Didukung Prancis,Ajari Penduduk Buat Cinderamata

Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang  memiliki seorang peneliti yang consern dengan Gunung Merapi. Adalah, Dr. Budi Prihatminingtyas yang sejak 2011 lalu tertarik meneliti gunung yang masih aktif itu. Tak tanggung-tanggung, penelitiannya mendapat dukungan penuh dari lembaga di Perancis dan Ditjen Dikti Kemendikbud.

Bebatuan dan abu Gunung Merapi memang selalu  akrab dengan dosen PNS Kopertis Wilayah VII ini. Terlebih, sejak tiga tahun terakhir, Budi Prihatminingtyas yang akrab disapa Titin secara rutin mengunjungi penduduk desa disana, mengabdikan diri untuk warga Merapi. Ketika penelitiannya dengan Perancis usai, ia melanjutkan dengan program yang lain disupport Ditjen Dikti, masih dengan lokasi yang sama yaitu Gunung Merapi. Misteri Gunung Merapi bagi dosen Fakultas Ekonomi Unitri ini membawa daya tarik, tak hanya tentang bencananya namun juga masyarakat dan kehidupan ekonominya.
Ditemui di ruang kerjanya yang sederhana di Unitri, ibu tiga putra ini sedang asyik menata bongkahan batu  dan beberapa kantong pasir. Bantuan tersebut berbeda bentuk dan warnanya, masing-masing diberi label dan nama tempat asalnya. Begitu pula dengan kantong berisi sampel pasir yang juga sudah diberi label.
"Setiap desa di kawasan  Merapi punya jenis batu dan pasir yang berbeda, coba lihat ini bentuk pasirnya sangat halus warnanya pun mirip semen. Pasir ini saya ambil di dekat sapi yang mati karena abu vulkanik di Desa Cangkringan" ujar Titin sembari menunjukkan benda-benda yang disimpannya dengan baik itu.
Batuan dan pasirnya selain menjadi koleksi pribadinya, juga merupakan oleh-oleh untuk putra keduanya yang kini studi S3 di Perancis. Sang putra adalah kandidat doktor bidang longsor dan banjir, dan tentunya sangat tertarik dengan hal apa pun yang kaitannya dengan material yang terbawa saat bencana datang. Batuan yang disimpan Titin bisa jadi baru muncul lagi 100 tahun lagi sebagaimana siklus bencana Merapi yang diprediksi rutin terjadi."Saya pada dasarnya memang suka melanglang negeri, apalagi putra saya yang sekarang study di Perancis juga consern di bidang Longsor dan Banjir," ungkap Titin.
Meneliti di kawasan yang sering terjadi bencana sangat dinikmati oleh wanita yang pensiun dari Universitas Brawijaya (UB) sejak setahun lalu. Ia pun tak luput dari ancaman bencana yang sewaktu-waktu masih bisa terjadi. Pernah suatu ketika, Titin dan tim dari Perancis dikejutkan dengan sirine tanda bahaya saat sedang memberikan pelatihan di desa Ngargo Mulyo.
"Waktu itu sekitar pukul 12.00 siang saya sebagai tim leader memberikan pelatihan, tiba-tiba terdengar sirine tanda bahaya dan peserta tiba-tiba sudah hilang semua menyelamatkan diri," kenangnya.
Pada tahun 2011 lalu, penelitian dilakukan ketika Merapi sedang aktif dan beberapa kali ’’batuk’’. Tak jarang perjalanan tim peneliti ini terganggu dengan batu besar yang berserakan di jalan raya. Meski demikian tak terbersit sedikitpun rasa takut maupun putus asa pada mereka.
Penelitian yang dilakukan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unitri dengan INRA Montpellier Cedex 2 Prancis ini berfokus pada managemen resiko. Sebelumnya ada seleksi untuk mengikuti penelitian bersama Prancis ini, sebanyak lima perguruan tinggi besar yang ikut bersaing dan Titin bisa lolos menjadi tim leadernya. Ada tujuh  desa yang ia teliti yaitu Cangkringan, Bimomartani, Plosogede, Ngargo Mulyo, Wedomartani, dan Kaliurang. Titin adalah sosok yang gigih dengan penelitiannya, setelah pada tahun 2011 lalu ia menggandeng Prancis, kini penelitiannya tentang Merapi mendapatkan dukungan dari Dikti. Kalau dengan Prancis penelitian fokus pada managemen resiko, penelitian lanjutannya dengan Dikti fokus pada perekonomian warga dalam rangka percepatan ekonomi melalui Master Plant Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Sebab resiko bahaya erupsi Merapi memang tidak dapat dipisahkan dengan kondisi sosial ekonomi. ”Saya saat ini fokus pengembangan ekonomi pada penduduk terutama di sepanjang sungai di lereng Merapi,” bebernya.
Dibalik bencana Merapi, sebenarnya masyarakat kini diuntungkan karena semakin banyak kunjungan ke kampung mereka. Potensi wisata inilah yang menurut Titin harus disambut dengan baik. Masyarakat harus bisa memanfaatkan peluang dari ancaman yang ada. ”Peluangnya saat ini adalah penjual makanan dan minuman,  para pelaku usaha kecil itu yang saya dampingi melalui program MP3EI,” bebernya.
Kecintaan Titin akan Merapi tak hanya ditularkan kepada sang anak saja, tapi mahasiswanya pun kini mulai dilibatkan untuk ikut meneliti. Melalui program lanjutan bersama Laboratoire De Geographie Physique CNRS 8591, Prancis. Pada kerjasama ini difokuskan pada penelitian geografi fisik Merapi.
”Mimpi saya kedepan bisa melakukan pengabdian masyarakat dengan mengajarkan penduduk lereng Merapi untuk belajar membuat cinderamata dari bahan batuan khas yang dimuntahkan Merapi,” harapnya. (lailatul rosida)