Veteran Kemerdekaan asal Jepang yang Terus Berjuang

HIDUP adalah perjuangan dan perjuangan, tidak pernah berhenti dalam hidup. Para pahlawan sudah memberi contoh, bagaimana kerasnya perjuangan untuk menggapai tujuan. Rachmad S Ono, salah satunya. Dia ikut memberi refleksi perjuangan di Hari Pahlawan, 10 November ini.

Seorang pria tua, keluar dari balik ruangan sebuah rumah di Jalan Cemara Kipas, Sidomulyo Kota Batu. Tangan kirinya putus. Tangan kanan memegang sebuah tongkat. Matanya juga sudah tidak bisa melihat, sehingga tongkat tersebut menjadi ‘mata’ ketika pria itu berjalan.
Dia adalah Rachmad S Ono. Pria kelahiran Hokaido Jepang tahun 1918. Sebagai orang kelahiran Jepang, gaya negara matahari terbit itu masih khas. Kulitnya sedikit lebih putih. Dia juga sering mengenakan topi khas dan kimono.
Meski lahir di Jepang, dia merupakan anggota Pasukan Gerilya Khusus Indonesia, setelah pendudukan Jepang di Indonesia berakhir tahun 1945. Dia ikut berjuang melawan Belanda dan sekutunya yang berusaha menghalangi kemerdekaan Indonesia.
Tangan kiri yang putus, adalah saksi nyata buah perjuangan karena terkena bom Belanda. Berbagai penghargaan sebagai gerilyawan, didapat Ono dari pemerintah Indonesia. Piagam penghargaan dan foto-foto ikut menghiasi dinding rumahnya.
Diapun juga resmi menjadi warga negara Indonesia dan menetap di Sidomulyo, setelah menikah dengan Darkasih, perempuan setempat. ‘’Saya datang ke Indonesia bersama 150 orang lain dari Jepang sekitar tahun 1940-an. Setelah Jepang jatuh, dengan adanya bom atom di Hirosima dan Nagasaki, sebagian sudah pulang ke Jepang. Sebagian mati di Indonesia dan sebagian tinggal di sini (Indonesia),’’ katanya singkat.
Salah satu veteran di Kota Batu ini harus berjuang keras ketika memutuskan tinggal di Indonesia. Dia pernah tinggal bersama orang-orang Jepang dan bekerja di Jakarta. Tapi tidak kerasan.
Dia juga pernah tinggal di Samarinda dan bekerja pada perusahaan rotan. Termasuk hampir mati di perairan Balikpapan, ketika perahu yang ditumpangi terbalik. Di tengah lautan, dia hanya bisa mengangkat tanganya sebelum diselamatkan awak kapal yang melintas. 
Bapak sembilan anak ini juga pernah ditusuk orang tak dikenal di Jakarta. Saat itu dia datang dari Samarinda, setelah dihubungi seorang teman di sebuah hotel. Sebelum masuk ke sebuah hotel, Ono sempat mampir ke toko dan membeli sepatu. Sepatu bekas kemudian ditenteng.
‘’Teman saya sudah meninggalkan hotel dan keluar. Sewaktu keluar dari hotel itulah, saya dirampok. Perampok mengira tas berisi sepatu bekas, terdapat uang karena saya keluar dari hotel. Dalam kondisi luka diperut, saya sempat mengejar perampok itu tapi akhirnya jatuh di depan sebuah kantor polisi. Saya kemudian ditolong dan dibawa ke rumah sakit,’’ katanya.
Dengan aneka perjuangan berat itulah, dia akhirnya lebih nyaman sebagai petani di Sidomulyo. Tanah seluas 0,5 hektar ditanami aneka tanaman. Mulai padi, jagung dan sayur.
Dia juga pionir petani yang menanam bawang di Sidomulyo hingga bumbu dapur itu, sempat menjadi ikon di Kota Batu. Dari pertanian itulah, dia bisa menghidupi istri dan anak-anaknya.
Saat mencangkul, dia juga hanya menggunakan satu tangan karena tangan kirinya putus. Saat itu, matanya juga masih bisa melihat sehingga bisa tertani dengan baik. ‘’Saya berangkat pukul 06.00 dan pulang juga pukul 18.00 sore,’’ tegas pemilik 13 cucu ini.
Dia menilai, warga Indonesia, khususnya pemuda zaman dulu, memiliki sikap yang keras demi suksesnya sebuah perjuangan. Mereka memiliki rasa nasionalisme yang tinggi karena apapun perjuangan pasti berorientasi kepada negara.
Semangat itu sangat berbeda dengan kondisi sekarang. Banyak pemuda justru memiliki sikap yang loyo. Mereka juga lebih mementingkan kepentingan pribadi atau golongan daripada kepentingan negara.
‘’Apalagi sekarang korupsi merajalela. Pemimpin Indonesia harus tegas melawan korupsi. Jika tidak, maka hancurlah negara ini. Korupsi sama bahayanya dengan penjajah,’’ punkas Ono. (febri setyawan)