Menghitung Peluang Bisnis Hortikultura di Lumajang (Habis)

SALAK Pondoh Pronojiwo mampu mengubah taraf hidup ribuan petani di Kecamatan Pronojiwo menjadi kaum jutawan. Salah satunya Sugito, 72 tahun. Berikut catatan Hary Santoso, wartawan Malang Post saat mengunjungi kebun salak Sugito di Pronojiwo.

Untuk mencari Gito, panggilan akrab Sugito di Pronojiwo bukan perkara sulit. Statusnya sebagai perintis munculnya Salak Pondoh (Salacca zalacca) Pronojiwo di tahun 1990, menjadikan Gito cukup disegani dan dihormati di wilayahnya.
Bahkan, karena usahanya ini juga mampu mempertemukan dirinya dengan tiga presiden RI. Mulai Soeharto, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. ‘’Karena salak, tangan saya bisa jabatan tangan dengan tiga presiden berkuasa,’’ kenangnya bangga.
Meski menjadi jutawan, penampilan dan gaya hidup Gito tetap bersahaja. Tidak ada corak kemewahan sedikitpun menempel pada dirinya. Rumahnya diujung Jl. Malahayati IV/03, RT05/RW03 juga biasa-biasa saja. Dua mobil yang bertengger dirumahnya pun bukan mobil mewah. Satu pick up dan satu Kijang keluaran tahun 2005-an.
Padahal, penghasilan Gito dari penjualan salak miliknya, sesuai catatan bukunya, kotor mencapai Rp 286 juta per tahun. Atau rata-rata per bulan Gito mengantongi omset Rp 23,833 juta. Hasil itu dua kali lipat dibanding penjualan salak panen pertamanya tahun 2007 yang hanya Rp 143 juta per tahun.
Lahan milik Gito seluruhnya kurang lebih luasnya 3 hektar. Angka penjualan Rp 286 juta itu didapat dari panen salak jenis Salak Lumut pada lahan 2 hektar. ‘’Rata-rata per hektar hasilnya 4,8 ton. Harga jualnya Rp 6.500 per kilonya,’’ paparnya.  
Sisa lahan Gito, sekarang ini, ditanami salak pondoh jenis madu. Yaitu jenis salak yang harga jualnya ditingkat pengepul sekitar Rp 20 ribu per kilo. Setelah masuk toko-toko buah di perkotaan bisa berlipat sampai Rp 50 ribu per kilo. ‘’Bahkan mungkin lebih, kalau kualitas dan penampilannya lebih bagus,’’ ujar Gito.
Sekitar 600 pohon salak pondok Madu di belakang rumah Gito, Desember nanti, akan panen perdana. Karena potensi harga jualnya lebih tinggi, Gito berencana merintis penjualan secara langsung ke kota-kota besar. Seperti Surabaya, Jakarta, Denpasar dan Malang secara langsung. Tidak seperti salak jenis Lumut produksinya yang dijual melalui pengepul atau pedagang besar.
‘’Saya akan bikin jaringan pemasaran sendiri. Teman-teman di beberapa kota besar sudah siap menjadi tim pemasaran salak Madu. Kalau rintisan ini berhasil, tentu petani lain pasti akan saya ajak,’’ harapnya dengan membayangkan hasil penjualan panen perdana salak Madu miliknya bisa di atas hasilnya sekarang ini.
Secara teknis, Gito mengaku, sekarang ini dirinya tidak membutuhkan bantuan permodalan atau bantuan bibit dari pemerintah. Tetapi, Gito tetap berharap pemerintah bersedia membantu pengadaan bibit Salak Madu untuk petani lainnya di wilayah Pronojiwo.
Harga bibit Salak Madu dipasaran sekitar Rp 65 ribu per batang. Bibit ini hanya bisa dibeli di Magelang, Jawa Tengah. Jika Pemkab Lumajang atau Pemprov Jatim ingin Pronojiwo menjadi sentra Salak Pondoh terbesar, maka campur tangan pemerintah masih sangat dibutuhkan.
Bank-bank swasta nasional di Jatim khususnya Bank Jatim, sudah waktunya ikut andil mem-backup peluang bisnis dibalik produksi Salak Madu. Pola hidup konsumtif yang lebih banyak menjadi tumpuan penyaluran kredit perbankan, akan jauh lebih bermanfaat jika dialirkan ke sektor ini.
‘’Tidak perlu ragu lagi. Bank seperti Bank Jatim sebenarnya bisa menggarap penyaluran kredit untuk bibit Salak Madu secara besar-besaran. Pasar Salak Madu sangat siap, meski harganya per kilonya mahal,’’ harap Gito dengan menyebut tidak mungkin ada kredit macet untuk petani Salak Madu.
Saat Presiden SBY berkunjung ke Pronojiwo, 30 Juli 20013 lalu, para petani memang diberi bantuan. SBY telah mengucurkan Rp 800 juta untuk 40 Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) atau masing-masing menerima Rp 20 juta. Dan penggunaan bantuan itu murni menjadi otoritas masing-masing Gapoktan.
‘’Meski sebagai perintis, saya tidak bisa mengarahkan agar bantuan dialokasikan untuk pembelian bibit Salak Madu. Saya tetap berharap, pemerintah turun tangan memberi bantuan lunak dalam bentuk pengadaan bibit Salak Madu untuk teman-teman petani lainnya,’’ tuturnya.
Jika harapan Gito terwujud, tentu petani-petani jutawan di Pronojiwo akan lebih besar. Selain itu, Gito masih memimpikan dirinya bisa mencetak jutawan-jutawan di Pronojiwo dengan cara kerjasama, antara petani, pemerintah dan lembaga perbankan.
‘’Pesan presiden SBY ke saya agar pertanian salak terus berkembang, akan lebih cepat terwujud kalau bantuan modal bibit bisa dipenuhi,’’ pungkasnya. (***)