Ketika Aremania Terlibat dalam HUT ke 68 TNI

Aremania yang diwakili komunitas Arema 87, sukses membentangkan bendera Merah Putih raksasa, di Lapangan Rampal, Sabtu (9/10) pagi. Aksi nasionalisme itu dilakukan 150 Aremania, untuk merayakan HUT ke 68 TNI. Bagaimana mereka bisa terlibat?

Sabtu, akhir pekan lalu, setidaknya menjadi hari bersejarah bagi Aremania dimanapun berada. Baik yang ada di Malang, ataupun di luar kota. Bahkan seluruh dunia.
Suporter fanatik Arema Indonesia ini, ikut ambil bagian dalam acara peringatan HUT TNI di Lapangan Rampal, Kota Malang. Hal ini salah satunya ditunjukkan Arema 87, yang bertugas mengibarkan sang saka Merah Putih raksasa, berukuran 25x50 meter kebanggaannya.
Ketika manajemen Arema Indonesia mengunggah foto aksi dari komunitas Aremania yang mulai mencuat di Bhumi Arema kisaran pada tahun 1991-an tersebut, di website dan facebook resmi, ribuan Aremania dari segala penjuru pun dengan cepat melayangkan jempol dan komentar positif atas aksi nasionalisme.
Bahkan, hanya dalam waktu kurang dari 15 menit, setelah aksi itu dipajang, jempoler sudah mencapai ribuan. Itu belum termasuk komentar dukungan.
Arema 87, sejatinya bukanlah komunitas yang asing terdengar di tubuh Aremania. Namun, pada 5 Oktober kemarin, dalam momen peringatan HUT TNI itu, seperti menjadi sebuah momen kebangkitan dari komunitas ini. Sebab dalam beberapa musim terakhir perjalanan Arema, mereka seperti mati suri, meskipun terus mengikuti perjalanan tim kesayangannya.
‘’Kami juga menganggap, inilah momen tepat kebangkitan kami. Tepat di hari jadi TNI tahun ini. Selain sebuah bentuk nasionalisme ikut memeriahkan peringatan HUT TNI,’’ terang Irung, bapak berambut gondrong yang merupakan salah satu awak Arema 87.
Bukan tanpa sebab, mereka muncul kembali. Mendekati hari jadi TNI, komunitas ini diundang TNI melalui salah satu petinggi milier, agar ikut memeriahkan perayaan HUT.
Bendera raksasa itu, diminta untuk dikibarkan di Rampal, tepatnya sebelum devile kendaraan tempur. Undangan itu direspon awak Arema 87. Mereka cepat berkoordinasi.
‘Pejuang 87’ seperti Irung, Bendot, Bokir, Kabul, Arif dan Cekil bergerak menghubungi satu per satu anggota Aremania 87. Malang Post pun ikut ditawari gabung.
‘’Lur, kolem. Pengibaran bendera raksasa peringatan HUT TNI ya. Kamis jam 7 igap langsung ikut gladi bersih di Lapangan Rampal,’’ begitulah pesan undangan lewat BBM  yang diterima Malang Post dari Syahrul Arif, anggota Arema 87.
Kurang dari sepekan, tim pengibar bendera pun terpenuhi. Bendera yang tadinya disimpan rapi di rumah Irung, yang berdomisili di Kota Batu pun disiapkan. Mereka pun mulai latihan di helypad Universitas Muhammadyah Malang (UMM). Termasuk gladi bersih upacara sebanyak tiga kali di Rampal. Gladi pertama kali dilalui dengan mulus pada Kamis (3/10) pagi.
‘’Bendera ini dibuat sekitar tahun 2002, dan pernah dikibarkan di laga home Arema saat masih berkandang di Stadion Gajayana. Terakhir berkibar di acara 17 Agustusan di kota Batu, undangan dari Wali Kota Batu, almarhum Imam Kabul. Pada 5 Oktober, bendera ini berkibar kembali,’’ terang Bendot, yang bertugas koordinator lapangan saat pengibaran bendera.
Usai acara inti upacara bendera selesai, saatnya Arema 87 menjalankan tugasnya. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mempersiapkan diri.
Wajah-wajah santai dan penuh canda mereka pun tampak berubah menjadi serius. Ya, mereka kompak tidak ingin gagal bertugas. Bendera yang tadinya dibungkus kain warna merah besar, pun digelar sesuai lipatan memajang.
Ketika MC menyebut acara pengibaran bendera raksasa dari Aremania, ratusan awak pengibar bendera ini sudah siap dan bersama-sama memanggul bendera dengan berat hampir 100 kg itu. Di kanan-kiri, dikawal oleh pasukan bendera.
Dengan keringat bercucuran dan nafas ngos-ngosan, mereka berlari ke tengah lapangan sesuai formasi yang selama ini disiapkan sembari diiringi irama marching band. Saat sudah berada di depan panggung kehormatan, mereka siap mengibarkan.
Tepat usai terdengar aba-aba : ‘‘Bendera Siap!’’, ratusan Aremania ini menjalankan tugasnya masing-masing dengan satu tujuan. Ya, Sang Saka Merah Putih berhasil dibentangkan secara sempurna.
Sontak, seluruh undangan yang hadir dan masyarakat yang menyaksikan langsung upacara bendera peringatan HUT TNI memberikan aplaus kepada mereka.
Tidak ringan bagi mereka untuk mempertahankan bendera terus berkibar. Tiupan angin kencang di Rampal pagi itu, membuat mereka harus sekuat tenaga menahan bendera, agar sisi-sisi bendera tetap berada digenggaman.
Mereka tidak ingin bendera terbang tertiup angin. Spanduk NKRI Harga Mati juga ikut dibentangkan. Kurang lebih 15 menit, mereka beraksi, sebelum kemudian bendera kembali dilipat dan menepi ke pinggir lapangan.
‘’Terimakasih buat Dandim, Kasdim dan Sam Ade Herawanto yang sudah memberi kepercayaan bagi kami buat ngisi acara,” tambah Bendot mewakili crew di Arema 87. (poy heri pristianto)