12 Tahun Dampingi Tim, Jelajahi Manca Negara

Loyalitas tanpa batas. Ungkapan kesetiaan ini selalu jadi jargon utama Aremania dalam mendukung tim pujaannya Arema Indonesia. Namun, sebutan loyal layak disematkan pada satu sosok di balik layar gemerlap skuad Singo Edan. Yakni Mustakim. Kitman Arema ini dihormati karena kesetiaannya. Ia bahkan telah mengikuti Arema hingga keluar negeri. Seperti apa sosok Mustakim yang sudah 12 tahun mengabdi untuk skuad senior Arema?

Matahari menghangatkan rumput lapangan pangkalan Lanud Abd Saleh kemarin. Peluh bercururan di tengah-tengah sesi latihan pagi Arema Indonesia.
Seperti tak mau menyerah, sang surya terus saja membuat para penggawa Singo Edan basah oleh keringat latihan. Joko ‘Gethuk’ Susilo, yang hanya memberi instruksi di pinggir lapangan pun, terlihat kepanasan karena terik matahari.
Satu jam latihan memaksa para pemain melepas jersey yang sudah kuyup. Masih kepanasan meski sudah bertelanjang dada, air minum pun diserbu oleh Hendro Siswanto dkk demi mengurangi dahaga. Saat para pemain Arema sibuk menenggak air minum, ada satu sosok yang mulai mengumpulkan pakaian para pemain yang basah karena keringat.
Dengan cepat dan tangkas, sosok ini mengumpulkan jersey-jersey Arema. Tak hanya itu, sejenak kemudian ia mulai memberesi perlengkapan dan alat latihan. Pundak rentanya memanggul tiang-tiang kecil alat ketangkasan. Keringat jauh lebih banyak membasahi pria tua tersebut.
Namun, seperti tak peduli, ia tetap secepat mungkin memberesi alat latihan. Sebab, tim hendak kembali ke mess. Pria yang secara kasar disebut sebagai ‘pesuruh’ di lapangan latihan Arema ini adalah Mustakim. Kitman serta ballboy paling senior dalam skuad Arema Indonesia.
Dengan usia yang sudah menginjak 57 tahun, Mbah Takim, sapaan akrabnya, telah malang melintang bersama skuad berlogo singa itu lebih lama dari pemain atau pelatih yang pernah membela Arema. Mustakim mengaku sudah lebih dari 12 tahun mengikuti kemanapun Arema senior pergi.
‘’Saya sudah lebih dari 12 tahun di Arema. Yang namanya pengabdian, seperti ini. Tak hanya ada saat tim sedang kaya, tapi juga tetap mengabdi walaupun kondisi tim sedang turun. Sukanya banyak, dukanya juga banyak, hehe,’’ ujar Takim kepada Malang Post ketika diwawancarai di mess Arema, kemarin.
Tapi, sebelum 12 tahun mengikuti Arema senior, kesetiaannya kepada skuad Arema, bahkan sudah dimulai sejak Arema berdiri. Takim adalah satu-satunya ballboy yang pernah ikut mengawal Arema sejak berdiri tahun 1980-an.
Sekitar tahun 1985, bapak tiga orang anak itu sudah mengikuti klub cikal bakal Arema, yakni Armada 86. Dua tahun berjuang di Armada 86, yang sempat bernama Aremada, mendiang Acub Zainal dan sang putra Lucky, menjadikan klub tersebut bernama Arema Malang pada tahun 1987.
Tapi, ia tergabung dalam skuad junior dan menjadi kitman untuk skuad muda Arema. Ia belum mengabdi untuk tim senior.
Setelah 1992, ia vakum selama 7 tahun dari sepakbola karena bekerja di bidang perumahan. Tahun 1999, Takim kembali ke Arema karena dirinya kena PHK di pekerjaan tersebut.
Jadilah ia kembali bergelut dengan dunia kitman dan ballboy Arema junior. Setelah beberapa tahun ngopeni pesepakbola muda, Takim naik ke timnas senior saat Arema dilatih oleh Benny Dollo dengan investor Bentoel, sekitar tahun 2004.
Saat itulah, dirinya memulai pengabdian 12 tahunnya kepada skuad senior. Ia pun ikut merasakan prestasi Arema yang mulai naik. Tak hanya keliling Indonesia bersama skuad Arema, Takim juga merasakan tanah luar negeri ketika Arema berlaga di Liga Champion AFC. Tak hanya satu kali, ia berangkat ke negeri orang sebanyak empat kali.
Saat Arema dilatih almarhum Miroslav Janu tahun 2004, Takim ikut dalam tur ke Jepang dan Korea, yakni saat melawan Kawasaki Frontale (J-League) dan Chungnam Dragon (Korea).
Lalu, pada tahun 2011, Takim lagi-lagi bersama Miro berangkat ke Jepang dan Korea, yakni saat melawan Cerezo Osaka (Jepang) dan Jeonbuk Hyundai Motors (Korea).
Takim mengaku, berangkat keluar negeri dan merasakan suasana kandang dua raksasa sepakbola Asia itu tak pernah terbayangkan bagi kitman seperti dirinya.
‘’Saya gak pernah membayangkan bisa sampai empat kali keluar negeri. Kalau gak karena Arema, mungkin saya tak akan bisa merasakan Jepang dan Korea,’’ tandas pria yang berdomisili di Jalan Rangsang itu. (fino yudistira)