Imam Sutrisno, Pejabat yang Masih Tetap Jadi Loper Koran

LOPER : Imam Sutrisno ketika beraktivitas mengoplos koran setiap pagi, sebelum berangkat kerja.

Menjadi PNS, adalah pekerjaan yang sangat didambakan mayoritas orang. Banyak yang menganggap profesi itu punya strata lebih di tengah-tengah masyarakat. Lantas bagaimana jika seorang PNS, tapi juga masih nyambi jadi loper koran? Ternyata keduanya saling melengkapi.

Sesosok pria setengah baya, terlihat di bawah fly over Jalan A Yani Kota Malang, selepas subuh. Dia cukup lama berada disana karena sedang menunggu beberapa mobil box yang melintas. Mobil box tersebut milik perusahaan koran dan sedang mengantarkan terbitan terbaru.
Ya, dialah Imam Sutrisno, Kepala Bidang Telekomunikasi dan Desmininasi Informasi Dinas Perhubungan dan Informatika Pemkot Batu. Namun sudah beberapa tahun ini, dia juga menekuni loper koran.
Ratusan eksemplar koran yang diterimnya setiap pagi di bawah fly over itu. Koran-koran tersebut terbitan terbaru dari media lokal, nasional dan tabloid ternama.
’’Setiap subuh, saya harus ke sini (fly over) dan menunggu koran-koran datang. Begitu menerima koran, saya harus mengolah untuk penjualan,’’ ungkap Imam Sutrisno kepada Malang Post.
Meski seorang pejabat, dia sama sekali tidak menggunakan mobil dinas, untuk aktivitasnya tersebut. Dari tempat tinggalnya di Karangploso menuju fly over, dia menggunakan motor untuk menembus dingingan Malang. Terkadang, dia juga harus menembus hujan atau kabut tebal jika cuaca memang sedikit ekstrem.
’’Apapun kondisinya, saya tetap harus berangkat. Jika tidak, koran-koran akan terbuang percuma,’’ tegas Vel, sapaan akrabnya, kepada Malang Post, kemarin.
Setelah menerima koran, dia mulai mengerjakan penjualan. Daerah operasi penjualan adalah sekitar Karangploso dan Singosari karena tidak jauh dari rumahnya.
Sasaran tembak penjualan adalah SPBU dan perumahan yang ada di daerah itu. Dia juga memiliki strategi yang unik untuk menjadi loper koran.
Setelah menentukan titik-titik tempat berjualan, dia memasang koran-koran tersebut pada papan bambu. Tentu saja, sebelumnya sudah koordinasi dengan pemilik atau petugas yang ada di lokasi. Misalnya tempat berjualan koran di SPBU, bapak dua anak ini koordinasi dengan petugas SPBU, begitu juga dengan lokasi lain.
Uniknya, koran-koran tersebut tidak ada yang menunggu, melainkan langsung ditinggal. Mantan Kabid Kebersihan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Pemkot Batu ini hanya menyediakan kotak tempat pembayaran dan harga koran. Pembeli tinggal memasukkan uang ke kotak sesuai harga yang tertera.
Kebiasaan menjadi loper dengan cara seperti ini sudah dijalani bertahun-tahun. ‘’Pokoknya sehabis subuh hingga pukul 06.00, saya bekerja sebagai loper koran. Sedangkan pukul 06.00 siap-siap berangkat ke Pemkot Batu bekerja sesuai tugas PNS. Sedangkan sore atau malam selepas kerja, saya tinggal mengambil uang yang ada dalam kotak pada titik-titik penjualan,’’ tegas pria kelahiran Pamekasan Madura ini.
Mengapa dia harus menekuni loper koran, apa penghasilan sebagai PNS tidak cukup? Vel mengakui, pekerjaan sampingan sebagai loper koran tersebut sebagai tambahan penghasilan. PNS dengan jabatan kabid, dia bisa mendapatkan take home pay sekitar Rp 4 juta sebulan. Namun uang tersebut habis untuk membayar angsuran rumah.
Padahal dia harus menghidupi seorang istri dan dua orang anak yang masih sekolah. Selain koran, dia juga menjual bensin eceran dan pulsa di rumahnya. Penghasilan sampingan itu bisa mendapatkan tambahan sekitar Rp 2 juta per bulan.
Teman-temanya di kantor atau Pemkot Batu tidak banyak yang tahu dengan pekerjaan sampingan itu. Hanya teman-teman dekat yang mengetahui jika Vel adalah seorang penjual koran.
‘’Teman-teman yang tahu memanggil saya dengan sebutan Dahlan Iskan. Katanya saya ahli koran seperti Pak Dahlan Iskan,’’ tegas Insinyur lulusan ITN Malang ini.
Vel menyebutkan, banyak hikmah yang bisa diambil dari berjualan koran. Dia membutuhkan semangat tinggi dan penuh perjuangan untuk korannya laku. Di situlah rasa rendah hati dan tidak selalu memandang yang lebih atas dalam kehidupanya.
Sikap itu kemudian juga diterapkan dalam pekerjaan sebagai PNS. Dia menilai pekerjaan PNS juga sebuah pengabdian dan pelayan kepada masyarakat. Apalagi Batu saat ini sebagai kota wisata, sehingga PNS tidak hanya pelayan masyarakat tetapi juga wisatawan. Hal itu juga selama ini ditekankan Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko kepada para aparatnya.
Menjadi Kabid telekomonikasi di Dishub, tugas berat Vel sudah menanti. Dia harus bisa mewujudkan target retribusi tower sebesar Rp 100 juta pertahun sesuai pengesahan DPRD dalam perubahan anggaran keuangan (PAK) APBD, September lalu.
Dia juga optimis, bisa merealisasikan target itu seperti dia merealisasikan target retribusi kebersihan, beberapa tahun lalu. ‘’Dulu retribusi kebersihan tidak menyumbang PAD. Kami kemudian ditarget Rp 200 juta pertahun dan syukur target itu bisa tercapai. Saat ini retribusi tower juga belum memberikan PAD dan baru PAK, kemarin ada target Rp 100 juta. Saya harus optimis mampu merealisasikan target itu,’’ pungkas mantan Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkot Batu ini. (febri setyawan)