannya. Selain indah, secara teknis kebun yang bersih akan beperngaruh terhadap kualitas tumbuhan pisang di atasnya.
Begitu pula kebutuhan air. Musim kemarau seperti sekarang akan sangat terbantuk jika kebutuhan air untuk tanaman pisang dicukupi dari tandon di sekitar kebun pisang. ‘’Air sangat menentukan pertumbuhan pohon pisang. Mestinya dekat kebun pisang ada sumber air atau tandon. Kalau musim kemarau panjang, kami tidak kesulitan,’’ papar Jais, pemilik 0,5 hektar kebun pisang Mas Kirana di Kampung Pisang Lumajang desa Senduro. (bersambung)