Ulang Sejarah Dua Kali, Usai Panen Bangun Rumah

Kejayaan Sektor Pertanian yang Sempat Jadi Primadona KWB
Ketika masih menjadi Kotatif, Batu sangat terkenal dengan hasil pertaniannya. Apel juga menjadi komoditas yang paling menonjol daripada buah lainnya. Sementara di sektor sayur, kentang, bawang merah dan putih, selalu membanjiri pasar daerah, hingga luar negeri. Tak heran, dulu, menjadi petani suatu kebanggaan dulunya.
Beberapa tahun lalu, tepatnya ketika Kota Batu masih menjadi bagian dari Kabupaten Malang, kota ini, pernah dinobatkan sebagai daerah penghasil buah terbesar di Indonesia. Termasuk penghasil sayur-mayur.
Jadi tak heran, sehabis panen, ekonomi petani langung meningkat drastic. Bahkan sudah menjadi tradisi di kalangan petani, untuk menikmati hasil jerih payahnya tersebut. Mulai membangun rumah baru, beli mobil, hingga menyisihkan uangnya untuk ditabung.
‘’Kejayaan petani saat itu, benar-benar dirasakan. Kemakmuran serta harkat hidup masyarakat, terus meningkat. Terutama di daerah Bumiaji, Tulungrejo dan Bulukerto, yang merupakan sentra penghasil apel terbesar di Batu,’’ kenang H Mashuri Abdul Rochim, mantan Ketua DPRD Kota Batu, dua periode ini.
Tak heran, sektor pertanian benar-benar menjadi pendapatan asli daerah, yang sangat diandalkan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, kejayaan petani mulai redup. Banyak faktor menjadi penyebab.
Pohon apel yang mulai tua, lahan pertanian makin banyak yang berubah fungsi, hingga semakin tingginya biaya produksi pertanian. Akibatnya, petani mulai enggan melanjutkan pertaniannya. Lahan mereka jual, termasuk kebun.
Belum lagi generasi muda, semakin mengabaikan perkembangan pertanian didaerahnya. Mereka lebih memilih pekerjaan yang pasti dan menjanjikan untuk kelangsungan hidupnya.
Momen hari jadi ke-12 ini, kata dia, seharusnya dapat kembali menengok keberhasilan dari sektor pertanian terdahulu. Karenanya, komitmen Pemkot Batu, untuk kembali menggalakkan pertanian, lewat jargon : ‘’taniku wisataku’’, harus dimanfaatkan secara baik. Termasuk menjadi peluang besar bagi petani untuk bangkit.
‘’Langkah pemerintah saat ini, patut di apresiasi. Ternyata pemerintah sudah sadar, potensi Batu seyogyanya memang terletak dipertanian. Ini bakal mengulang sejarah keduakalinya jika bisa dijalankan dengan baik,’’ jelas pria yang kini menjadi dosen di STIH Malang itu.
Sekalipun saat ini, Batu lebih dikenal dengan kawasan wisata, daripada potensi alamnya, bukan lantas hal ini menjadi bumerang. Namun bagaimana menjadikan sektor pariwisata, baik yang bersifat alami ataupun buatan, memaksimalkan potensi yang ada.
Karena Kota Batu secara geografis, memang sempit. Tapi sangat potensial. ‘’Pemerintah, mempunyai tugas besar. Bagaimana mengatur tata ruang atau tempat wisata, agar tidak berpusat disuatu tempat,’’ sebut dia.
Pria yang dulunya juga mantan Ketua DPRD Kabupaten Malang ini berharap, Kota Batu tidak menjadi Kota Perumahan. Melainkan pertanian dan wisata.
‘’Sebaiknya juga fokus untuk meningkatkan potensi Kota Batu. Jikalau nantinya mau pemekaran daerah, butuh persiapan yang matang,’’ paparnya dengan lugas saat ditemui di rumahnya, Rabu (16/10) kemarin.
Mashuri juga yakin, salah satu unsur kemajuan Kota Batu, terlihat dari sektor pemerintahan. Secara SDM, dilingkungan Pemerintah Kota Batu, terdapat sekitar 3.000 pegawai.
Pastinya lebih mudah dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat. Padahal, dulu saat berstatus kecamatan, hanya diurusi oleh 16 pegawai yang harus mencakup 20 Desa.
Ke 16 pegawai tersebut, dibebani pekerjaan yang begitu luas. Mulai dari perpajakan, kependudukan hingga pemilu. Kesemuanya bisa ditangani secara baik.
Pada tahun 1992, pegawai atau staf bertambah menjadi 36 orang, serta adanya dua kendaraan dinas. Satu untuk wali kota dan satunya lagi untuk sekretaris. Dengan penduduk 120 ribu orang.
‘’Untuk ngurus masyarakat Batu dulunya hanya dikerjakan 16 orang dan berjalan efektif. Kini para pegawai yang sudah banyak seharusnya lebih baik lagi dari segi pemerintahannya agar pembangunan Batu semakin pesat,’’ ungkap pria 58 tahun ini kepada Malang Post.
‘’Belajar dari terdahulu, saat masa transisi, Kota Batu pernah mencapai kejayaannya. Yakni dari sektor pertanian, pemerintahan dan wisatanya. Kesimpulannya, tiga hal tersebut yang mampu mengangkat nama Batu,’’ imbuhnya sambil tersenyum. (Miski Almaduri)