Hilangkan Canggung, Anggap SBY Sebagai Senior

Telah kupilih jalanku sendiri
Dalam prinsip kehidupanku
Meski tak selalu akan indah
Ku yakin sampai di sana

Shendy Ristandi, Siswa SMAN 10 Bernyanyi di Depan Presiden
Menyanyikan lagu ciptaan Presiden SBY, langsung dihadapannya, adalah peristiwa yang tak bisa dihapus. Itulah yang dirasakan Shendy Ristandi, siswa SMAN 10 Sampoerna Academy Malang. Sebuah kejadian langka, yang sulit bisa diulang. Bagaimana itu bisa terjadi?

Ramah dan pandai berbicara. Itu kesan yang terlihat saat Malang Post menemui Shendy Ristandi, di ruang tamu aula Mercusuar SMAN 10 Malang Sampoerna Akademy.
Hanya dengan sedikit pertanyaan, siswa kelas 12 IPS 4 tersebut, langsung menjawab panjang lebar sesuai kronologisnya. Siswa asal Nganjuk tersebut, menceritakan, prestasi yang ia sabet 16 Oktober lalu, sebagai juara III lomba menyanyikan lagu milik SBY, adalah pengalaman tak terlupakan.
Dengan seleksi yang sangat ketat di tingkat provinsi, awalnya ia tidak menargetkan menjadi juara. Namun, ia juga ingin membawa nama baik Kota Malang.
Dengan prestasinya sebagai pemenang pertama Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Kota Malang, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, menugaskan Shendy mengembankan amanat yang lebih berat. Memperlihatkan salah satu potensi Kota Malang kepada Bapak Negara.
‘’Tahap penyisihan dilaksanakan pada 19 Agustus dengan ratusan peserta, mewakili kota dan kabupaten masing-masing. Lalu dari ratusan peserta tersebut, disaring 30 orang. Terdiri dari 10 orang peserta di tiga jenjang. SMP, SMA, dan umum,’’ terang anggota ekskul Forum Pelajar Peduli Indonesia tersebut.
Karena yang dinyanyikan bukan lagu sembarangan, Shendy mengaku berusaha keras untuk tampill maksimal. Meski rentang waktu antara seleksi di provinsi dan putaran final, 16 Oktober, sangat lama, namun setiap hari, ia memutar otak dan mempelajari teknik vokal yang pas untuk memperkuat karakter lagu yang akan dibawakannya nanti.
Hal ini bukan hal yang mudah. Dari sekitar 20 lagu yang diciptakan SBY, ada beberapa komposer yang mengaransemen musiknya. Sehingga mau tak mau, Shendy harus mempelajari puluhan lagu tersebut dengan versi yang berbeda-beda. Misalnya keroncong, jazz, pop, klasik, dan lain-lain.
Untung saja, perkenalannya dengan lagu-lagu SBY sudah dimulai sejak kelas VII SMP. Saat itu, ia juga mengikuti perjalanan SBY di panggung politik, sehingga lagu-lagu yang digubahnya, bisa dihubungkan dengan kondisi perpolitikan sang presiden maupun kondisi bangsa secara umum.
Jadi, meski lagu-lagu tersebut tidak bisa didownload dengan mudah dan tidak dikomersilkan, setidaknya, ia dapat mempersiapkan karakter suara yang dibutuhkan untuk lagu-lagu tersebut.
Penggemar grup band Avanged Sevenfold tersebut juga mengaku yakin bahwa ratusan peserta lain juga mengalami kendala yang sama. Inilah yang menyemagati putra kedua dari tiga bersaudara pasangan Rustamadji dan Suhartini tersebut untuk berusaha lebih kuat lagi. Keinginannya untuk unjuk vokal di hadapan Presiden SBY tinggal selangkah lagi.
‘’Siang malam saya bernyanyi sampai teman seasrama heran. Apalagi lagu yang saya bawakan, asing bagi mereka. Versinya juga mulai jazz hingga klasik. Jadi  lagu ini terkesan unik,’’ ujar pecinta warna biru dan hitam tersebut seraya tersenyum simpul.
Saat pelaksanaan babak final, Shendy ditunjuk untuk membawakan lagu ‘Ku Yakin Sampai di Sana’. Padahal, ia mengaku lebih matang pada lagu ‘Majulah Negeriku’ yang sudah ia kuasai sejak SMP.
Meski demikian, siswa andalan SMAN 10 Malang dalam dunia musik tersebut, mengaku tidak deg-degan. Untuk sementara, ia melihat SBY sebagai seorang bapak yang ingin melihat potensi putranya. Apalagi ia tahu, saat masih berstatus sebagai siswa, SBY pernah memiliki sebuah band. Tentu tidak salah jika ia memposisikan diri sebagai junior yang ingin menimba ilmu kepada seniornya.
Di akhir acara, saat pemenang untuk setiap jenjang diumumkan, Shendy mengaku kaget sekaligus bangga tak terkira. Pasalnya, SBY tak hanya memberinya hadiah berupa uang pembinaan, tropi dan sertifikat, tapi juga sebuah buku ratusan halaman berisi lagu-lagu lengkap beliau dengan berbagai versi lengkap dan biografi beberapa tokoh bangsa. Dengan buku itu, Shendy mengaku lebih mengenal sosok SBY.
‘’Dengan menulis lagu, bukan berarti presiden kita lebay atau membuang-buang waktu. Tapi itu artinya beliau berjiwa seni dan apresiatif terhadap musik. Bukankah kurikulum 2013 menitikberatkan seni untuk membantu penanaman karakter?’’ ujar penikmat kuliner jajanan tradisional tersebut retoris.
Selain itu, ada hal mengharukan yang membuat Shendy tersentuh. Yaitu hadiah dari Ibu Ani Yudhoyono berupa buku tulis. Buku tulis yang dimaksud Shendy, bukan buku tulis berbentuk agenda tebal yang lumrah dibawa siswa SMA, melainkan buku tulis tipis yang biasa digunakan siswa SD.
Buku tulis tersebut dikatakan oleh SBY sebagai hadiah simbolik. Artinya, ilmu dan karakter positif yang ditenamkan sejak pendidikan dasar tidak boleh dilepaskan begitu beranjak dewasa.
‘’Di usia ‘setua’ ini, saya mendapat buku tulis sederhana bertuliskan pepatah-pepatah luhur seperti ‘rajin pangkal pandai’ dari orang nomor satu di Indonesia. Dari lomba ini, saya menangkap pesan bahwa sampai kapan pun, ‘rajin pangkal pandai’ tidak boleh dianggap nasihat usang,’’ tandas pecinta film klasik ‘Wiro Sableng’ ini. (Laili Salimah)