Senang, Ruang Kelas dan Air Bersih Akhirnya Tercukupi

Ponpes Al Hayatul Islamiyah   Setelah Dibantu Dahlan Iskan
PENGASUH  Ponpes dan Panti Asuhan Al Hayatul Islamiyah KH Drs. Erfan Aziz M.Ag kemarin tertegun ketika mendengar nama Dahlan Iskan yang hari Jumat ini akan berkunjung ke Malang.  Kiai tersebut kontan langsung “nyerocos” soal kedatangan Menteri BUMN itu di ponpesnya tahun lalu. Terlebih, berkat kedatangan Dahlan Iskan, kini gedung kelas dan air bersih di Ponpes  tersebut sekarang akhirnya  berhasil tercukupi.

Abah Erfan demikian biasa disapa masih ingat ketika sang menteri ‘’Koboi’’ itu tiba-tiba datang ke ponpes. Padahal, meskipun berada di wilayah Kota Malang, lokasi ponpesnya tergolong pelosok. Sekonyong-konyong Dahlan numpang solat di masjid Ponpes yang terletak Jl.KH.Malik Dalam 01/04 No.1 Kedungkandang kota Malang.“Saat itu tidak ada air untuk wudhu, ya memang  kami  selalu kekurangan  air bersih,” ungkapnya kepada Malang Post.
Secara spontan, Dahlan yang datang bersama sejumlah pejabat Pelindo III langsung berjanji membantu. Ketika itu, Pelindo III yang ditanyai soal bantuan seperti itu. Pejabat Pelindo III secara cepat menjawab bahwa ada dana CSR yang bisa digunakan untuk ponpes itu.“Betul dibantu ya. Ini didengar langsung oleh anak-anak yatim piatu,” kata sang Kiai menirukan ucapan Dahlan kepada pejabat Pelindo waktu itu.
Beberapa waktu kemudian, dirinya diundang Pelindo untuk menerima bantuan secara simbolis. Bertempat di salah satu lembaga pendidikan di Kota Batu, Erfan menerima bantuan Rp 150 juta. Dahlan yang diminta menyerahkan, malah menunjuk pejabat Pelindo III.“Yang menyerahkan akhirnya ya pejabat Pelindo. Tapi menurut saya yang berjasa besar adalah Pak Dahlan. Sungguh luar biasa,” imbuh dia.
Kenapa luar biasa? Dana itu kemudian digunakan untuk membangun  satu ruang kelas dan tandon air. Tandon air bersih malah bisa digunakan ratusan warga Kedungkandang. Semula  tandon air itu hanya untuk keperluan Pondok pesantren dan panti asuhan saja.“Kami dalam proses membangun tandon ketika tiba-tiba  pihak Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Pengawasan Bangunan (DPUPPB) Kota Malang datang dan berjanji untuk membantu meningkatkan kapasitas tandon air,” imbuhnya.
Tak berapa lama, petugas  dari DPUPPB  Kota Malang mengucurkan bantuan Rp 228 juta. Namun bantuan tersebut dalam bentuk material bahan bangunan untuk membangun tower air. Kapasitas yang semula 5000 liter menjadi naik 10 kali lipat.“Ya ini karena Pak Dahlan, coba tidak diberi Rp 150 juta, maka tak ada tandon sebesar ini yang bisa digunakan warga dua RW,”  jelasnya.
Pengerjaan  konstruksi tandon air tersebut sudah mencapai 75 persen. Jika pekerjaan selesai, maka Ponpes dan warga Kedungkandang tak perlu mandi di Sungai Bango lagi. Sebab, air bersih sudah bisa mengalir hingga rumah mereka, apalagi lokasi tandon berada di areal yang lebih tinggi.“Penanganan tandon sendiri juga menjadi tanggung jawab DPUPPB, jika ada kerusakan mesin, mereka yang perbaiki, biayanya saja bisa mencapai Rp 37 juta,”  ungkapnya.
Jika tandon air belum selesai pengerjaannya, maka dana bantuan dari BUMN lainnya sudah direalisasikan. Yakni berupa ruang kelas Ponpes Al Hayatul Islamiyah. Kini ruangan itu telah bisa dipakai belajar mengajar.“Waktu Pak Dahlan kesini, kondisinya masih hancur. Sekarang bisa sampean lihat sendiri, bagus kan,” ungkap Erfan didampingi Lurah Kedungkandang Imam Subagyo.
Saking bangganya dikunjungi Dahlan Iskan, Abah Erfan mengaku mencetak foto-fotonya. Bahkan sebagian foto lainnya dijadikan kalender dan dibagikan kepada masyarakat. Sang kiai itu berharap, menteri ‘’Koboi’’ itu bisa mampir lagi untuk bertemu anak-anak yatim piatu.
Imam Subagyo selaku pemangku wilayah Kedungkandang, memberikan apresiasi positif kepada Dahlan Iskan. Dirinya juga tak menyangka bahwa pembantu Presiden itu bisa datang ke pelosok Kedungkandang. Kunjungan mendadak seperti itu yang sekiranya justru memberikan manfaat besar.“Kalau besok (hari ini,red) Pak Dahlan datang ke Kantor  Malang Post, ya kita harapkan  beliau masih ada waktu  sehingga  bisa mampir kesini lagi,”  harap sang lurah. (bagus ary wicaksono/nug)