Raih Community Enterpreneurs Challenges dari British Council

Kain sisa konveksi atau biasa disebut kain perca, sering dianggap sebelah mata, terbuang dan tak bernilai ekonomis. Tapi di tangan Noor Suryanti, kain perca justru berubah menjadi barang dengan nilai jual tinggi. Melalui kain ini pula, wanita asal Singosari tersebut, sukses menyabet beberapa penghargaan prestisius. Termasuk terbang ke manca negara.

Siang itu, seorang wanita berjilbab, tampak tengah dikerubuti puluhan ibu-ibu dan remaja putri. Di sebuah rumah, yang terletak di Jalan Wijaya, Kelurahan Pagetan, Kecamatan Singosari.
Cuaca kala itu, sebenarnya cukup panas. Apalagi di dalam ruangan dengan jumlah manusia yang cukup banyak. Namun antusiasme mereka, mengalahkan panasnya cuaca.
Sang ibu, Noor Suryanti, juga tetap serius memberikan pelatihan kepada anggota komunitasnya. Komunitas Pelangi Musantara (Pelanusa). Beberapa kali, Suryanti terlihat mengambil kain perca, menjelaskan atau membenarkan apa yang dikerjakan kaum wanita tersebut.
Sejenak aktivitasnya terhenti, ketika melihat Malang Post. Tersenyum, sembari mengampiri. ‘’Monggo, silakan masuk,’’ sapanya. ‘’Maaf, rumahnya agak korat-karit,’’ sebut wanita 41 tahun itu.
Kemudian, dia mulai bercerita tetang kisah suksesnya itu. Awal mula ibu dua anak ini menggeluti kerajinan kain perca, pada 2001 silam, usai menamatkan studinya di Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya.
Awalnya, Suryanti terjun langsung sebagai pelaku usaha garmen atau konveksi untuk pasar Malang dan Surabaya. Dia membuat mukena, busana, sarung bantal, taplak meja, sarung jok mobil dan lain-lainnya. Usahanya terus berkembang. Sementara kain perca sisa jahitannya juga semakin banyak.
‘’Ibu saya bilang, kain perca jangan dibuang. Sayang kalau kainnya dibuang, karena masih banyak yang bagus,’’ ucapnya menirukan perkataan ibunya.
Dari situ, timbul idenya untuk mengolah kain perca itu menjadi berbagai model tas, sarung bantal, taplak meja dan produk lainnya.  Apalagi di i berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Malang, Pandaan dan Pasuruan, kata wanita berkacamata ini, banyak terdapat usaha konveksi, sehingga sisa kain perca yang terbuang, juga cukup banyak.
Sementara kaum perempuan di sekitar rumahnya yang terletak di Jalan Wijaya Barat Kelurahan Pagetan, Kecamatan Singosari, juga banyak yang tidak bekerja. Padahal mereka banyak juga yang menikah muda.
‘’Pendidikan merekapun juga rendah,’’ timpalnya kepada Malang Post. Idenya berkembang untuk memberdayakan kaum perempuan di wilayahnya.
Pada tahun 2008, wanita yang memang senang menjahit itu, membina kaum perempuan untuk mengolah kain perca. Pada 2011, istri Sugeng Budiono tersebut mendirikan komunitas Pelanusa dan kini membina kurang lebih 10 kelompok atau 150 orang. Tersebar di seluruh Kabupaten Malang.
Tidak cukup sampai di situ saja, melalui komunitas tersebut, kini satu kelompok bisa menghasilkan Rp 10 juta. Nilai itu diperoleh dari penjualan produk yang mereka buat. Mulai harga Rp 10 ribu sampai Rp 2,5 juta.
Jelas ide Suryanti tidak saja bisa memberikan penghasilan bagi ibu rumahtangga, tapi juga memberdayakan mereka. Karena tidak sekedar bertemu, melainkan juga berbagi pengetahuan.
‘’Ini sama saja dengan mengalihkan perhatian pada masyarakat, yang semula kurang kegiatan dan ujung-ujungnya memilih menikah muda sekarang mereka sudah mengerti dan terampil,’’ terangnya.
Berkat kegiatannya memberdayakan masyarakat setempat secara ekonomi dan sosial itu, Ketua Komunitas Pelanusa  itu terpilih sebagai pemenang Community Enterpreneurs Challenge untuk kategori Pemula (start-up), yang diselenggarakan oleh Arthur Guinnes Fund dan British Council pada Maret 2013 lalu.
Sebagai hadiah istimewanya, anak kedua dari empat bersaudara itu bisa terbang ke luar negeri untuk berpartisipasi dalam kunjungan studi ke Inggris, Mei 2013. Selain mendapatkan hadiah total Rp 100 juta. ‘’Sama sekali tidak menyangka bisa ke luar negeri gratis. Ini baru pertama kali,’’ ujarnya.
Selama dua bulan di Britania Raya, dia mendapatkan pengalaman dan ilmu yang bermanfaat. Salah satunya yakni bertemu dengan pelaku usaha di negara itu.
’’Dari situ, saya menyerap teknik mereka dalam menjalankan usaha maupun bisnis. Pesan yang saya terima, ketekunan dan keuletan menjadi knucinya,’’ ungkapnya.
Selain penghargaan Community Enterpreneurs Challenge, wanita berkacamata ini juga kerap kali menerima penghargaan tingkat Kabupaten, Provinsi sampai Nasional
Diantaranya, Kader PKK Prestrasi Kabupaten Malang tahun 2003, UKM Award Jawa Timur 2008 dan Sida Karya Award Jatim 2013. Termasuk penghargaan dari Kementerian Luar Negeri, karena berhasil mengharumkan nama Indonesia melalui penghargaan dari Arthur Guinnes Fund dan British Council
‘’Yang paling berkesan ya  penghargaan dari Arthur Guinnes Fund dan British Council. Karena harus bersaing dengan peserta terbaik seluruh Indonesia,’’ jelasnya.
Beberapa penghargaan yang dia terimanya itu, diakuinya tidaklah penting. Noor Suryanti lebih mementingkan pemberdayaan wanita di Kabupaten Malang melalui komunitasnya, ketimbang sibuk maupun berambisi untuk meraih penghargaan. (Binar Gumilang)