Melihat dari Dekat Program TEQIP di Manokwari Papua Barat (1)

SEBUAH kolaborasi gemilang, dicetuskan Universitas Negeri Malang (UM) dengan dukungan PT Pertamina, untuk mengejar ketertinggalan pendidikan di Indonesia Timur. Melalui program Teachers Quality Improvement Programm (TEQIP), diyakini tak lama lagi pendidikan di daerah tertinggal akan segera menyusul pulau Jawa. Termasuk pendidikan di Manokwari, Papua Barat yang menjadi salah satu dari kabupaten kota sasaran program TEQIP tahun ke 4. Malang Post berkesempatan ikut memotret bagaimana kualitas pendidikan di Manokwari, Papua Barat pada (20-22/11/13) setelah disentuh program TEQIP.

Sudah banyak potret pendidikan, yang menyajikan betapa pendidikan di Indonesia bagian timur, sangat tertinggal. Berbagai program pemerintah pun digulirkan untuk mengatasi permasalahan pendidikan disana. Bagaimana pun, kualitas pendidikan akan memberi dampak pada peningkatan kualitas sumberdaya manusianya.
Manokwari Papua Barat, adalah daerah yang kaya dengan sumberdaya alamnya. Hasil ikan yang melimpah ditambah hasil lahan yang juga beraneka ragamnya. Namun apa gunanya alam yang melimpah tanpa disertai kualitas SDM yang mumpuni.
Karena itulah UM dan Pertamina menghadirkan Program TEQIP dengan menyasar peningkatan kualitas SDM Papua melalui pembenahan mutu dan kualitas pendidikan.
Dengan harapan, mampu mengasah generasi muda di sana agar bisa membangun wilayahnya dan menularkan ilmu yang diperoleh agar pendidikan di sana terus maju dan tak tertinggal dari wilayah lain.
‘’Saya yakin tak lama lagi Papua akan bisa mengejar ketertinggalannya dari Jawa,’’ ungkap Dirut Pertamina, Karen Agustiawan saat mengunjungi para guru binaan program TEQIP di SD YPK Maranata Kota, Manokwari, Papua Barat, Kamis (21/11/13).
Pernyataan Karen ini terlontar usai melihat langsung bagaimana siswa SD disana belajar dengan senang karena para gurunya kreatif. Untuk mengajarkan sebuah rumus, siswa diajak bermain melalui sebuah alat peraga yang dibuat dari bahan sederhana. Ada yang berbahan stereofoam, kardus bekas, atau bahkan botol air mineral bekas.
Guru di daerah, yang dulu mengajar hanya terpaku pada buku teks saja, kini semakin bisa mengkreasikan materi pelajaran sesuai dengan potensi lokal yang ada.
Seperti diungkapkan Amon K Bonay, guru SD Inpres 42 Mufi, Manokwari. Dulu ia tak bisa menjelaskan bagaimana asal ditemukannya rumus untuk menghitung lingkaran. Karena baginya rumus itu adalah hal yang paten dan tak bisa dijelaskan bahkan olehnya sebagai seorang guru.
‘’Menurut saya rumus itu adalah buatan orang pintar dan saya tak tahu bagaimana bisa ada rumus begitu, tapi sekarang semuanya berubah. Berkat pelatihan TEQIP bahkan kini saya bisa mengajak anak-anak membuat rumus sendiri,’’ ujarnya bangga.
Diakuinya, saat ini ia punya banyak alat peraga yang dipakai untuk mengajar di kelas. Terutama saat mengajarkan matematika dan IPA yang memang butuh pembelajaran nyata dan bukan hanya sekedar teori.
’’Yang paling saya suka dari program TEQIP ini adalah keberlanjutannya, karena setelah pelatihan kami masih didampingi dan bisa sharing dengan trainer maupun rekan peserta yang lain,’’ ujarnya.
Semangat baru mendidik anak-anak juga diungkapkan Barmince Urus, guru SD negeri 06 Sanggeng. Dulu ia tak pernah tahu bagaimana mengoperasikan laptop. Sejak menjadi trainer program TEQIP, kini ia mahir mengajar dengan IT bahkan dengan program power point.
’’Dulu menyentuh keyboard laptop saja saya tidak berani, TWQIP memang program luar biasa dan saya bersyukur bisa menjadi peserta program ini,’’ ungkapnya.
Barmin panggilan akrab Barmince dengan antusias mengisahkan bagaimana kini ia tertantang untuk menggali kekayaan Papua untuk dikisahkan kepada siswanya saat pelajaran bahasa Indonesia.
Sementara sebelumnya, ia terpaksa mengisahkan keindahan daerah lain yang ia sendiri tak paham tempatnya. ‘’Dulu saya mengajar tentang Danau Toba, karena memang itu materi yang ada di buku. Walau saya sendiri tidak mengerti bagaimana rupa Danau Toba itu,’’ kata dia.
TEQIP, lanjutnya, mengajarkan semangat dan percaya diri pada guru daerah seperti dirinya. Dan rasa percaya diri itu pun kini menular pada anak-anak didiknya.
’’Kini saya mengajar lebih semangat, anak-anak juga semakin pintar menulis dan bercerita tentang indahnya tanah kelahiran mereka,’’ kata dia.
Guru sebagai ujung tombak pendidikan harus diubah mindsetnya dalam mengajar di kelas. Hal itulah yang menjadi tujuan utama program TEQIP.
‘’Tidak mungkin pendidikan akan berkualitas kalau gurunya tidak berkualitas,’’ ungkap Rektor UM, Prof. Dr. Suparno.
Ketua Program TEQIP, Dr. Subanji M.Si menuturkan kegiatan TEQIP ini membidik guru sebagai ujung tombak perbaikan kualitas pendidikan di daerah.
Kegiatan ini berbeda dengan pelatihan untuk guru yang lain. Karena ada 15 tahapan yang diprogramkan sampai pada target peningkatan mutu di daerah sasaran tercapai.
Koordinator TEQIP, Isnandar ST. MT menuturkan pada 2010/2011  program TEQIP sudah menyentuh 25.841 guru  dari 22 propinsi dan 47 kabupaten kota. Bahkan saat ini sudah terbentuk jaringan dengan wadah Forum Conecting Teachers. (lailatul rosida)