Bermodal Rp 50 Ribu Hasilkan Rp 50 Juta Sebulan

Pensiun, bukan berarti akhir dari segalanya. Bahkan tidak menutup kemungkinan, justru masa pensiun, seseorang menemukan dunia yang sebenarnya. Seperti Endang Widati. Usaha tekstil yang digeluti wanita paruh baya ini, semakin sukses ketika ia pensiun. Bermodal awal Rp 50 ribu, sekarang beromzet Rp 50 juta sebulan.

Siang itu, seorang wanita berkacamata, berjalan tergopoh-gopoh masuk ke rumahnya yang terletak di Jl Raya Mendit Barat, Perumahan Bumi Mangliawan No. 20  Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis Kabupaten Malang.
Dia adalah Endang Widati saat itu menghampiri Malang Post yang telah menunggu di rumahnya. Wanita 58 tahun tersebut, menyapa seraya meminta maaf telah membuat menunggu lama.
‘’Maaf menunggu lama. Tadi saat berjualan di Pasar Minggu, masih banyak pelanggan. Jadi, tidak bisa ditinggal dan terpaksa pulangnya juga harus terlambat seperti ini,’’ ujarnya, sambil mempersilakan  duduk.
Ibu dua anak dan satu cucu ini, mulai bercerita mengenai kesuksesannya menggeluti usaha tekstil. Awalnya di tahun 1997 silam, dia mulai mendirikan End’s collection embroidery dan handicraft di rumahnya. Meski sejak lama, Endang punya hobi membuat pakaian dan menjahit.
‘’Saat itu, mayoritas industri maupun usaha, tutup terkena dampak dari krisis moneter. Namun, saat itu saya justru memulai usaha tekstil dengan bermodalkan Rp 50 ribu saja dan satu unit mesin jahit,’’ terang  wanita berkacama ini.
Modal Rp 50 ribu itu, dia belikan kain yang kemudian dibuat bed cover dan pakaian. Saat mengawali usahanya itu, dia masih aktif sebagai PNS di Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jatim di Karangploso.
Walaupun usaha sudah mulai berjalan, tapi mayoritas tenaga dan pikirannya, masih tercurah terhadap pekerjaan tetapnya. Sekalipun, wirausahanya, tetap tak ditinggal.
Pekerjaan sebagai PNS di BPTP Jatim dan wirausahanya End’s collection embroidery dan handicraft, berjalan seiringan. Namun diakuinya, usahanya itu belum menunjukan perkembangan yang cukup signifikan hingga tahun 2009.  
Keadaan seperti itu, membuatnya khawatir. Apalagi tahun 2010, dia akan memasuki masa pensiun. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Bila dia pensiun, untuk biaya hidup, hanya mengandalkan uang pensiunan saja, tidak cukup.
Namun, kekhawatirannya akhirnya sirna. Ketika awal pensiun, dia memberanikan diri lebih menyeriusi usahanya itu.
‘’Awalnya memang ada kekhawatiran tidak produktif lagi saat pensiun. Namun, berkat dorongan suami dan anak-anak, ternyata saya bisa juga,’’ terang wanita tamatan Sarjana Hukum di Universitas Merdeka (Unmer) Malang ini.
Lambat laut setelah pensiun, usaha tekstilnya terus menunjukan kenaikan. Hingga saat ini, dia mempunyai omset Rp 50 juta perbulan dari modal awal Rp 50 ribu.
Bahkan lantaran pesanan terus berdatangan, dia sekarang harus dibantu 15 karyawan, dengan 16 mesin jahit. Terakhir, dia sudah membuka outlet sendiri yang tidak jauh dari rumahnya.
Belum cukup sampai di situ saja, melalui usahanya itu pula, Endang Widati berhasil mengantarkan kedua anaknya lulus sarjana. ‘’Tahun kemarin, alhamdulillah saya juga baru saja naik haji, berkat keuntungan dari usaha tekstil ini,’’ ucapnya bersyukur.
Hasil karyanya seperti bed cover, taplak meja, selimut dan sebagainya, bahkan sudah menembus Kalimantan, Sumatera, hingga Batam. Itu belum termasuk kota-kota lain di Jawa. Diapun sudah berancang-ancang untuk melebarkan sayapnya ke luar negeri.
Endang pun makin yakin, kesuksesan yang diraih, tidak memandang umur. Saat muda bahkan pensiun di usia senjapun, bukan halangan untuk meraih kesuksesan beriwirausaha.
‘’Asal bila dikerjakan dengan serius dan semangat tinggi, bisa meraih kesuksesan. Tentunya pekerjaan yang ditekuni, juga harus disesuaikan dengan usia dan tenaga. Kalau masa pensiun atau saat tua, pekerjaan yang paling pas yakni seperti menjahit, memasak, membuat kerajinan dan aktivitas ringan lainnya,’’ tutupnya. (binar gumilang)