Mahasiswa UB Sukses Usung Label Lokal

MEMBUKA usaha distro biasanya dilakoni oleh orang-orang yang sudah mapan dan memiliki modal besar. Namun itu tidak berlaku bagi Haykel Martak. Pemuda 22 tahun ini sejak setahun lalu membangun distro miliknya. Dengan modal Rp 5 juta, brand Zyrcoo yang diusung  distro miliknya sukses menembus  pasar internasional.

Sebagai pengusaha, sosok Haykel memang tidak terlihat. Dandanannya cukup gaul, layaknya pemuda kebanyakan. Celana jeans belel, kemeja dengan jaket berbahan jeans serta sepatu, menjadi ciri khas mahasiswa jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya (UB)  ini. "Ya begini ini dandanan saya.  Tapi jangan salah, semua produk yang saya pakai ini merupakan produk lokal. Produk distro kami sendiri," kata anak pertama dari pasangan Abdul Nasir Martak dan Yemmy Martak ini mengawali ceritanya.
Dikatakan oleh Haykel, dia mulai membangun distro miliknya itu sejak tahun 2012 lalu. Diawali dari kecintaannya dengan dunia fashion terutama sepatu. Banyak koleksi sepatu yang dimilikinya. Namun begitu, semua koleksinya itu kebanyakan adalah merek luar. Dari situlah kemudian Haykel mulai berpikir. Bersama tiga temannya Andy Yudistira, Ziananto, dan Nabil Mulahela  mulai mencari peluang usaha, terutama bidang fashion. "Sebulan setelah berpikir, kemudian saya langsung terjun. Waktu itu modal hanya Rp 5 juta, saya mulai memproduksi sepatu," katanya, sembari mengatakan saat itu brand yang diusung adalah Moondream. Namun brand Moonbeams hanya bertahan dua bulan saja, karena brand tersebut telah digunakan. Selanjutnya Haykell pun mencari nama lain. Nama Zyrcoo pun muncul. Nama itu pemberian dari orang tuanya. "Zyrcoo itu berasal dari nama Batu, jika dibuat permata namannya Zirconia, namun karena ini sepatu dan aparel kamu memutuskan untuk mengambil nama Zyrcoo," kata pemuda berparas ganteng ini.
Keseriusan Haykel pun kian nampak, dengan niatnya mendaftarkan merek tersebut ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan. "Saya tidak mau setengah-setengah, merk yang saya usung sudah terdaftar, artinya produk-produk kami semuanya legal," ucapnya sambil tersenyum.
Setelah semuanya beres, pria yang berkantor di Jalan Bukit Dieng Blok AA, Sukun dan tiga temannya inipun mulai memasarkan produk distronya. Memang tidak mudah. Dia mengawalinya dari teman-teman dekat, kemudian mengenalkan produknya melalui media sosial, serta promo dengan ikut berbagai pameran. Usaha tersebut cukup menuai hasil. Produknya banyak dikenal, dari kalangan lokal. Beberapa band indie  telah menggunakan produk-produk miliknya. Tidak terkecuali band asal Brazil yaitu The Duranggos sudah menggunakan produk Zyrcoo.
"Kami sudah memasarkan produk Zyrcoo  di Brazil dan beberapa negara Eropa lainnya. Kedepannya kami juga akan menjajaki pasar Asia," katanya.
Haykel mengaku sangat yakin produk-produk distronya diterima masyarakat. Itu karena selain modelnya yang fashionable, bahan yang  digunakan untuk sepatunya berkualitas nomor satu. Seperti sepatu, semua bahannya adalah kulit dengan model both trendi. Sepatu-sepatu tersebut juga dijual dengan harga terjangkau. Menurut Halykel, sepatunya dijual dari harga Rp 200 ribuan hingga Rp 750 ribuan.  “Untuk desainnya kami menciptakan sendiri, inspirasinya memang model sepatu dari brand-brand luar, tapi diotak-atik, hingga kemudian tercipta model sepatu yang trendy dan nyaman di kaki,’’ ucapnya, sembari mengatakan semua produk ciptaannya itu merupakan handmade alias buatan tangan.
Haykel pun sangat bangga dengan berbagai produk-produk distronya itu. Terlebih, kini distronya kian dikenal. Dan yang lebih membanggakan lagi, adalah penghasilannya. Sekalipun tidak menyebutkan angka pastinya, namun Haykel mengatakan omzet perbulannya sudah mencapai angka ratusan juta. Bahkan, alumni MAN 3 Malang ini mengaku sudah memiliki beberapa karyawan untuk produk sepatunya itu. "Alhamdulilllah, semua usaha keras kami ada hasilnya. Usaha kami sekarang sudah berhasil dikenal hingga ke  manca negara," tandasnya dengan bangga.(ira ravika)