Coffee Break Café Asli ‘Arema’ yang Sudah Menasional

Coffee Break Café, sudah tak asing lagi bagi masyarakat di Malang. Namun siapa yang mengira, bisnis café tersebut merupakan produk asli Kota Malang, dan kini perkembangannya telah mencapai 35 gerai di seluruh Indonesia. Pencetusnya, Yudi Harianto, pengusaha muda yang tidak pernah mempunyai rasa puas dalam berbisnis, dan mengembangkan café tersebut menjadi franchise.

Dari cerita keberhasilannya tersebut, ternyata terdapat sesuatu hal terselip, yang membuat pria 30 tahun ini, bangkit dari keterpurukan. Café tersebut, dulunya hanya sebuah kedai kopi di depan salah satu swalayan yang berada di Sawojajar dan pernah terusir dari lokasi usahanya.
‘’Awalnya bernama Kedai Coffee Break. Kemudian setelah beberapa tahun, swalayan yang saya tumpangi untuk berbisnis mengalami pailit. Konsekuensinya, di tangan pemilik yang baru keberadaan Coffee Break tidak diterima dan terusir,’’ beber Yudi mengawali cerita.
Justru kejadian itum memotivasi dirinya. Bahkan kemudian takdir membuat Yudi harus mengubah konsep kedai kopi menjadi café mahasiswa, karena ternyata usahanya berpindah ke STIE Malang Kucecwara (ABM). Ada suatu keuntungan tambahan ketika usahanya pindah tempat, dia mengenal perempuan yang kini telah menjadi istrinya.
Selama tiga tahun di kampus ABM, cukup membuat Yudi mengumpulkan amunisi untuk mencari lokasi baru yang strategis demi perkembangan bisnisnya.
Ketika itu pula, Coffee Break telah dia patenkan hak mereknya dan dia berani merambah ke dunia franchise. Hasilnya, di Kota Malang ada dua peminat usaha kopi tersebut, berkembang di Soekarno Hatta dan Tidar.
Menurut dia, dalam perkembangan bisnis ini, ada yang dia lepas dengan metode franchise, bagi saham dan yang tengah trend saat ini yakni private brand.
‘’Awal perkembangan di Malang dua lokasi itu, berlanjut ke kota lain di seluruh Indonesia. Yang menggunakan metode private brand ada delapan gerai. Kemudian yang bagi saham ada beberapa, salah satunya yang berada di Sawojajar. Sementara itu untuk gerai Rajekwesi saya kelola sendiri, sekaligus menjadi pusatnya,’’ beber dia kepada Malang Post.
Sarjana Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang ini menekankan, dengan memilih private brand seperti gerai di Makassar dan Tangerang, memberikan kebebasan sang pemilik untuk mengupgrade menu sendiri.
Syaratnya, menu tersebut tidak menjatuhkan mengenai nama baik franchise. Tapi justru menambah baik penilaian masyarakat di luar kota, demi perkembangan bisnis selanjutnya, yang menurut pengakuannya kini ada sekitar delapan lokasi baru yang mengajukan untuk jadi franchiser berikutnya.
Dia pun berujar, mengenai semangatnya yang terus tumbuh untuk menjadi pengusaha sukses di usia muda. Perkataan dari salah satu dosen ketika mengambil gelar master di Universitas Brawijaya Malang sangat dia ingat.
‘’Jangan sampai tangan di bawah, tetapi usahakan selalu di atas. Apalagi, bila mempunyai kesempatan dalam hal biaya untuk sukses, untuk mempunyai usaha,’’ imbuh Yudi.
Tak pelak, kini dia harus mengawasi 650 orang yang harus dimaintanence. Baik dari Coffee Break Café maupun beberapa usaha lain. Sebab, meskipun dilepas dengan metode franchise, usaha tersebut selalu dia pantau, begitu pula mengenai pegawai.
Malahan, beberapa gerai di luar kota seperti Medan, Kendari, Papua dan Surabaya, Yudi sendiri beserta tim yang memberikan standar pegawai kemudian menyeleksi calon pegawai.
Lebih lanjut pria yang kini memiliki bisnis resto Lenong Rumpi di Jalan Kalpataru Kota Malang ini, omzet dari gerai franchisenya terhitung bagus. Kota Kendari menjadi gerai paling bagus dengan omzet tertinggi tiap bulannya.
Salah satu bukti bahwa dia selalu memperhatikan perkembangan bisnisnya, sekalipun telah menjadi milik orang lain. Dia pun menuturkan, biaya untuk memiliki franchisenya mulai dari Rp 95 juta untuk konsep kedai. Apabila full bangunan atau café, mulai dari Rp 330 juta sampai dengan Rp 465 juta.
Pemilik bebas biaya selama setahun pertama atau full untuk franchiser, sedangkan tahun berikutnya sudah harus membayar tarif sebesar 3 persen keuntungan.
Di luar bisnis ini, mulai Oktober nanti dia segera menjalankan salah satu bisnis barunya, yakni sekolah barista. ‘’Masih berhubungan pula dengan dunia café, bagaimana menjadi seorang barista yang baik. Namanya School of Barista, dan berada di Kota Malang,’’ imbuh suami Sherlyn Novitasari.
Masih ditambah pula, dengan rencana pembukaan Roti Bunch yang bakal menyediakan beraneka macam roti dan sandwich, serta resto Lenong Rumpi yang telah dibuka awal September ini.
Salah satu prinsip dari hobinya membuka lahan bisnis baru, termasuk di dunia property yang segera dia besarkan dalam waktu dekat ini yakni banyak belajar. Banyak pekerjaan masalah akan semakin rumit, namun dia berkeyakinan itu membuat usahanya naik level begitu berhasil melewatinya.
Kini, masih banyak rencana untuk perkembangan bisnis yang sudah dalam rancangannya walaupun telah memiliki sembilan merek bisnis. ‘’Tidak pernah puas untuk bekerja, karena masih ada kesempatan untuk memperoleh yang lebih baik lagi,’’ pungkas dia. (Stenly Rehardson)