Mengabdi Tak Pikirkan Sertifikasi, Malah Mampu Ciptakan Lagu

17 tahun bukanlah waktu yang singkat. Begitulah perjalanan hidup yang sudah dilakoni Sunarti Sulistyowati, Guru TK Muslimat 1 Khodijah Pakisjajar, Kecamatan Pakis. Di saat rekan-rekannya banyak yang sibuk mengurus sertifikasi untuk mendapatkan tunjangan dari pemerintah, tidak demikian dengan ibu dua anak ini. Ada apa, berikut tulisannya.
Dedikasi tinggi untuk anak didik, utamanya dalam mencerdaskan anak bangsa. Itulah yang menjadi satu diantara beberapa alasan mengapa sertifikasi yang seharusnya juga bisa dikejarnya, justru tidak begitu dipedulikan.
Dengan pengalamannya mengajar yang cukup lama dan pendidikan akhirnya D2 PG TK, pastinya cukup mudah bagi Tyo, sapaan guru yang sudah berusia 47 tahun tersebut, untuk bisa mengurus atau mendapatkan sertifikasi. Hanya saja, karena lebih peduli terhadap masa depan dari anak didiknya, Tyo pun lebih mengesampingkan masalah tunjangan dari pemerintah yang besarnya dikisaran Rp 1,5 juta sampai Rp 1,7 juta perbulannya.
Bagi Tyo, sertifikasi bukanlah di atas segala-galanya. Sebaiknya, bisa berperan aktif dan mampu menciptakan kreasi-kreasi baru untuk anak didik dalam memberikan motivasi dan semangat belajar, akan lebih penting dan bermanfaat untuk murid-muridnya.
“Sertifikasi harus membuat seorang guru bisa lebih bertanggung-jawab dalam melaksanakan tugasnya. Pedoman itulah, yang seharusnya bisa dipahami. Sehingga, anak bangsa bisa kian semangat dan termotivasi dalam belajar dan mengejar cita-citanya,” kata perempuan yang di tahun 2012 baru mulai melanjutkan S1 PAUD nya itu.
Saking cinta dan tingginya perhatian terhadap anak bangsa ditingkatan TK, Tyo pun suatu ketika sampai harus mendatangi seorang anak jalan, yang ketika itu meminta-minta uang di jalan. Di saat suasana malam sudah menunjukkan sekitar pukul 22.00, tanpa ragu guru yang berusia hampir setengah abad itu, langsung memberikan uang seraya bertanya mengenai status dari anak itu.
“Anak itu sekolah. Namun, dengan alasan untuk membantu biaya sekolah orang tuanya, hingga malam pukul 22.00, anak itu masih mencari uang. Anak itu punya cita-cita. Namun, dengan sejumah waktunya yang terbuang, apakah anak itu bisa mencapai cita-citanya itu,,” ungkapnya seraya prihatin.
Dari perhatiannya itulah, Tyo pun akhirnya muncul ide untuk menciptakan sebuah lagu. Lagu yang diciptakan khusus untuk anak TK atau pelajar dini, yang tujuannya untuk memberikan motivasi dan semangat dalam mengejar cita-cita. Termasuk, tetap menghormati orang tua dan guru, dimana pun sosok itu ada.
Bahkan, selama kariernya memberikan perhatian khusus kepada murid-muridnya, sebanyak 18 lagu dari hasil ciptaannya pun sudah berhasil dibuat. Sejumlah lagu-lagu itu, selain bertema umum untuk  memotivasi anak didik sejak dini, juga berisi tema religi untuk pendidikan agama bagi anak.
Lagu-lagu itu, pun sudah diperkenalkan di tingkatan Kabupaten Malang. Bahkan, melalui HIMPAUDI (Himpunan Pendidik Anak Usia Dini Indonesia) di Kabupaten Malang, lagu-lagunya sudah mulai diperdengarkan.
“Aku ini anak bangsa. Periang, sopan dan juga ramah. Pada guru aku hormat, ke orang tua ku sayang. Dimana pun aku ada. Aku ini anak Indonesia. Rajin belajar tak pernah malas. Semangat tinggi menjulang. Tuk mengejar cita-cita agar hidupku berguna,” lantun Tyo menyanyikan syair dari salah satu lagu ciptaannya.
Lagu yang dilantunkannya itu, pun telah memiliki arti khusus bagi beberapa rekan Tyo. Anak rekannya yang selama ini nakal dan malas ke sekolah, bisa terketuk hatinya dan kembali rajin ke sekolah, tatkala ibu dari anak itu acapkali melantunkan lagu tersebut.
Untuk memaksimalkan kepedulianya terhadap anak bangsa, Tyo pun juga memberikan perhatian lebih kepada ibu-ibu. Dengan alasan perempuan atau ibu-ibu memiliki peran besar dalam mendidik masa depan anak-anaknya, sentuhan demi sentuhan melalui keaktifannya di bidang PKK Desa dan Kecamatan Pakis, pun turut memotivator perempuan untuk anak-anaknya.
Tidak heran, jika selama kiprahnya 17 tahun di dunia TK dan PKK Desa sampai Kabupaten Malang, akhirnya juga memunculkan sejumlah penghargaan kepada wanita yang sudah merampungkan dua pendidikan anaknya hingga perguruan tinggi tersebut. Seperti diantaranya, 10 nominator teacher of the year se-Jatim. Menjadi nara sumber dalam talk show ‘mendidik dan mendampingi anak dengan kasih sayang’ serta sejumlah tropi lain yang kini banyak terpajang di satu satu sudut ruangan rumahnya.
Terakhir, Tyo pun mendapat penghargaan dalam acara Bulan Bhakti Gotong Royong Kabupaten Malang yang diselenggarakan di Desa Duwet Krajan, Kecamatan Tumpang. Ketika itu, dirinya mendapatkan penghargaan dari Ketua Umum Tim Penggerak (TP) PKK Pusat, Hj Vita Gunawan, yakni istri dari Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi.
Sejumlah penghargaan dan apresiasi nyata itu, bagi istri dari penyidik Polres Malang yakni Iptu Sutiyo, jauh lebih penting dibandingkan harus konsentrasi mengejar sertifikasi. Lebih-lebih, pendidikan kepada anak tidak hanya harus diberikan secara teori semata. (sigit rokhmad)