Sebagai Aremanita, Kenalkan Balekambang ke Khazakstan

Retno Ambar Arum, Miss Tourism Sport atau Putri Pariwisata Olahraga, baru kembali dari ajang pariwisata bergengsi, World Travel Market (WTM) di London. Mbakyu Kota Malang 2012 itu, banyak mendapatkan oleh-oleh dari tugasnya. Apa saja? Berikut penuturannya kepada Malang Post.

Postur tubuh yang semampai dan wajah rupawan, tidak lantas membuat Arum, tampil berlenggang kangkung di even World Travel Market (WTM), yang berlangsung 4-7 November kemarin, di gedung Excel, London.
Untuk ‘menjajakan’ pariwisata Indonesia, kepada dunia, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di salah satu PTN di Kota Malang ini, benar-benar menelusuri hingga ke pelosok negeri.
Meski tak sempat mencicipi secara fisik, Arum mempelajari dan menggali referensi tentang sejarah. Termasuk folklore, kehidupan sosial masyarakat dan kondisi geografis setiap destinasi wisata.
Tak heran, di replika kapal Phinisi yang menjadi Paviliun Indonesia, Arum tidak hanya menjadi ikon yang melayani pertanyaan pengunjung di booth information center tentang pariwisata, tapi juga didapuk menjadi pembawa acara Pentas Kesenian dan Budaya dalam acara yang sama.
‘’Tari yang kita tampilkan, adalah tari-tari tradisional Jakarta, Bali, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Utara. Salah satu yang dikagumi turis tentang kita, setiap tarian, bahkan di setiap gerakan tari Indonesia, selalu ada makna yang luhur. Inilah yang harus saya kuasai,’’ terang pecinta travelling ini.
Secara formal, dalam kegiatan tersebut, Arum mengemban 16 target pasar regional untuk 16 destinasi dan 7 minat khusus untuk pariwisata Indonesia. Namun, gadis berkulit putih ini mengakui bahwa diam-diam ia menyelipkan misi lainnya sebagai Aremanita.
Gadis yang berulang tahun setiap 15 November tersebut, mempromosikan destinasi wisata di Malang kepada dunia. Ia menuturkan, sebagian besar pengunjung paviliun Indonesia hanya mengenal Bali dan Lombok.
Padahal, di Indonesia ada jutaan tempat wisata yang keindahannya tak kalah dari kedua tempat tadi. Tak heran, saat Arum menunjukkan keindahan Pantai Balekambang, Sendangbiru, dan gunung Bromo, mereka langsung meminta rute ke lokasi.
‘’Salah seorang pengunjung asal Khazakstan, bahkan meminta saya menuliskan rute dari Surabaya ke Sendangbiru di buku yang ia bawa. Ia juga meminta saya mencantumkan alamat email. Ia berjanji akan segera mencari travel agent menuju Malang,’’ ujar putri pertama pasangan Drs Ec Wibisono dan Dra Shinta Ayu Nawang Wulan ini.
Gadis berambut panjang ini mengatakan, kekurangan dari wisata Jawa Timur, ialah tidak maksimalnya pemanfaatan alam yang sudah ada. Selain itu, infrastruktur dan akses menuju lokasi juga menjadi catatan penting yang ditangkap Arum. Menurut dia, setidaknya setiap tempat wisata difasilitasi dengan akomodasi yang layak dari segi pelayanan, kebersihan, dan keamanannya.
‘’Turis yang datang ke pavilion, umumnya menanyakan tentang ketersediaan infrastruktur dan kemudahan akses menuju lokasi. Selain itu mereka juga menanyakan tentang keamanan,’’ jelas Arum.
Selain lokasi, keunikan kuliner juga menjadi senjata Arum untuk ‘menjual’ Indonesia. Ia menceritakan, meski awalnya pengunjung heran dengan jenis permen asam dan jahe yang ia bawa, tapi saat salah seorang mencicipi, permen itu ludes seketika.
Keunikan rasa dan bentuk nasi tumpeng, juga menjadi obyek foto menarik bagi para pengunjung. Demonstrasi perawatan spa khas Indonesia dan Coffee Corner yang menyediakan beragam kopi Bali Kintamani, kopi Gayo, kopi Wamena, dan kopi Toraja Mamasa, juga membuat Arum bangga. Ia melihat puluhan pengunjung rela antri demi mencicipi kopi khas Indonesia yang aromanya menyedot perhatian pengunjung tersebut.
‘’Yang paling membanggakan, mereka mengenal Indonesia dari keramahan penduduknya. Menurut mereka, senyum Indonesia adalah the truly Indonesian beauty. Saat saya menolong pasangan suami istri yang kebingungan mencari air dingin, mereka memuji Indonesia dan berterimakasih hingga berkali-kali. Padahal bagi kita hal itu biasa-biasa saja,’’ ujar Arum seraya tersenyum.
Oleh-oleh Arum yang tak kalah penting, ialah penghargaan terhadap sejarah yang ditunjukkan oleh masyarakat Inggris. Menurutnya, Kota Malang tak perlu memiliki Big Ben untuk berbangga.
Candi, arca, dan bekas fondasi bersejarah yang tersebar, seharusnya menjadi magnet bagi turis mancanegara untuk berpelesir ke Kota Apel ini.
‘’Pusat belanja bersejarah seperti Toko Oen yang hingga kini menjadi jujugan turis asing, juga harus kita jaga,’’ imbuhnya.
Selanjutnya, Kota Malang boleh menunggu oleh-oleh lain dari Arum. Tak lama lagi, Arum akan kembali menjalankan tugas terkait pertahanan keamanan internasional di Brunei Darussalam. Dari negara serumpun itu, Arum berjanji untuk mempelajari banyak hal lain untuk dibawa ke Indonesia. (laily kendedes salimah)