Main Gaji Tak Dibayar, Sekarang ‘Bergaji’ Puluhan Juta

KREASI SENDIRI: Yanuar tengah menaiki Gokart ‘pancal’ hasil rakitannya

Pemain Bola yang Kini Nyambi jadi Juragan Gokart Pancal
Di era 2010 lalu, Yanuar Tri Firmanda, tergolong kiper fenomenal. Terutama saat menyelamatkan Deltras dari degradasi. Sayang, saat memperkuat Persiba, namanya mulai hilang. Hingga akhirnya dia memutuskan mengakhiri kontrak dan kembali ke Malang. Siapa menyangka, ketika sepi main bola, dia justru punya kesibukan lain, yang menghasilkan uang puluhan juta sebulan.

Usia, memang menjadi hal yang ‘menakutkan’ pada pemain bola. Termasuk yang dialami Yanuar Tri Firmanda. Faktor usia, membuat karier dia sebagai pemain bola profesional, mulai meredup.
‘’Ketimbang tidak menentu, lebih baik kembali ke Malang dan berusaha mencari lapangan pekerjaan baru,’’ ungkapnya mengawali cerita.
Konon menurut dia, kariernya yang meredup, membuat dia mengakhiri kontrak dengan Persiba. Selama dua musim di klub asal Balikpapan itu, Yanuar hanya bermain 18 kali. Itupun di musim pertama. Selanjutnya, sama sekali tak mendapatkan kesempatan tampil. Belum lagi, gaji yang seharusnya dia terima, sering tak terbayar.
Pria berusia 33 tahun ini pun mengakui sudah sulit untuk kembali ke masa puncak. Termasuk sulit mendapatkan klub ISL. Kalaupun ada, mungkin hanya menjadi pelapis.
Faktor fisik, tidak lagi seperti tiga atau empat tahun lalu. Bahkan ketika moncer, Sriwijaya FC mengajaknya bergabung. ‘’Sayang dulu saya justru memilih Persiba, yang justru bermasalah. Tapi hidup harus berjalan. Banyak pelajaran dari sini,’’ papar jebolan SSB Kaki Mas ini.
Ketika kembali dari Balikpapan, sempat merasa limbung. Dia pulang, tanpa membawa prestasi dan hasil berupa materi. Ketika itulah, kreativitasnya muncul.
Ketika aktivitas pria yang memiliki tindik di dua telinganya ini terhenti, Yanuar menghabiskan waktu untuk merawat sang anak. Menghabiskan waktu untuk merawat sang bungsu, Devania, kiper nyentrik yang memiliki hobi ngetrail ini pun berkreasi dengan membuatkan mainan untuk sang anak.
Dia membuat mobil mini yang dia sebut dengan gokart mini. Kelebihannya, pengoperasian gokart ini tidak menggunakan mesin, namun dengan pedal layaknya sepeda angin. Menurut dia, ketika membuat gokart tersebut, juga bisa dipakai olahraga. Paling tidak, olahraga sambil momong dua putrinya, Devi dan Devania.
‘’Awalnya cuma membuat tiga (gokart), sesuai dengan ukuran anak saya. Tapi waktu di Kanjuruhan, ada ibu-ibu yang hendak menyewa. Ya saya suruh pakai saja, takut anaknya menangis. Eh, Vania ngambek meminta gokartnya,’’ papar mantan kiper Persema Malang ini.
Kemudian suami dari Setyowati ini pun membuat dalam jumlah yang lebih banyak. Kini, jumlahnya telah mencapai 25 unit, ada yang bentuk gokart, ada yang berbentuk otoped pula.
‘’Ada sekitar tujuh macam. Semuanya tetap menggunakan kaki untuk mengoperasikannya. Ya mancal saja. Peminatnya ternyata banyak. Padahal dulu sebagai ujicoba dengan 3 unit, hasilnya Rp 50 ribu dalam waktu 4 jam,’’ jelasnya lantas terkekeh.
Yanuar yang sempat memikat Benny Dollo ketika melatih Arema ini pun kini memiliki kesibukan baru menyewakan gokart mini. Lokasinya, di sisi timur Stadion Kanjuruhan yang dulunya kerap kali dipakai drag race oleh anak-anak muda.
Sekarang, area tersebut harus steril dari bisingnya suara mesin, dan Yanuar pun mengajukan diri kepada Dispora untuk memakai lokasi tersebut untuk berusaha. Izin didapat, dan setiap harinya Yanuar mulai standby untuk bekerja mulai jam 15.00 hingga 22.00.
Pria kelahiran 31 Januari 1980 ini sempat mendapat sindirian dari sang mertua. Seperti penuturan sang mertua yang sesaat pula menemani Malang Post berbincang dengan Yanuar, seputar pekerjaan menyewakan mainan seperti itu.
‘’Ibu bilang, mari oleh duwek gede kok gelem koen nggolek duwik ngene iki (habis dapat uang besar kok mau mencari uang dengan model seperti ini),’’ tambahnya dalam bahasa Jawa yang khas.
Setelah melihat hasilnya perhari ternyata lumayan, dalam hari normal mencapai Rp 300 ribu, dan bisa melonjak saat akhir pekan mencapai Rp 1 juta membuat sang mertua pun mendukung. Bagaimana tidak, sebulan Yanuar bisa meraup puluhan juta.
Pria yang memiliki hobby mengotak-atik motor dan dibuktikan dengan adanya bengkel di samping rumahnya ini pun mendapat restu. Bahkan, sang adik ipar kini turut membantunya dalam pekerjaan tersebut.
Bersama anaknya Devi, dan satu karyawan lagi, Yanuar menuju Kanjuruhan. Dia hanya absen ketika ada kegiatan yang tidak bisa ditinggal, seperti keluar kota untuk urusan di dunia sepakbola dengan bermain tarkam. ‘’Ya masih ikut tarkam kadang-kadang, sepakbola belum ada niatan saya tinggal,’’ tandas alumnus SMAN 1 Dampit ini. (Stenly Rehardson)