Intan Wahyu Puspita, Bankir Muda yang Penulis novel

Wanita itu adalah seorang pegawai bank terbesar milik pemerintah di Malang. Kesehariannya, bergelut dengan angka dan hitung-hitungan. Namun siapa sangka, kala tak menekuni profesi yang membutuhkan keahlian matematik serta ilmu akuntansi nan njelimet, Intan adalah seorang penulis muda asli Malang, yang sudah menelurkan dua buah novel fiksi. Bagaimana kisah pegawai bank yang juga seorang penulis novel fiksi ini?
 
Senyum Intan Wahyu Puspita terkembang, saat mampir di salah satu coffee shop di sekitaran Tugu Balai Kota Malang, Minggu siang. Bola mata bulatnya berbinar. Dengan gaya yang ceria dan ramah, wanita kelahiran Malang ini menyapa Malang Post. Rambut lurus ikut menyegarkan penampilan wanita yang kesehariannya bergelut dengan dunia perbankan itu.
Sekelebat mata, penampilan seperti inilah yang memang harus ditampilkan seorang wanita bankir. Tampil segar dan cantik jadi tuntutan. Bergelut dengan angka dan laporan keuangan adalah keahliannya. Apalagi, dia adalah seorang pegawai aktif dari bank pemerintah, BRI Martadinata Malang.
Sehingga, tak ada yang menyangka, Intan juga memiliki profesi lain yang sangat bertolak belakang dengan dunia keuangan, yakni penulis novel.
‘’Diakui atau tidak, bankir dan penulis itu adalah profesi yang bertolak belakang. Kalau jadi bankir tidak boleh berkhayal dan nyeleneh seperti penulis. Bisa kacau laporan keuangan,’’ jelas Intan.
Tak heran, profesi bankir dan penulis boleh diibaratkan seperti dua kutub yang berbeda. Bekerja di dunia perbankan membutuhkan keahlian hitungan yang mumpuni, sementara penulis sangat erat dengan kreativitas dan imajinasi.
Jika profesi pegawai bank harus berpakem pada aturan akuntansi yang ketat, maka dunia tulis menulis novel menuntut penggalian ide yang keluar dari pakem, nyeleneh, demi menghasilkan cerita yang menarik. Pendek kata, bukan hal biasa bagi seorang bankir seperti Intan, untuk menelurkan karya berupa novel.
Namun, seperti itulah fakta wanita muda bankir yang juga penulis tersebut. ‘’Saat bekerja, saya mengurusi bisnis program. Seperti Public Relation dari BRI, menggarap CSR, menggarap monitoring KPR dan segala yang berhubungan dengan angka. Tapi di luar kerjaan, saya nulis novel fiksi dan baru saja rilis novel kedua saya,’’ kata Intan.
Menurutnya, orang-orang di BRI Martadinata sangat mendukung side jobs dari Intan. Sebab, hal tersebut tidak mengganggu kinerjanya selama jam aktif sebagai bankir. Ia menyelesaikan novelnya saat pekerjaan sudah beres.
‘’Saya sering dipanggil mbak penulis sama orang kantor. Tapi itu jadi dukungan dan semangat buat penulisan novel saya ini. Kalau soal pengerjaannya, tentu saya melakukannya setelah kerjaan kantor beres,’’ tuturnya.
Wanita kelahiran 14 Oktober 1989 ini memang baru saja meluncurkan novel terbaru berjudul Relief. Intan menulis novel, duet dengan selebritis Twitter Dion @catatansidoi yang memiliki follower lebih dari 200 ribu. Novel Relief buatan Intan sudah dicetak 2500 eksemplar, oleh penerbit Caesar Media Pustaka.
Penerbit yang berpusat di Jogjakarta tersebut menganggap novel Intan sebagai andalan dalam meraup penjualan. Tak heran, karya tulisan wanita berkulit putih ini disebar di seluruh Indonesia dan tersedia di jaringan toko-toko buku terbesar. Bahkan, novel keduanya ini kabarnya sudah dilirik oleh sutradara kenamaan Rudi Sujarwo untuk diadaptasi menjadi film.
‘’Selebtwitt Dion yang saya ajak kerja bareng dalam novel ini, sudah dikontak sama Om Rudi agar novel buatan kita ini diadaptasi jadi film. Sebab, buku pertama Dion sudah dalam proses dijadikan film, novel kita ini yang berikutnya,’’ terang pemegang gelar Sarjana Komunikasi dari Universitas Brawijaya Malang itu.
Jalan cerita yang menarik dan tidak seperti kisah percintaan biasa, membuat sutradara kawakan itu tertarik dengan novel yang dirilis Oktober 2013 ini. Dengan karyanya yang sudah terpublikasi di seantero nusantara, mungkin Intan adalah satu-satunya penulis muda wanita asli Malang yang juga berprofesi sebagai seorang pegawai bank.
Meski Intan sekarang mulai naik daun sebagai novelis yang juga berprofesi sebagai bankir, perjalanannya sebagai penulis novel tidaklah semulus yang dibayangkan. Ia harus membagi waktu antara menyelesaikan novel dan pekerjaan rutinnya sebagai seorang bankir. Apalagi, rekan penulisnya Dion berdomisili di Jogjakarta.
Bagi wanita yang tinggal di daerah Sulfat Purwantoro itu, jarak Malang-Jogjakarta menjadi hambatan paling berat dalam menyelesaikan novel duetnya ini. Novel itu sendiri mulai ditulis pada Maret 2013 dan rampung sekitar bulan September 2013, serta didistribusikan di seluruh Indonesia pada awal bulan Oktober ini.
‘’Kalau nulisnya duet, pasti ada perbedaan persepsi. Mau tak mau, kita harus saling ngalah. Kadang saya ke Jogjakarta untuk sharing ide. Kadang Dion yang ke Malang. Kita proses sharing ide, pulang pergi Malang-Jogjakarta lebih dari empat bulan,’’ ungkap bungsu dari empat bersaudara itu.
Meski dipublikasikan secara komersil, Intan mengaku tidak terlalu memburu royalti dari penjualan buku. Ia lebih senang melihat novel setebal 160 halaman tersebut bisa tersebar dan tersedia di seluruh nusantara. Novelis yang mengaku sebagai fans Pramoedya Ananta Toer dan Chairil Anwar tersebut hanya ingin hasil karya tulisannya diapresiasi banyak orang.
‘’Saya tidak berharap dari royalti, bagi saya yang penting karya ini dihargai dan diapresiasi,’’ tegasnya. Novel Relief ini mendapat apresiasi dari para penulis kawakan. Salah satunya Moammar Emka. Penulis buku investigasi Jakarta Undercover yang booming pada tahun 2000-an ini bahkan mau disebut namanya di cover depan novel Intan, dan memberi quote tentang isi novel.
Hanya saja, potensi untuk berkembang sebagai penulis sudah dimiliki pecinta band Inggris Coldplay itu sejak sekolah menengah atas. Alumnus SMAN 4 Malang ini mengaku terinspirasi oleh adegan film AADC yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra itu.
Salah satu adegan saat Dian Sastro berpuisi di atas panggung menjadi pemicu keinginan Intan untuk menulis novel.
‘’Film AADC itu kan jadi pendobrak kebangkitan film Indonesia. Saya terinspirasi salah satu adegan, saat Dian Sastro berpuisi. Itu yang sampai sekarang menginspirasi saya menulis. Karena berkarya sastra dan menulis hingga bisa menghasilkan dua novel, yaitu Drama dan Relief,’’ tutur pemilik akun Twitter @iwps_ tersebut. (fino yudistira)