Ketika Kayu dan Styrofoam Bekas Jadi Bernilai Seni Tinggi

Bagi kebanyakan orang, kayu atau styrofoam bekas, mungkin tidak ada artinya. Namun, tidak bagi Bang Wit. Di tangan pria yang memiliki nama lengkap Witnyu Bambang Dwi Cahyono ini, kayu dan styrofoam bekas, justru menjadi barang sangat berharga yang menghasilkan uang. Seperti apa?

Siang itu, cuaca cukup cerah, meski kondisi udara sangat panas. Malang Post yang datang ke sebuah gerai di Jalan Kawi Kepanjen, sampai harus mengusap keringat beberapa kali.
Di bedak yang persis di simpang tiga ini, terlihat seorang pria paruh baya, tengah sibuk membuat garis mal di atas kayu. Dia adalah Bang Wit.
Ya, bedak yang bersebelahan dengan toko pengerajin kulit, adalah tempat kerjanya. Selain untuk kerja membuat kerajinan miniatur dari bahan kayu serta styrofoam, juga difungsikan sebagai café lesehan yang berjualan kopi.
Di bedaknya ini, terlihat berbagai macam hasil karya miniatur sangat bagus yang dipajang pada etalase. Mulai dari lampu lampion, candi-candian, tugu, masjid, sepeda motor, becak, gerobak bakso hingga miniatur tower satelit.
‘’Ini semua hasil karya yang saya kerjakan sendiri. Ini hanya contoh, namun kalau ada yang berminat membeli, saya jual,’’ kata Witnyu Bambang Dwi Cahyono, menyambut kedatangan Malang Post sembari tetap memegang penggaris serta bolpoint.
Pria asli Jalan S Supriadi Gg II C Kecamatan Sukun Kota Malang yang tinggal di Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji ini, mulai menuturkan, awal usaha menjadi seorang pengerajin miniatur dari modal nekat. Itu setelah dia berhenti bekerja dari sebuah proyek pembukaan lahan di Sulawesi Tengah serta proyek pembangunan Indo Plaza di Surabaya.
‘’Saya berhenti bekerja di proyek karena dilarang kembali oleh keluarga lantaran jarang pulang. Sejak berhenti itu, lalu mencoba menjadi sopir pribadi selama beberapa tahun. Karena berpikir kok kerja selalu ikut orang, akhirnya nekat membuka usaha kerajinan miniatur dari bakat yang saya miliki sejak kecil mulai 2009,’’ jelas pria kelahiran tahun 1958 ini.
Semula, membuat kerajinan lampu lampion dengan memanfaatkan styrofoam bekas. Ide lampion dari bahan styrofoam ini, karena saat itu belum ada. Pada umumnya terbuat dari bahan kain dan kertas. ‘’Modal awal untuk usaha ini sekitar Rp 13 juta. Itu selain untuk membeli bahan, juga sewa bedak,’’ katanya.
Berbagai macam lampion pun berhasil diselesaikan yang kemudian dipajang. Ternyata banyak yang berminat membeli. Dari situlah, akhirnya Bang Wit sering mendapat pesanan miniatur dari bahan styrofoam. Bentuknya bermacam-macam. Mulai sepeda motor, becak, mobil kuno, kereta kencana serta lainnya.
Bahkan, bapak dua anak ini sempat kewalahan ketika mendapat pesanan kerajinan minatur untuk souvenir pesta ulang tahun. ‘’Selain melayani pesanan, saya juga melayani order panggilan semisal melukis di dinding atau mendesain dekor,’’ lanjut suami Nurul Qomariyah, guru di SD Negeri 06 Kebonagung, Pakisaji ini.
Setelah miniatur dari bahan styrofoam yang sukses di pasaran, sejak dua tahun lalu mencoba membuat miniatur dari bahan kayu bekas. Ternyata juga banyak yang meminati. Selain warga sekitar Kepanjen, dia juga melayani pesanan dari Tulungagung, Bali serta Papua. Sehari Bang Wit bisa menghasilkan sekitar 5 karya miniatur.
Harga rata-rata dari kerajinan miniaturnya untuk bahan styrofoam mulai Rp 12 ribu  - Rp 75 ribu. Sedangkan dari bahan kayu mulai Rp 12.500 – Rp 180 ribu. ‘’Untuk miniatur saya ini, beda dengan lainnya. Kalau miniatur lain, biasanya dengan menggunakan warna plitur dan pernis. Tetapi kalau saya lebih main warga dengan menggunakan cat glitter. Soalnya ketika terkena cahaya, warnanya akan kelap-kelip,’’ sambungnya.
Yang membanggakannya, dari usaha hasil kerajinan miniatur ini, meski penghasilannya tidak menentu karena tergantung pembeli dan pesanan, namun dia sukses mendidik anaknya sampai sekolah ke tingkat perguruan tinggi.
Anak pertamanya sekarang sudah menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Puskesmas Kecamatan Kromengan. Sedangkan anak keduanya sebagai pegawai di salah satu hotel ternama di Kota Malang. (agung priyo)