Bersaudara kompak lestarikan wayang orang hingga tiga generasi

Alhamdulillah, akhirnya bisa bertemu dengan tiga sosok pelestari seni dan tidak terlalu berlebihan  kiranya jika disebut sebagai  para pahlawan kesenian di Kota Batu, setelah beberapa hari selalu tidak bisa ditemui akhirnya di Jalan Ir.Soekarno Dusun Ngandat Desa Mojorejo sekitar pukul 12.00 wib didalam rumah berukuran sederhana tiga pelaku seni sedang berkumpul. Terik matahari begitu panas, namun sesekali angin memecah kepanasan tersebut sesaat obrolan baru bakal dimulai.

Ceritanya, saat  tampil di TMII Jakarta beberapa waktu lalu dengan membawakan cerita tentang “Ramayana anuman Duto” tiga orang dari 26 orang personil wayang orang tersebut adalah Eko Hariono (Maruto), Widiyanto (Hanoman) dan Harto (Wilkataksini). Pemerannya merupakan bersaudara semua, itulah yang menyebabkan Sanggar”Sasono Krido Taruno”  bermarkas dijalan Ir.Soekarno nomor 49 RT.11/RW.05 Dusun Ngandat Desa Mojorejo Kecamatan Junrejo Kota Batu, tetap solid dan aktif hingga generasi ketiga.

“Ikatan keluargalah yang membuat kami masih solid, 35 orang bersaudara mempunyai komitmen dalam melestarikan wayang orang peninggalan nenek moyang. Sampai sekarang pemerannya belum ada orang luar yang bergabung dengan kami,”aku Harto yang juga selaku Ketua Sanggar Sasono Krido Taruno ini.

Menurutnya, ini kali pertamanya tampil ditingkat Nasional, biasanya wayang orang hanya tampil di acara selamatan desa, perayaan HUT Batu, HUT RI dan dulu-dulunya seringkali tampil dengan panggung terbuka, hingga acara-acara warga, masalah tema  disesuaikan dengan keinginan si pengundang. Ketika mau tampil agar lebih mudah selalu mendatangkan pelatih, agar pelatih yang menentukan siapa berperan sebagai apa, dan memakai kostum apa. Mulanya mulai dilirik dan diperhatikan oleh pemerintah daerah dikala tampil di depan Walikota Batu, Eddy Rumpoko sekitar tahun 2012 lalu dalam acara HUT Kota Batu.

Walikotapun kagum dengan penampilan yang dibawakan oleh kami dan katanya jarang seni wayang orang di Kota Batu hingga Malang Raya. Makanya langsung ditawarkan kostum baru, dan kamipun mendapatkan kostum anyar (baru) dari Pemkot, tetapi sebagai balas budi kepada daerah saat itu juga kami ditantang oleh kepala Dinas Pariwisata, Mistin. Ditanya berani tidak kalian tampil di Jakarta sebagai duta seni dari Kota Batu, sempat rasa pesimis dan tidak mengira kami dipilih sebagai duta seni kota wisata menghantui, setelah didiskusikan bersama akhirnya kami menyanggupinya, lantas dalam kurun watku enam bulan persiapan dilakukan.“Kami tidak mengira bisa tampil ditingkat Nasional, apalagi menjadi duta seni dari Kota Wisata Batu. Padahal tujuan kami hanya ingin melestarikan serta karena hobi saja dalam seni wayang orang,”ungkap Pria yang juga Kepala Dusun Ngandat, Desa Mojorejo tersebut.
Salah satu pemeran lainnya, Windiyanto yang merupakan seorang guru menambahkan, bahwa awal mula lahirnya kesenian wayang orang di Desa Mojorejo, karena di Desa tersebut merupakan basis masyarakat pencinta seni jawa, seperti Tayup, Ludruk dan Wayang Kulit. Lama kelamaan akhirnya para pendiri berfikir dan menentukan satu kesenian yang dapat bertahan hingga dapat dilestarikan oleh penerusnya, yakni seni wayang orang. Sebab seiring berjalannya waktu dan kejamnya perubahan zaman kesenian lain di desa ini langsung buyar dan tidak bertahan lama.”Wayang orang yang biasa dikenal wayang keluarga ini mungkin satu-satunya yang tetap dilestarikan di Kota Batu, sebab kesenian lainnya sudah terlebih dahulu ditinggalkan dan sedikit yang mau melestarikannya,”tambah Windiyanto pemeran Hanuman tersebut dengan tersenyum.

Diakuinya, wayang orang tidak sama dengan kesenian lainnya, masih butuh proses bertahun-tahun untuk mempelajarinya serta memerankan langsung. Dalam artian kesenian yang satu ini sudah mempunyai pakem (patokan) mulai dari gerakan, peran, hingga bahasanya dan alat pendukung lainnya yakni gamelan dan setting panggung. Sehingga tidak boleh melenceng dari pakem yang sudah menjadi ketentuan ini. Semisal, dalam pertunjukkan tersebut sebagai pemeran Hanuman, ya harus sama dengan karakter tokoh Hanuman baik gerakannya, bahasanya, kostumnya dan paling penting tidak boleh asal gerak dan ucapannya.” Kalau wayang orang penilaiannya pada falsafah dan filosofinya bukan pada perawakannya, dan biasanya kami selalu membawakan kisah  Maha Brata, dan Ramayana,”jelas Windi yang mengaku senang dan hobi menggeluti dunia seni, walau kesibukannya sebagai guru tak kalah padat. Lanjut Widi, kalau Ponorogo terkenal dengan Reognya, sedangkan Surabaya terkenal dengan Campur sari dan Ludruknya, dan Kota Batu bisa terkenal dengan wayang orangnya.

Sementara hal serupa juga diungkapkan oleh Eko Hariono yang juga Dosen di salah satu kampus ternama di Malang, dalam sekali lakon (pertunjukkan) bisa-bisa memakan waktu hingga 2 jam. Uniknya lagi para pemerannya bermacam kalangan ada yang kegiatan seharinya sebagai petani, guru, dosen, pegawai swasta dan PNS, hingga pedagang.”Kalau bukan kami yang melestarikan lantas siapa lagi, karena niat kami dari awal hanya ingin melestarikan terkait dibayar berapa dan jadi apa kelak kami tidak memperdulikannya. Meskipun kami masih disibukkan dengan tugas dan tanggung jawab lainnya,”tegas Eko sambil menikmati kopi hangatnya dan menawarkan monggo kopinya diminum mas.

Agar tetap eksis terus, Eko mengutarakan jika sejak dini anak-anak para pewayang juga sudah diperkenalkan, dengan harapan agar nantinya setelah yang tua-tua tidak dapat lagi meneruskan kesenian ini masih ada anak cucu selaku penerusnya.”Yang paling muda sekarang masih duduk dikelas 1 SMP, serta istri-istri kami juga menggeluti seni turunan ini,”kata Eko sapaan akrabnya.

Ketiganyapun memberi bocoran akan agenda terdekatnya, bahwa tiga minggu lagi Sanggar Sasono krido taruno bakal tampil di gedung DPRD dalam perayaan HUT Kota Batu ke-12, dan acara tersebut akan disaksikan seluruh siswa SMA se-Kota Batu yang juga akan dilombakan Karya tulis ilmiah (KTI).”Kami diminta untuk tampil di gedung dewan tiga minggu lagi dan akan membawakan tema seperti saat tampil di Jakarta kemarin, apalagi bakal disaksikan oleh seluruh siswa yang dilombakan buat KTI tentang seni,”pungkas ketiga sosok tersebut dengan suara lantang.(Miski Almaduri)