Knee and Toes, Ciptakan Karya Melalui Akustik Kelas Dunia

Memilih akustik sebagai genre musik untuk digeluti, dengan memanfaatkan gitar, ternyata mampu menghadirkan alunan nada yang indah dan nyaman. Bahkan karena rasa itu, membuat dua muda-mudi ini, diundang ke Inggris. Padahal usia duo Knee and Toes, belum seumur jagung.

Knee and Toes, kelompok duo musisi yang memilih jalur akustik ini, memang telah tampil di banyak panggung Internasional. Duo yang terdiri dari Ristri Putri dan Bie Paksi ini, setidaknya telah tampil di 30 venue di Inggris Raya.
Tujuh kota besar seperti London, Manchester, Liverpool, Brighton, Bristol, York, dan Edinburgh sudah pernah dihibur oleh penampilan Knee and Toes.
‘’Kami ke Inggris karena undangan seorang teman. Kami berkesempatan untuk perform di Inggris Raya pada tahun 2011,’’ ujar Bie Paksi kepada Malang post ketika ditemui usai tampil dalam sebuah acara di Universitas Ma Chung, beberapa waktu lalu.
Selain itu, dalam waktu dekat Knee and Toes sudah ada agenda untuk tur ke Malaysia dan Singapura. Tur itu dilaksanakan dalam rangka mengenalkan nama Knee and Toes dan beberapa singlenya ke dunia Internasional.
‘’Insya Allah bulan November 2013 ini, kami akan melakukan tur musik ke Malaysia dan Singapura dalam rangka promosi Knee and Toes,’’ tutur pria kelahiran Tulungagung itu.
Duo yang terbentuk di Malang, Juli 2010 itu sendiri, telah memiliki banyak single yang termuat dalam beberapa albumnya. Pada tahun 2010 mereka merilis satu single dan satu mini album yang berjudul  A Journey.
Dua tahun berselang, Knee and Toes kembali mengerjakan satu album. Kali ini original soundtrack untuk sebuah film independen. Di akhir tahun 2012  Knee and Toes merilis full album Dammit I’m Mad. ‘’Secara fisik, kami merilis baru dua album yaitu mini album A Journey (2010) dan album Dammit I’m Mad (2012),’’ ujar Bie, sapaan akrabnya.
Lahirnya Knee and Toes berawal dari adanya permintaan Ristri untuk membantu penggarapan proyek solonya kepada Bie di tahun 2009. ‘’Ketika bertemu, kami sharing dan jamming bersama, akhirnya keduanya memutuskan untuk menggabungkan diri menjadi duo,’’ kata Ristri. ‘’Sebelunya kami sudah saling mengenal sejak tahun 2006 di sebuah forum chatting tentang musik,’’ imbuhnya.
Pada saat sedang melakukan recording yang saat itu masih menggunakan nama Rie & Bie, keponakan Bie yang masih kecil datang dan ingin ikut rekaman.
‘’Ketika kami suruh nyanyi, ternyata lagu yang dinyanyikan adalah Head, Shoulder, Knee, and Toes. Dari situ kami merasa suka kata Knee & Toes,’’ aku wanita yang hobi bermusik dan membaca itu.
Menurutnya, selain karena mudah diingat dan simple, mereka merasa Knee & Toes adalah kata yang unik dan belum digunakan oleh siapapun. ‘’Kami googling dulu sebelum memutuskan menggunakan nama tersebut,’’ terang wanita yang tinggal di daerah tinggal di Purwantoro Malang itu.
Nama itu juga berdasarkan pilihan musik Knee and Toes yakni akustik, yang merupakan jenis musik yang paling sederhana sehingga bisa dikatakan suara akustik adalah basic (dasar) atau akar dari musik yang ada saat ini.
‘’Karena di tubuh manusia, posisi lutut dan jari kaki ada di bawah untuk menopang tubuh, sama seperti musik akustik yang posisinya bagai akar, sebagai dasar penopang musik lainnya,’’ ungkap Ristri. Selain itu, menurutnya lutut dan jari kaki seakan cocok menggambarkan langkah pertama yang ingin mengawali perjalanan ke dunia musik saat itu. ‘’Kami merasa seperti Knee and Toes yang artinya lutut dan jari kaki,’’ jelasnya.
Sebagai anak bangsa, tentu mereka mempunyai harapan untuk negeri ini. Keduanya berharap agar pemuda-pemudi Indonesia lebih banyak berkarya sebagai kreator atau pencipta. Mereka juga terus menciptakan karya guna mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
‘’Kami akan terus berkarya sebagai musisi dari Indonesia. Semoga musik kami bisa memberi pesan bagi generasi muda  bangsa Indonesia selanjutnya,’’ pungkas Ristri. (Muhammad Choirul)