Ronald Eduard, Pengrajin Gitar Corak Tradisi Ngalaman

Mocopatan mengalun syahdu dari bibir Ronald Eduard, pengrajin gitar dari Jalan Pisang Candi Barat 31 F Kota Malang. Vokal Ronald senada dengan senar gitar bernada pelog yang dia mainkan. Meski dua jari tangannya hilang, Ronald tampil memukau pengunjung Pesta Rakyat dan Pentas Seni Jawa Timur 2013 di halaman Stadion Gajayana.

Dua tangan berjari delapan itu pula, yang berhasil menciptakan karya gitar custom mahal nan ekslusif. Tak banyak pengrajin gitar custom idealis di Kota Malang. Bisa jadi, Ronald merupakan satu-satunya pengrajin yang idealis. Lewat karyanya, dia menampilkan seni tradisi seperti tokoh wayang beber hingga ukiran Panji Asmorobangun.
Dua karya gitar itu, masing-masing dibanderol seharga Rp 15 juta. Keduanya karya yang istimewa, karena ukirannya ditorehkan para seniman seni tradisi. Gitar ukir Adipati Karno, contohnya. Dipahat oleh Tri Ganjar Wicaksono, dalang muda Wayang Beber, sekaligus putra almarhum seniman topeng malangan Sutrisno asal Glagahdowo.
Sedangkan gitar ukir Panji Asmorobangun, dipahat oleh Sulik, murid maestro seni tradisi Topeng Malangan, alm Mbah Karimun. Dua gitar ini melalui proses penciptaan yang didahului perenungan. Setelah ukiran dipahat dua seniman itu, finishing dilakukan oleh Ronald di workshop sederhana miliknya.
‘’Saya ingin musisi di Malang lebih menghargai produk lokal dan mau mengangkat tradisi lokal Malangan,’’ ujarnya.
Ronald yang memulai membuat gitar tahun 2004 itu, sempat terkena musibah. Tahun 2010 dia mengalami kecelakaan sehingga dua jarinya hilang. Padahal sebagai seorang gitaris dan pengrajin gitar, dua jari tangan kirinya itu memiliki fungsi yang penting.
‘’Ada sesuatu hal yang membuat saya bergelora untuk tetap berkarya meskipun dua jari hilang. Saya berlatih cukup lama,’’ jelasnya.
Kehilangan jari tangan, justru mendatangkan anugerah lain bagi Ronald. Tiba-tiba saja, vokalnya malah semakin menonjol. Walhasil, diapun juga kerap tampil menyanyi sembari memetik gitar sendiri, seperti ketika tampil di panggung Pesta Rakyat dan Pentas Seni Jawa Timur 2013.
‘’Saya mocopatan sambil memetik gitar, menyanyikan lagu yang dulu saya ciptakan bersama Ganjar,’’ katanya.
Ini juga pencapaian luar biasa, Ronald memainkan gitar still miliknya dengan tuning yang unik. Pria ini memainkan pelog tuning, lagu Jawa Anyun-anyun, ladi kuwung, tragis serta gunungan. Empat komposisi cantik itu, dihasilkan bersama Ganjar, ketika masih aktif dalam kelompok musik Lokononto.
‘’Sebelum menjadi pengrajin gitar, saya dulunya memang musisi,’’ akunya.
Pada tahun 1991 sampai dengan 1999, Ronald tergabung dalam band Parasu beraliran heavy metal. Kemudian pada tahun 2000 – 2003 tergabung dalam band Sarabak. Band ini menjadi salah satu band yang tampil pada World of Music di GWK Bali.
‘’Band yang tampil saat itu diantaranya grup Sujiwo Tedjo, Sawung Jabo, Wayan Sadre, bandnya Inisisri dan banyak lagi,’’ jelasnya.
Tuntas bermain band, kemudian Ronald berkeinginan membuat gitar secara otodidak. Keinginan itu harus direalisasikan sebagai wujud dendamnya karena tak mampu membeli gitar. Prosesnya pun melalui trial and error yang cukup lama. Gitar pertama dia buat dari kayu kuburan yang seratnya tak beraturan.
‘’Biasanya bikin gitar serat lurus, saya waktu itu justru sebaliknya,  itu gitar pertama saya hingga sekarang,’’ terangnya sembari terkekeh.
Pada tahun 2004,  tiga gitar karyanya juga dipesan rekan sesama seniman di teater Kandang Universitas Negeri Malang. Seingat Ronald, ketika itu, gitarnya dibeli seharga Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu. Teater itupula yang juga ikut menggodog idealisme seniman Ronald Eduard.
‘’Saya ubah mesin sedot air untuk gosok body gitar, namun saat itu masih kurang sempurna, karena saya belum bahan truss rod gitar untuk membuat adjusting neck, setahun berproses baru memahami itu,’’ terangnya.
Setelah itu, gitarnya semakin sempurna, bahkan dipesan Australia seharga Rp 5 juta. Ada juga warga Belanda yang membeli gitarnya untuk dibawa pulang seharga Rp 3 juta. Belakangan, selain menciptakan karya seni tradisi dari Sulik dan Ganjar, Ronald juga membuat series gitar.
‘’Series gitar ini saya beri nama Lusiana. Itu nama istri saya. Ada akustik silence serta elektrik, harganya sekitar Rp 4 jutaan,’’ urainya.
Dalam waktu dekat, pria ramah ini berencana membuat gitar motif batik Blimbing. Dalam pameran di halaman Stadion Gajayana, pengrajin batik mendatangi dirinya. Mereka akan berkolaborasi melahirkan gitar dengan motif batik lokal.
‘’Memang gitar saya belum pernah didaftarkan ke hak cipta, karena belum tahu prosedurnya,’’ akunya lirih. (Bagus Ary Wicaksono)