Tersangka Curanmor yang Terpaksa Nikah di Musala Polsek

JODOH tidak akan pergi kemana-mana. Kalau sudah ditakdirkan untuk bertemu, lalu berlanjut kepernikahan, tidak mungkin bisa dicegah. Sekalipun penghalangnya jeruji besi tahanan. Seperti yang terjadi pada Heri Purwanto, tersangka curanmor yang terpaksa melangsungkan pernikahan di Mapolsek Gondanglegi. Seperti apa suasananya?

Senin (21/10) kemarin, setidaknya menjadi hari bahagia bagi Heri Purwanto. Pria 28 tahun, warga Dusun Bantur Timur, RT47 RW10, Desa/Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang.
Bagaimana tidak, setelah enam bulan menunggu, dia akhirnya bisa melepas masa lajangnya dengan menikahi Tugiyawati, 30 tahun, warga Dusun Jubel, Desa/Kecamatan Bantur secara sah. Janda dua anak itu, adalah wanita idaman Heri selama ini.
Namun, kebahagiaan yang dirasakannya hanya terhitung beberapa menit saja. Yakni saat melangsungkan akad nikah. Sebab usai pernikahan, keduanya terpaksa berpisah untuk waktu yang cukup lama. Tugiyawati, pulang ke rumahnya, sedangkan Heri, harus menjalani masa tahanan di Mapolsek Gondanglegi.
Ya, sejak Jumat (18/10) malam lalu, Heri meringkuk di balik tahanan Mapolsek Gondanglegi. Dia ditahan setelah tertangkap tangan mencuri sepeda motor Yamaha Mio, yang di parkir di persewaan play station (PS) di Gondanglegi. Bahkan, saat itu Heri nyaris saja tewas setelah menjadi bulan-bulanan amuk massa. Kondisi tubuh dan wajahnya babak belur.
‘’Ada senang dan tidaknya, Mas. Senang karena akhirnya sudah menikah dan menjadi suami. Namun tidak senangnya, lantaran tidak bisa berkumpul usai menikah. Sedih dan getun (menyesal, Red.),’’ tutur Heri Purwanto, kepada Malang Post usai melangsungkan pernikahannya.
Sebelum proses pernikahan dilangsungkan di Musala Al Mubarok yang ada dalam Polsek Gondanglegi, Heri tidak mengira kalau kemarin dia akan menikah.
Sejak meringkuk dalam tahanan, dia menduga kalau perkawinan yang sudah didaftarkan ke KUA Bantur, akan dibatalkan. Sebab, sama sekali tidak tanda-tanda, kalau pernikahan akan dilanjutkan.
Bahkan siang kemarin, dengan mengenakan kaos biru laut dan celana jeans, Heri masih menjalani pemeriksaan di ruang Reskrim. Kabar pernikahan tetap berlanjut, baru terdengar sekitar pukul 12.00, saat salah satu keluarga menghubungi Mapolsek Gondanglegi untuk meminta izin menikah.
Begitu diizinkan, beberapa menit kemudian, mempelai wanita datang dengan didampingi dua saksi. Yaitu Tukimin dan Purwantyo, kakak kandungnya. Sementara Heri, didampingi Sunardi, pamannya karena kedua orangtuanya berada di Kalimantan.
Tepat pukul 12.30, pernikahan dimulai dengan dipimpin Kepala KUA Bantur, Imam Chanafi, dengan disaksikan wartawan serta Kapolsek Bantur, Kompol Gatot Suseno.
Saat pernikahan, Heri memakai baju batik warna hijau kebiruan, yang sengaja dibawakan oleh Tugiyawati. Kondisi wajahnya masih terlihat babak belur. Dia dikawal petugas dari ruang Reskrim menuju Musala. Sedangkan mempelai wanita, memakai jaket warna pink dengan kerudung rajut warna putih.
Saat dihadapan penghulu, Heri terlihat lebih santai dan tersenyum. Sementara mempelai wanitanya, lebih banyak menundukkan kepala. Kendati sebelumnya tidak pernah mengucap ijab kabul, namun Heri lancar mengucapkannya. Terbukti sekali berucap, penghulu dan saksi langsung mengesahkan pernikahannya.
‘’Saya kenal dengan Tugiyawati itu sekitar setahun lalu. Perkenalannya lewat HP, setelah nomornya diberi teman. Sekitar empat bulan pacaran, pada bulan April kami menikah siri. Saat itu, belum bisa menikah sah, karena surat cerai istri saya belum keluar,’’ terang Heri.
Mas kawin uang Rp 100 ribu yang diberikan Heri, adalah hasil kerjanya sebagai tukang kayu sebelum ditangkap polisi. ‘’Saya rencanakan untuk bulan madu ke Kota Batu dengan menyewa villa, setelah bebas dari tahanan nanti,’’ katanya.
Setelah akan nikah selesai, Heri langsung digelandang ke dalam terali besi. Saat dimasukkan dalam tahanan, Heri terlihat tidak bisa menahan air matanya. Termasuk istri tercintanya.
Bahkan terdengar Heri terus berucap meminta maaf, sembari mencium tangan istrinya dari lubang kecil pada pintu tahanan. Sayang, ketika ditanya, Tugiyawati tidak mau menjawab dan langsung buru-buru pergi. ‘’Maaf saya sedang ada urusan,’’ katanya singkat.
Heri sendiri, sudah kali ketiganya masuk penjara. Pertama 2006 lalu, karena kasus pencurian ayam di wilayah Kecamatan Pakisaji. Kemudian pada 2008, dia ditahan di Mapolsekta Sukun karena kasus pencurian sepeda motor. Dia keluar akhir 2011, setelah bebas bersyarat.
Dan Jumat (18/10), kembali meringkuk ditahanan setelah ditangkap massa mencuri sepeda motor. Dalam pengembangan perkaranya, diakui ada delapan kali pencurian sepeda motor yang dilakukan sejak bulan Juli 2013.
Tiga kali di wilayah Kecamatan Gondanglegi, dua kali di Rumah Sakit Poncokusumo, sekali depan Puskesmas Tumpang, sekali di Pasar Tajinan dan sekali di parkiran DPRD Kabupaten Malang.
‘’Semua hasil pencurian itu, saya jual ke seseorang di Lawang, masing-masing seharga Rp 1 juta. Uangnya habis untuk bersenang-senang. Saya sendiri mendapat ilmu mencuri ketika meringkuk di LP Lowokwaru,’’ paparnya. (agung priyo)