SLB Negeri Pembina Lawang Menuju Rekor MURI

Menyandang predikat sebagai ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), bukan akhir dari segalanya. Realita itulah yang ingin ditunjukkan lima siswa SLB (Sekolah Luar Biasa) Negeri Pembina Tingkat Nasional bagian C di Desa Bedali, Kecamatan Lawang. Mereka bakal membuat gebrakan untuk masuk rekor MURI. Apa itu?

Melantunkan 100 lagu dengan durasi sekitar 13 jam. Rekor MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia) itulah, yang tengah dirintis oleh lima personil ‘The Special Band’, grup musik milik SLB Lawang.
Melalui lantunan tembang, petikan gitar dan dentungan drum, serta dua alat musik lainnya, personil yang kesemuanya cowok itu, mencoba untuk membuat gebrakan, yang diharapkan bisa menjadi motivasi untuk berprestasi bagi ABK lain.
Sekilas, boleh jadi apa yang akan dilakukan oleh Dadang Tria Handoko (vocal), Ario Surya Prasojo (keyboard), keduanya tunanetra (keterbatasan penglihatan). Kemudian Ervian Rahman Wijaya (drum), Rizal Adit Nugroho pada Gitar dan Bintang pada Perkusi, ketiganya tunagrahita (hambatan kecerdasan), adalah yang lumrah atau mudah. Namun dengan keterbatasan yang dimiliki, pastinya butuh persiapan ekstra.
Perjuangan untuk menjadi yang pertama itu, kini tengah disiapkan The Special Band. Desember mendatang, mereka akan tampil. Tidak hanya lagu-lagu yang akan disajikan. Namun, mulai irama dan ritme serta kondisi fisik personil, menjadi perhatian.
Masalahnya, dari total 100 lagu yang akan dimainkan, hampir semua adalah lagu-lagu pop dari band ternama dan sudah dikenal. Seperti lagu Dewa 19, Noah, Gigi, Wali hingga Nidji.
Bahkan, agar membuat suasana tidak monoton, tembang dari lagu-lagu dangdut pun, siap dilantunkan. Termasuk dari beberapa lagu yang disiapkan nantinya, adalah tembang dari (alm) Chrisye.
Yang menarik, untuk kelancaran atau memudahkan penampilan personil, alat musik yang akan dibawa dalam pemecahan rekor baru, adalah alat-alat yang digunakan selama latihan. Dengan kata lain, seperti pemegang keybord tidak perlu lagi mensesuaikan tata letak masing-masing tombol.
‘’Untuk sementara ini masih belum ada kendala. Namun, kondisi ini akan berbeda kalau alat musiknya harus diganti. Karena seperti saya, sudah sangat hafal dengan keybord dua tingkat ini,’’ kata Ario sesaat sebelum mengiringi tembang berjudul ‘Nakal’ milik Gigi.
Mengenai kelebihan dalam memainkan keybord, Ario menjelaskan, kalau ketrampilan yang dimilikinya itu sudah mulai dipelajarinya sejak kecil. Karenanya, saat masuk ketrampilan (pelajaran) musik di SLB Lawang, baginya sudah tinggal pendalaman alat musik itu.
‘’Karena jumlah lagunya sangat banyak, otomatis mau tidak mau akan menjadi kendala. Makanya, dalam setiap penampilan akan dibagi dalam 10 tembang dengan waktu istirahat 15 menit. Dari 10 tembang ke tembang berikutnya untuk keybord, akan dibagi file dan band. Siasat itulah yang nanti akan dipakai,’’ ungkapnya.
Berbeda dengan Ervian Rahman Wijaya, pemegang drumb. Dia mengaku butuh persiapan fisik yang ekstra. Masalahnya, durasi 13 jam adalah tempo yang sangat lama. Sementara dirinya, harus memainkan kedua tangan dan kakinya.
‘’Agar lancar dan tidak salah pukul, pastinya terus latihan. Yang terpenting pula, adalah pemanasan tangan dan kaki. Karena bagaimana pun, dalam mengiring lagu-lagu nantinya harus pas,’’ ungkap remaja yang baru dua tahun akrab dengan alat musik yang dipegangnya itu.
Dadang, sang vokalis mengaku tengah mencoba mengatur suara selama penampilan. ‘’Mudah-mudahan saja suara saya tetap bagus sampai selesai. Masalahnya, lagu-lagu yang dilantunkan nanti bukan nada-nada santai dan datar. Tetapi, nada lagu-lagu dengan nada tinggi dan keras,’’ paparnya.
Kepala Sekolah SLB Negeri Lawang, Yuni Astuti, menjelaskan, kemampuan lebih yang dimiliki muridnya, tidak terlepas dari pembinaan internal dan eksternal. Yakni, orang tua dan guru-guru. Lebih-lebih, sistem ketrampilan yang dijalankan di sekolahnya bersifat live skill.
‘’Jadi saat murid-murid akan masuk kelas tujuh, itu sudah diarahkan untuk bisa memilih ketrampilan yang ditawarkan sekolah. Ada delapan ketrampilan yang disiapkan. Salah satunya musik. Dari situlah, selanjutnya dilakukan pembinaan ke arah bakat yang dimiliki masing-masing murid,’’ ujar Yuni.
Dengan rencana pencapaikan yang akan dilakukan, wanita berjilbab itu berharap, kemampuan yang dimiliki itu mampu dikembangkan dan diteruskan. Sehingga, mampu menjadi bekal dengan skill yang ada itu.
‘’Harapannya tentu bisa terus berkembang. Tidak hanya memainkan, namun juga menciptakan lagu-lagu sendiri untuk dilantunkan,’’ tambahnya.
Nama The Special Band, sebenarnya bukan nama baru untuk nama band SLB Lawang. Tahun 2009 lalu, generasi awal dari band itu berhasil menjadi Juara III Tingkat Nasional. (sigit rokhmad)