Demi Nama Baik,Rugi Miliaran Tak Masalah

PROMOTOR LEGENDARIS : Log Zhelebour  bersama GM Malang Post H.Sudarno

Log Zhelebour, Promotor “Edan”   Musik  Rock
Nama Ong Oen Log tak banyak orang yang tahu, Ong sendiri artinya raja. Nama tersebut adalah nama asli Log Zhelebour, bisa disebut sebagai raja musik rock hingga kini. Sebab, Om Log demikian biasa disapa, masih tetap eksis dan tetap setia pada jalurnya, membesarkan musik cadas hingga kini.

Setelah hampir lima tahun tak datang ke Kota Malang, Log Zhelebour kembali menunjukkan diri. Kali ini, dia membawa band asal New Jersey USA, Skid Row. Sebuah band yang juga pernah dibawa tampil di Lapangan Rampal pada tahun 2008 lalu. Dia membawa band legenda dari USA ini tour ke tujuh kota di Indonesia.
Band ini benar-benar menguras kocek Log, sebab konser terpaksa dijalani tanpa sponsor. Sebuah brand rokok ternama, tiba-tiba saja mundur. Sehingga Log Zhelebour kemudian mengambil keputusan “gila”, pakai dana sendiri !“Soal jatuh bangun dalam bisnis ini, bisa dibilang saat ini saya rugi, konser ini jelas rugi. Lihat saja dari harga tiketnya, total termasuk publikasi saya habis Rp 8 miliar,” urai dia kepada Malang Post
Tiket dipatok dengan harga murah, mulai dari Rp 40 ribu sampai dengan Rp 150 ribu. Dengan harga seperti itu, penikmat musik, bisa mendapatkan dua band, yakni Skid Row dan Jamrud. Menurut Log, pendapatan dari tiket sendiri habis untuk bayar venue dan biaya keamanan.
“Saya rela rogoh kocek sendiri karena komitmen bisnis sama pihak artis, sudah terpublish, gengsi kalau batal, apalagi di Indonesia kepercayaan adalah hal utama. Tidak apa rugi yang penting prestise alias nama baik masih terjaga,” beber Log.
Sedangkan daya beli para penggemar rock lokal di Indonesia berkisar Rp 20 ribu – Rp 25 ribu.  Kendati demikian, Log tetap menyajikan tata panggung, soundsystem serta lighting yang istimewa. Pendek kata, dia tak ingin konser tujuh kota ini hanya seadanya, harus tetap menggelegar.“Soal tata panggung, sound system serta lighting pentas rock di Indonesia, boleh dibilang saya pionirnya,” katanya.
Meski kerap mendatangkan band Amerika, Log sendiri sebenarnya justru penggemar berat band Inggris Pink Floyd. Dari band itulah, dia belajar tata panggung, suara maupun tata cahaya yang bagus. Sebab, Pink Floyd selalu tampil dahsyat ketika manggung, all out dalam menyajikan sebuah pertunjukan. Kata dia, Pink Flyod adalah band yang punya kelas tersendiri menjual musik konsep panggung hebat
“Karir di musik, kalau di lapangan dimulai tahun 1980, sebenarnya awal karir saya di musik pada tahun 1978 mulai dari acara disko di klub dan gedung-gedung,” ujar penggemar band Scorpion.
Pria yang sama sekali tidak menguasai alat musik ini, cinta musik dari pergaulannya. Dia juga sedikit banyak dipengaruhi teman semasa kecil Dara Puspita Band, yang menjadi teman sekolah di Pirngadi Surabaya, teman begadang.
“Konsep saya ketika itu mendobrak panggung musik rock, lighting yang bagus, tata musik, hanya jaman saya konser musik ada kembang api dan laser, kemudian diikuti orang-orang,” jelasnya.
Log, bisa dibilang sebagai raja rock tanah air, karena berhasil melahirkan musisi serta band legenda. Melalui festival rock yang dia bikin, lahirlah Ita Purnamasari, Mel Shandy, Lady Avhisa, El Pamas, Kaisar, Power Metal, Grassrock, Gank Pegangsaan, Boomerang dan Jamrud.
“Lewat festival rock, lahir banyak musisi dan band, bahkan waktu festival rock di Malang tahun 1986, Slank juga ikut, waktu itu masih bernama Cikini Stone Complex,” imbuhnya.
Dengan Kota Malang, Log mengaku juga memiliki kenangan tersendiri. Terutama dengan GOR Pulosari yang ini sudah tidak ada lagi. Ketika menggelar konser dan festival di Malang, tiket selalu sold out.  Namun, untuk saat ini, Log belum terpikir membuat festival lagi.
“Biaya bikin festival besar sekali, saat ini era sudah lain, dulu income dari kaset dan album, Logiss Record sendiri sampai saat ini masuk produksi produk lama, yang baru kita punya band Logan dan Kobe,” jelasnya.
Band era sekarang, kata Log harus punya basis fans tersendiri. Dengan memanfaatkan media sosial serta didukung promosi yang kuat. Pola itu sebenarnya juga berlaku untuk band era festival rock semacam Power Metal, El Pamas, Boomerang, Kaisar hingga Grassrock.“ Produser tentu tidak harus selalu promosi, band itu sendiri yang harus mampu mencari fans dan komunitas sendiri,” kata dia.
Tapi, kenapa Log tak pernah mengirimkan band dibawah naungan ke acara musik di televisi setiap pagi?. Menurut dia, acara seperti itu justru membuat image band menjadi rendah. Kendati demikian dia yakin bahwa rock akan tetap eksis, meskipun tak mungkin bisa menandingi rock.
“Rock tak bisa menandingi pop, akumulasi global market waktu saya jaya kita kuasai 20 persen. Namun tidak bisa melawan pop, kita hanya bisa mendomisi penjualan per album,” selorohnya.
Lantas adakah keinginan Log untuk berpindah ke jalur pop ? Secara tegas, Log mengaku tak akan pindah jalur. Dia hanya ingin mencari duit sesuai hobi, bukan sekedar seperti produser lain yang menggarap rock ataupun pop demi ikut-ikutan.
“Kita cari duit sesuai hobi, kita tak bisa paksakan keahlian di musik untuk jalur lain dan melacurkannya, saya belum tentu sukses di pop, mungkin hokinya disini (rock), dan tidak boleh serakah dengan berpindah ke jalur lain,” tandasnya.(Bagus Ary Wicaksono)