Sehari Sembelih 546 Ekor, Pisau untuk Sekali Ayun

MERANTAU di Australia dan sukses menjadi ahli jagal hewan, Usman Mahri kini mengabdi dan berbagi ilmu. Pria asal Jalan Yulius Usman, Gang VI Kota Malang itu, selalu berada di Malang pada setiap jelang Hari Raya Kurban. Tujuannya agar ia menyembelih hewan kurban dan berbagi ilmu tanpa biaya sehingga  para jagal hewan kurban paham menyembelih sesuai syariah.

Senin malam (14/10) hingga Selasa kemarin, menjadi hari-hari sibuknya. Usman atau Ozi, begitu nama akrab pria 49 tahun itu, mulai menata jadwal penyembelihan. Ia harus sembelih hewan kurban di beberapa tempat.
Dua pisau khusus lengkap dengan sarungnnya, sebilah alat asah pisau, safety glaves terangkai dalam rantai, menyerupai sabuk telah disiapkan. Sepatu boot pun tinggal dikenakan. Itulah alat kerja Usman.
Usman bukan sembarang tukang jagal hewan. Ia profesional lantaran memiliki tingginya jam kerja. Karena profesional, pria tinggi besar itu kini dikenal. Apalagi ia selalu hadir di Malang pada setiap Hari Raya Kurban.
Idul Adha tahun ini, dia menyembelih sekitar 30 ekor sapi dan 180 ekor kambing di sejumlah tempat.  Jumlah itu masih bersifat sementara saat ditemui di rumahnya pada Senin malam. ‘’Biasanya subuh baru dapat informasi lagi,’’ ucapnya.
Tahun lalu, dia sembelih 14 ekor sapi dan 98 ekor kambing. Bagi orang awam atau tukang jagal hewan biasa, jumlah hewan yang disembelih Usman itu, terbilang banyak. Tapi tidak bagi Usman.
14 ekor sapi dan 98 ekor kambing itu, bisa disembelihnya dalam waktu super kilat. Jika dirata-rata, Usman hanya membutuhkan waktu antara 10 sampai 30 menit. Menyembelih hewan kurban dalam jumlah yang banyak memang tak sulit bagi Usman.
Pria penghobi bola itu sudah terlatih memotong hewan kurban dalam jumlah yang jauh lebih banyak. Itu karena sejak tahun tahun 2006 hingga saat ini, Usman bekerja sebagai penyembelih hewan di perusahaan pemotongan hewan di Austarlia.
Saat ini, telah tiga tahun ia bekerja sebagai tukang jagal di Beef City, sebuah perusahaan pemotongan hewan di Queensland, Australia. Beef City merupakan perusahaan pemasok daging sapi halal ke negara-negara Islam. Termasuk Indonesia. Sebelumnya, sejak tahun 2006, ia telah bekerja di empat perusahaan pemotongan hewan di negeri kanguru itu.
Di tempatnya bekerja, Usman rata-rata menyembelih 546 ekor sapi per hari. Penyembelihan dilakukan secara manual. Jika dihitung dalam tiga tahun terakhir, seorang Usman telah menyembelih 3 juta ekor sapi.  
Menyembelih sapi sebanyak itu, ayah tiga anak itu memiliki alat dan  trik tersendiri.  Salah satunya adalah mengandalkan pisau khusus. ‘’Ini pisaunya. Ukurannya macam-macam. Tapi saya suka yang kecil,’’ katanya sembari menunjukan dua pisau khusus miliknya yang melengkung.
Dua pisau dengan desain khusus itu, produk Jerman. Diantaranya merk Victory Nox. Karena produksi khusus, dijamin sulit ditemui di tempat lain.
Salah satu pisau yang dimilikinya berukuran panjang 18 cm. Tapi ukuran pisau sembelih yang lebih bagus berukuran 14 cm. Walau ukuran kecil, tapi ampuh untuk menyembelih sapi ukuran jumbo dengan ukuran diameter leher rata-rata 80 cm.
‘’Kuncinya ada di pisau ini. Pisau harus tajam. Sekali kena, langsung selesai,’’ jelasnya. Agar ampuh menumbangkan sapi jenis heather foord, Brahman hingga black angis, setiap 40 ekor sembelih, wajib asah pisau.
‘’Ukuran ketajaman pisau yang baru diasah ditentukan dengan beberapa cara. Salah satunya memotong tisu. Sekali ayun, tisu harus terputus,’’ terang Usman yang salah seorang putranya menjadi anggota Angkatan Udara Australia itu.
Menyembelih hewan dalam jumlah yang banyak, ternyata bagi dia bukan mengandalkan tenaga atau kekuatan tangan. ‘’Yang diandalkan dan diutamakan itu pisau yang tajam,’’ kata dia menegaskan.
Kendati menyembelih sapi dalam jumlah yang sangat banyak, namun tak boleh asal-asalan. Sebab harus mememuhi syarat syariah. Diantaranya sapi tak boleh cacat. Bahkan sapi tak boleh teraniaya.
‘’Sembelih harus cepat agar hilangkan rasa sakit berlebihan pada sapi. Pisau selalu tersembunyi di sarung khusus sehingga tak dilihat oleh sapi,’’ kata pria yang mulai merantau ke Australia sejak tahun 1984 itu.
Sekali sembelih, sapi harus mati. Jika tak langsung mati, bisa saja penyembelihnya dikejar lalu diseruduk oleh sapi. ‘’Harus sekali sembelih langsung mati. Kalau sampai dua kali atau berlebihan menjadi tidak halal,’’  terang dia.
Cara inilah yang kini ditularkan di Malang. Ia mengajarkan enam warga di Malang tentang teknik menyembelih hewan kurban yang benar. Semuanya itu dilakukan secara gratis.
Hanya saja warga yang diajarinya belum sepenuhnya mengadopsi ilmu Usman. Warga masih terbiasa menggunakan pisau tardisional yang ukurannya lebih besar. ‘’Mungkin belum terbiasa. Padahal menggunakan pisau kecil lebih mudah,’’ kata dia.
Kendati ahli menyembelih sapi di Australia, ternyata Usman juga perlu menyesuaikan saat menyembelih hewan kurban di Malang. Pasalnya hewan yang disembelih di Malang biasanya dalam keadaan penuh terikat.
Hal ini tentu cukup sulit baginya. Sebab di Australia, sapi yang disembelih berada dalam tempat yang disiapkan secara khusus tanpa ikatan. Tempat khusus menyerupai kandang untuk ukuran seekor sapi.
‘’Karena itu saat menyembelih hewan kurban di Malang, saya biasanya melepas sebagian ikatan di bagian kepala. Kemudian langsung sekali ayun saja,’’ kata dia.
Setelah berada di Malang sejak Februari lalu, kini Usman juga mulai siap-siap kembali ke Australia. Rencananya November nanti ia harus kembali bekerja di negeri rantaunya. Tapi seperti tahun ini, pada saat bulan-bulan jelang Idul Adha, Usman akan kembali ke Malang. (vandri battu)