Usung Reggae, Ingin Berkolaborasi dengan Seni Bantengan

Batu In Paradise (BIP) merupakan grup band beruntung, sebab band yang berdiri sejak 31 Desember 2008 lalu ini bakal menjadi band pembuka Konser NOAH, 23 November mendatang. BIP terpilih setelah menjadi juara dalam parade band yang digelar oleh panitia HUT Kota Batu kemarin, mengalahkan puluhan band lain.

2012 lalu, BIP juga menjadi band pembuka konser JKT 48 dalam rangkain HUT Kota Batu. Bedanya, tahun lalu mereka ditunjuk langsung oleh panitia, dan sekarang harus melalui perjuangan sengit untuk sepanggung dengan artis ibukota sekaliber NOAH. Mereka harus memberikan penampilan terbaik dan bersaing sengit dengan 26 band terbaik se Kota Batu.
”Semua band tampil bagus, berkarakter dan all out, makanya kami tidak menyangka jika terpilih,” kata Kordinator BIP, Anam yang juga gitaris ini.
Band yang digawangi Anam (Gitar), Erfan (Vokalis), Anwar (Bass), Yayan (Keybord) dan Tedjo (Drumer) ini mengusung lagu beraliran reggae, sebab mereka sejak dulu memang gemar dan akrab dengan aliran musik tersebut. Untuk persiapan tampil di konser NOAH nanti, mereka terus melakukan latihan rutin tiga kali seminggu. Rencananya, mereka akan menyanyikan empat lagu karya sendiri yaitu KWB, Habis Gelap Terbitlah Terang, Republik Sulap, dan Bumi Merintih. Tidak hanya menyanyi dan menyajikan racikan musik menarik, BIP juga menciptakan kreasi yang dijamin tidak mengecewakan para penonton.
Anam mengungkapkan, BIP akan berkolaborasi dengan seni bantengan saat menyanyikan lagu KWB, dengan catatan panitia menyetujuinya. Jika tidak,  opsi terakhir konsep dari panitialah yang bakal dipakai. ”Batu kan terkenal dengan bantengan, makanya kami ingin musik reggae berkolaborasi dengan kesenian bantengan, asal disetujui oleh panitia. Tapi kalaupun tidak disetujui, kami bisa memaklumi, karena selain BIP juga ada Iso Kuichi dan Scooby yang bakal jadi band pembuka nantinya,” terang pria ramah itu kepada Malang Post.
Selama ini, BIP tidak hanya manggung di Malang Raya, tapi mereka sudah cukup sering diundang hingga di Jogja, Solo dan Surabaya. Mulai dari tampil di sekolah-sekolah, cafe, pembukaan tempat hiburan, dan paling berkesan yaitu kerap kali diundang oleh Pemkot Batu untuk tampil di HUT RI dan pembukaan Alun-alun Kota Batu.
Sebenarnya, menurut Anam, mereka pernah ditawari untuk masuk dapur rekaman,  tapi para personil menolak sebab band tersebut didirikan hanya untuk menyalurkan hobi mereka, bukan untuk menjadi jalan menuju artis top atau terkenal. ”Kami bermain musik karena hobi dan hanya ingin menyalurkan bakat saja, kebetulan dengan eksisnya band ini banyak yang mengundang. Meski kadang dibayar seadanya,” ujar personil lain, Ervan sambil tertawa saat ditemui di Studio musik BIP di Jalan Diran nomor 38 Kelurahan Sisir, Kota Batu.
Ia menambahkan, kelahiran BIP berawal dari lima personil yang rumahnya berdekatan satu RT, dan kebetulan salah satu dari mereka punya studio musik. “Sayang jika ada studio musik hanya untuk disewakan, akhirnya kami membentuk BIP dan di usia kelima ini sudah ada dua album,” tambahnya.
BIP berharap, musik reggae yang mereka bawakan bisa diterima di kalangan masyarakat. Juga bisa digabungkan dengan kesenian daerah, serta masyarakat merasa terhibur saat menikmati sajian musik ini. ”Dari dulu masyarakat selalu berpikiran negatif terhadap musik reggae. Dari kondisi itu, kami berharap reggae juga dipandang sama dengan musik lain, karena niat kami memang untuk menghibur,” pungkas Ervan.(Miski Almaduri/han)