Belajar Berkebun Secara Profesional di SMAN 7 Malang

School garden, tak hanya membawa pengalaman siswa, tentang pertanian yang sehat secara nyata. Di SMAN 7 Malang, kebun sekolah membawa memberi manfaat bagi siswa yang dari kalangan pra sejahtera. School garden di SMA yang terletak di Jalan Cengger Ayam itu, jadi solusi atasi biaya penunjang belajar.

Sebuah balai pertemuan, berdekatan dengan sumur resapan, taman anggrek gantung dan taman sekolah. Tumpukan genting, gunungan pasir dan batu untuk bahan bangunan gedung di lantai dua, tak mengurangi kenyamanan pertemuan.
Di balai inilah, siswa secara berkelompok didampingi oleh sejumlah guru. Mereka sedang belajar tentang dunia pertanian. Tentu yang berkaitan dengan kebun sekolah. Siswa yang terbagi dalam kelompok itu, mendapat penjelasan dari guru pendamping.
Sang guru memberi penjelasan tentang budidaya sayuran. Mulai dari sebelum hingga pasca panen. Setelah  jelas dan mengerti, 10 kelompok siswa yang masing-masing kelompok beranggota enam sampai 10 siswa itu, bergegas menuju lokasi lahan sayur mayur. Mereka tetap didampingi oleh guru.
Itulah salah satu potret aktifitas di school garden. Melalui konsep ini, siswa memiliki pengalaman terlibat dalam mengelola sebuah kebun sekolah. Yakni  kebun yang bernilai edukatif, padat nuansa pro kelestarian lingkungan.
Kebun sekolah milik SMAN 7 Malang, dikelola secara profesional. Para siswa dibagikan dalam beberapa pokja. Yakni pokja pembibitan, pokja sayur organik, hidroponik dan jamur. Ada juga pokja eko wira usaha. Setiap pulang sekolah, para siswa menyempatkan diri beraktifitas sesuai pokja di lingkungan sekolah.
Berbagai jenis sayuran ditanam di school garden. Diantaranya bibit sawi, bayam, kangkung, kalian, kucet, letus. Kalau hidroponik dikhusukan tanaman berusia pendek. Seperti sawi lotus. Bibit sayuran berasal dari bantuan  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang diprakarsai oleh dengan USAID.
Koordinator School Garden, Dwi Irani M.Pd mengatakan, sayuran yang ditanami dengan sistem organik itu, sudah pernah dipamerkan. Bahkan Lion Club ingin membeli setiap harinya. Namun karena belum panen setiap hari, permintaan itu belum dipenuhi.
Saat ini hasil pertanian organik dari school garden SMAN 7 Malang masih dikonsumsi warga sekolah. Mulai dari siswa, guru dan kantin.
Harga sayur yang dijual sangat terjangkau. Rata-rata sayur sela atau letus dijual Rp 4.000 per dua ons. Kankung seharga Rp 3.500, sawi Rp 3.000.
Karena dikelola dengan baik, tanaman school garden bisa panen dua kali dalam sebulan.Yakni pada setiap dua pekan. Sedangkan tanaman di green house bisa hingga tiga kali panen.
Gagasan school garden tercetus oleh Kepala SMAN 7 Malang, Hj Asri Widiapsari, S.Pd, M.Pd. ‘’Dari tempat penyimpanan barang tak terpakai dan lahan yang tak terpakai kemudian dijadikan lokasi school garden,’’ kata Dwi Iriani.
School garden, menurut dia, untuk memediatori para siswa belajar menghadapi hidup. Bahkan bisa menjadi solusi jika terdapat siswa yang kekurangan dana untuk penunjang belajar. Konsep membantu siswa itu sudah dijalankan.
Sejumlah siswa tak mampu, dilibatkan dalam pengelolaan school garden. Kendati dilibatkan secara langsung, namun konsepnya tidak mempekerjakan siswa melainkan ikut dalam pembelajaran di school garden.
Siswa tak mampu, yang terlibat dalam pengelolaan school garden, mendapat gaji seperti layaknya seorang karyawan. Dengan cara ini, maka siswa tak merasa seperti diberi. Saat ini terdapat lima siswa yang sudah terbantu dari hasil school garden.
Di sekolah ini, siswa juga diajak berinovasi dengan makanan berbahan sayur. Misalnya sawi dan tape di juice. Kemudian dijual ke siswa atau wali murid saat penerimaan raport.
Hal tersebut sekaligus menjadi media belajar bagi sekaligus menarik minat siswa mencintai makanan berbahan sayuran. Terutama sayuran organik. Hal itu pun merupakan cara terbaik mengajak hidup sehat dengan makanan yang sehat pula.
Sementara itu, disisi lain, para siswa yang tergabung dalam Pokja Eko Wira Usaha jugga belajar secara nyata memasarkan hasil mereka. Segmen pasarnya yakni guru-guru dan warga sekolah lainnya.
Asri Widiapsari juga mengatakan, program tersebut sebenarnya ingin mengajak siswa berinovasi. Terutama inovasi tanaman pertanian lantaran Indonesia merupakan negara agraris. Selain itu mengajak siswa untuk mencintai dunia pertanian. (vandri van battu)