Usia 13 Tahun Sudah Main Bola di Tiga Negara

BERPRESTASI: Muhammad Donanda Ilham (kanan) dan  Muhammad Fitroh Faidzin (kiri) di depan Balai Kota Malang setelah mendapat apresiasi dari Wali Kota Malang H. M. Anton

Dengan usia belum genap 13 tahun sudah banyak berbicara di tingkat nasional dan internasional. Tak tanggung-tanggung, dua pemain ini telah melalang buana ke tiga negara karena prestasinya di bidang sepak bola.
Muhammad Donanda Ilham dan  Muhammad Fitroh Faidzin, dua nama ini menjadi kebanggaan banyak pihak dengan segudang prestasi yang ditorehkannya dari bermain sepak bola. Pemain binaan Pengcab PSSI Kota Malang melalui klub Banteng Muda itu sudah tiga kali merasakan bermain di rumput luar negeri, yakni Swedia, Myanmar dan Vietnam.
Kedua pemain ini pertama kali tampil di kancah internasional pada tahun 2012 silam bersama Banteng Muda dalam Grass Root Go to Gothia Cup di Kota Gothenberg, Swedia. Dona dan Faidz – sapaan akrab dua anak ini – saat itu turut membawa Banteng Muda juara tingkat nasional sehingga berhak lolos ke Swedia. Dalam skuad itu, Dona berposisi sebagai gelandang tengah, sedangkan Faidz ada di sayap kiri.
Prestasi Dona dan Faidz tak cukup sampai disitu. Keduanya juga masuk dalam skuad Timnas U-14 pada Piala AFC U-14 di Myanmar Juni 2013 lalu. Keduanya terpilih menjadi bagian dari tim asuhan Mundari Karya setelah melakoni seleksi panjang dan menyisihkan ratusan pesaing dari berbagai daerah.
“Seleksi dan TC akhir di Depok, Alhamdulillah kami bisa masuk skuad,” ujar Faidz ketika ditemui Malang Post di Balai Kota sesaat setelah mendapat apresiasi dari Wali Kota Malang Abah Anton pekan lalu.
Apresiasi yang diberikan Abah Anton ini terkait dengan suksesnya tujuh pemain Banteng Muda yang turut mempersembahkan gelar Runner Up bagi Timnas Indonesia U-13 dalam Yamaha Asean Cup di Vietnam pada awal Oktober 2013. Lagi-lagi Dona dan Faidz tergabung dalam tim besutan Rohmat itu. Keduanya masuk dalam skuad inti bersama lima pemain Banteng Muda lainnya yakni Arviano Arighy, Diki Bintara, Wisnu Dwi Candra, Yericho Dwi Zakaria, dan Almayda Saputra.
Faidz terlihat malu-malu ketika diwawancarai Malang Post. Siswa kelas 2 SMPN 21 Malang itu cenderung diam dan enggan menceritakan pengalamannya saat di luar negeri. Hanya saja, Faidz menyatakan harapannya untuk masa depan.
“Ingin jadi atlet yang membanggakan orang tua, bangsa dan negara,” tutur pemain kelahiran 8 Januari 2000 itu.
Anak dari pasangan suami istri Muhammad Khoiron Rosady dan Nasikah ini mengaku sudah bermain sepak bola sejak kelas 4 SD. “Karena memang sejak kecil saya suka sepak bola, hampir setiap hari tidak bisa hidup tanpa menyentuh bola,” ungkap pemain yang mengidolakan M Ridwan itu.
Dalam melakukan latihan Faidz menyatakan tak menemui kendala berarti kecuali faktor cedera. “Terkadang kalau cedera saya cukup kesulitan bermain dan berlatih,” kata Faidz.
Sementara itu, ditemui pada kesempatan yang sama, Dona menceritakan kisahnya saat pertama kali keluar negeri membawa nama Indonesia. Siswa kelas 2 SMPN 4 Malang itu mengaku sangat senang saat itu bisa ke Swedia untuk membela Banteng Muda yang mewakili Indonesia.
“Saat itu sebenarnya saya masih tidak percaya, saya kira itu hanya mimpi. Bahkan saat perjalanan di pesawat saya sempat mencubit tangan saya untuk membuktikan bahwa itu kenyataan,” ujar pemain kelahiran Malang 21 Mei 2000 itu.
Menurut Dona, kesuksesan yang berhasil diraihnya tak lepas dari dukungan berbagai pihak, disamping usaha dan latihan serius.
“Keluarga selalu mendukung, Pengcab juga, saya sudah sejak 2010 dibina Pengcab di Banteng Muda,” tutur pemain yang mengidolakan Ahmad Bustomi itu.
Untuk menjadi yang seperti sekarang ini menurut Dona membutuhkan proses panjang. “Saya pertama kali main bola sejak kelas 3 SD dan selalu kerja keras, latihan rutin agar bakat terasah,” kata Dona.
Kendati sukses di lapangan bola, anak dari pasangan Yoyok Mulyo Wibawanto dan Tutik Wahyu ini mengaku tidak mau mengesampingkan pendidikannya di sekolah. “Kalau sekolah saya tetap masih serius, sepak bola dan pendidikan harus seimbang,” kata pemain yang suka makan bakso itu.
Suksesnya Dona meraih berbagai prestasi di bidang sepak bola menjadi kebanggan tersendiri bagi keluarganya. Ayah Dona,  Yoyok Mulyo Wibawanto mengungkapkan rasa bangganya atas kesuksesan Dona. “Alhamdulillah kami bangga dan terharu Donanda bisa keluar negeri sampai tiga kali, meskipun selama ini saya jarang mendampingi dia bermain,” ujar Yoyok kepada Malang Post.
Yoyok juga menceritakan kehidupan sehari-hari Dona di lingkungan sekitar. Menurutnya, Dona termasuk sosok yang tidak menuntut aneh-aneh. “Dona pengertian dengan teman, baik teman kampung, sekolah maupun bola,” ujarnya.
Sebagai orang tua Yoyok selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya. Ia berharap Dona bisa meraih cita-citanya menjadi pemain profesional di masa depan nanti. “Dan semoga tetap rendah hati meskipun sudah sukses nanti,” harapnya.
Selain itu Yoyok juga menyatakan ucapan terima kasih kepada Pengcab PSSI Kota Malang. “Terima kasih atas kepedulian dan dukungan terhadap anak kami selama ini,” tutur Yoyok.
Menanggapi dua atlet binaannya yang berprestasi, Sekretaris Umum Pengcab PSSI Kota Malang Haris Thofly mengaku bersyukur atlet binaannya bisa memberi sumbangsih bagi bangsa. Menurut Haris, dari capaian dua pemain ini nantinya bisa digunakan sebagai evaluasi untuk tim pelatih dan pengurus dalam menentukan pembinaan selanjutnya.
“Pembinaan terhadap Dona dan Faidz akan terus kami lakukan, tidak hanya berhenti sampai disini,” ujar Haris kepada Malang Post ketika ditemui di Kantor Pengcab PSSI Kota Malang. “Kalau sudah sukses gini kan enak, tidak hanya prestasi yang didapat, tapi juga sekaligus bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis, dapat apresiasi dari banyak pihak juga,” lanjut Haris.
Haris berharap para pemain lain bisa mencontoh Dona dan Faidz jika ingin sukses meski masih berusia belia. “Mereka berdua serius dalam berlatih, saya harap pemain lain bisa terinspirasi olehnya,” pungkas Haris. (Muhammad Choirul/jon)