Onellius, Penerjemah Misionaris Gereja yang Muallaf

ONELLIUS Randi Tanjaya, bertahun-tahun menjadi penerjamah misionaris gereja dalam dan luar negeri. Banyak pengalaman pengetahuan berharga dari kegiatan kemanusiaan yang dilakukan. Termasuk saat Gus Dur hendak jadi presiden, beberapa tahun lalu. Dia mendapatkan informasi soal Gus Dur hendak jadi presiden ketika secuil kabarpun belum beredar di tanah air.

Randi, begitu pria yang tinggal di Jalan Raya Pandanrejo Kota Batu ini dipanggil. Dia belumlah terlalu tua. Umurnya sekitar 43 tahun. Kebanyakan, kehidupanya banyak digunakan untuk kegiatan-kegiatan kemanusiaan.
Sejak masih muda, pria dengan rambut sedikit panjang ini sudah banyak mengabdikan diri di lingkungan gereja. Karena keaktifan di gereja, dia diangkat sebagai pengerja (pembantu pendeta).
Karena berada dalam lingkungan gereja, pria kelahiran 28 Maret 1970 ini kenal dengan para pendeta, baik mereka yang berasal dari dalam dan luar negeri.
Randi memiliki kemampuan berbahasa Inggris. Makanya diapun memiliki profesi khusus, yakni penerjemah sekaligus guru bagi para pendeta dalam dan luar negeri. Para pendeta tersebut adalah misioner yang akan berangkat ke ke luar negeri maupun pendeta luar negeri yang menjadi misioner ke Indonesia.
"Saya belajar Bahasa Inggris lebih banyak otodidak. Setelah lulus SMA, hanya hanya kuliah D1 Kepariwisataan di Malang, setelah itu tidak ada lagi," ungkap Randi kepada Malang Post.
Pendeta luar negeri yang pernah 'diajar' Randi berasal dari Belanda, Australia, Amerika hingga beberapa negara Eropa. Mengajar seorang misionaris tentu berbeda dengan mengajar di sekolah, meski dia juga memiliki beberapa pengalaman mengajar di sekolah di Kota Batu.
"Saya paling hanya mengajar sebentar dalam ruangan kepada para misionaris itu. Semua harus praktis dan selanjutnya mereka harus banyak komunikasi di luar," ungkapnya.
Komunikasi di luar, kata dia, adalah praktek para misionaris dengan warga. Mereka bisa berkunjung ke rumah-rumah warga, menginap hingga melakukan kegiatan perekonomian di pasar.
"Mereka selalu menjalankan misi kemanusiaan. Jadi mereka harus bisa komunikasi dengan baik. Jika sudah berkomunikasi, saya terus memantau sebagai antisipasi jangan ada yang salah," tambahnya tanpa memikirkan ongkos untuk misi kemanusiaan. 
Ada berbagai pengalaman yang didapat dari kegiatan penerjemah sang misionaris tersebut. Pada era 1980-an, para misionaris sudah getol dengan internet. Padahal era itu di internet masih sangat sulit di Batu.
Para misionaris biasa menggunakan jasa Telkom untuk internet. Dalam satu bulan mereka bisa membayar Telkom sebesar Rp 30 juta per bulan.
Para misionaris ternyata memiliki informasi sangat cepat. Sekitar tahun 1997, mereka sudah tahu jika Gus Dur segera menjadi Presiden RI menggantikan BJ Habibie, padahal belum ada kabar resmi di Indonesia.
"Mereka tahu dari Amerika atau negara asalnya. Kabar dari Amerika menyebutkan Gus Dur yang akan menjadi Presiden, padahal di sini orang Indonesia belum ada yang tahu," tegas pria yang juga motivator ini.
Dia juga heran mengapa justru warga luar negeri lebih tahu dengan perkembangan di Indonesia seperti itu. Bisa jadi kabar apapun di Indonesia cepat terkirim ke Amerika sehingga warga mereka yang berada di sini cepat mengetahuinya.  
Sedangkan untuk pendeta yang memiliki misi keluar negeri, Randi biasanya mengajari mereka berbahasa Inggris. Tujuanya, mereka bisa melakukan komunikasi dengan warga negara yang didatangi.
"Mereka yang akan datang keluar negeri, biasanya sudah bisa berbahasa Inggris meskipun tidak terlalu mahir. Mereka hanya butuh latihan berkomunikasi lebih sering tidak akan mengalami kendala saat berhadapan dengan orang asing. Jika tidak begitu, Bahasa Inggris juga penting untuk penerjemahan Injil. Ketika masih berada di Indonesia, mereka menggunakan kitab yang berbahasa Indonesia, tetapi ketika menjadi misioner di luar negeri, semuanya harus diterjemahkan menggunakan Bahasa Inggris," tegas pria yang juga ahli akupresur ini.
Masih urusan kemanusiaan, dia biasa mengamalkan ilmu akupresurnya untuk menolong sesama. Sejak tahun 2000 lalu, Randi menjadi anggota Perserikatan Pemijat Indonesia sudah mengamalkan ilmu untuk puluhan hingga ratusan orang yang membutuhkan.
‘’Saya terpanggil untuk mengamalkan akupresur ini karena tidak tega melihat sesame yang membutuhkan. Awalnya, saya merasa kasihan dengan tetangga yang terjatuh dari pohon mangga sekitar 10 meter. Dia mengalami sakit pada bagian tulang belakang. Saya yang memiliki pengetahuan sedikit tentang akupresur berusaha menolongnya. Dengan ketelatenan, saya bersyukur tetangga bisa lebih baik. Dari situ saya terus menimba ilmu dari orang-orang yang lebih berpengalaman demi menolong sesama,’’ tegas pria yang sudah mualaf sekitar tiga tahun ini. (febri setyawan)