Demi Alasan Omzet, Rela Pakai Merek Pemesan

Pabrik sepatu dengan merk Phyton’s, menjadi salah satu UKM unggulan dari Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Hasil produksi dari UKM ini, semakin berkembang hingga menembus pasar nasional. Berikut perjalanan kiprah dari pabrikan sepatu yang memakai merk dari nama pemilik ini.

Wilayah Kabupaten Malang yang luas, dengan 33 kecamatan, membuat kabupaten ini memiliki segudang potensi di berbagai bidang.
Tak terkecuali, potensi itu berkembang pesat di bidang industri yang bercokol pada masing-masing desa dan kelurahan. Pemkab Malang menangkapnya dengan terus melakukan pendampingan untuk pengembangan UKM melalui program One Village One Product. Satu desa satu produk yang berjalan hingga saat ini.
Salah satu potensi yang dimiliki Kabupaten Malang adalah UKM industri sepatu kulit, yang dikelola oleh Pitono dengan merk Phyton’s. Pria yang berdomisili asli di Jalan Kertoraharjo, Desa Sengguruh Kepanjen ini, mulai membuka usahanya sejak tahun 1999.
Saat itu, usahanya tidak langsung besar seperti saat ini. Dia mengawali dari nol dengan dibantu satu orang saudaranya. Kala itu, produk yang dibuatnya hanya sebatas pesanan perorangan yang kebanyakan dari para tetangga dan kenalan.
’’Awalnya, digarap dua orang. Sifatnya garapan sepatu dan sandal pesanan saja dan eceran. Modelnya pun tergantung pemesan,’’ terang Pitono didampingi Endang Tunjiati, istrinya mengawali kisahnya.  
Semangat pantang putus asa diapungkan Pitono kala itu. Dia telaten melanjutkan tekadnya untuk mengembangkan home industry yang dirintisnya. Meskipun garapan yang didapatnya tiap hari masih sebatas melayani pesanan dan jualan eceran.
Kerja keras itu mulai berbuah hasil lantaran produknya semakin dikenal orang. Baru memasuki tahun 2006, dia melabeli hasil produk sepatu dan sandalnya dengan merk Phyton’s.
Endang, sang istri menimpali kisah Pitono. Dia mengaku, jika merk itu diambil dari hasil modifikasi nama sang suami. Dengan cara menghilangkan satu huruf ’o’ yang terdapat di bagian akhir nama, menjadi Pitono.
Agar semakin menarik dan berharap mampu meningkatkan image produk hingga besar, kemudian diplesetkan menjadi Phyton’s, yang sejatinya adalah nama spesies ular berukuran besar.
Berbarengan kisah itu, produk yang dihasilkan sudah mulai berkembang pesat. UKM itu, mulai mengisi toko-toko sepatu di wilayah Malang dan sekitarnya. Termasuk sejumlah kota.
’’ Pak Sujud Pribadi, Bupati Malang sebelum Pak Rendra Kresna dulu sering pesan sepatu disini. Baik sepatu kantoran atau sepatu santai. Dipakai sendiri dan anak buahnya,’’ terang wanita asal Ponorogo ini sembari tersenyum bangga.
Kini, jumlah pekerja home industry sudah 25 orang. Mereka adalah anak-anak tetangga. Pembuatan masih manual, tanpa menggunakan mesin khusus. Kecuali untuk pengguntingan kulit bahan sepatu memakai mesin plong, dengan pisau gunting sesuai model. Sebelumnya, masih digunting dengan gunting tangan.
Kini, Pitono mampu menghasilkan 50 buah pasang sepatu/sandal dengan omset jutaan rupiah perhari. Jumlah itu, juga akan terus bertambah, mengingat pesanan terus berdatangan.
Phyton’s sendiri, sudah melayani pasar luar pulau dengan produk andalan sepatu safety, yang dikirim ke sejumlah kota di Pulau Kalimantan dan Papua.
Karena tuntutan omzet penjualan, Pitono juga harus lapang dada dan ikhlas saat menanggalkan merk Phyton’s pada sebagian sepatu dan sandal produknya, yang harus memakai merk milik sang pemesan.
’’Jika pakai merk pemesan, ya diterima saja. Disini fokus untuk produksi. Tetapi kami tetap senang, ketika melihat sepatu dan sandal milik saya, dijual di toko besar. Bahkan ikut diiklankan di televisi atau majalah fashion, meski pakai merk lain,’’ pungkas Pitono. (poy heri pristianto)