Melihat dari Dekat Program TEQIP di Manokwari Papua Barat (Habis)

PROGRAM Teachers Quality Improvement Programm (TEQIP) sudah memasuki tahun ke 4. Pada 2010 lalu dilaksanakan di 5 propinsi, pada 2011 di 2 propinsi, pada 2013 di 3 propinsi, dan pada 2013 di 12 propinsi. Sehingga total ada 22 propinsi yang mendapatkan sentuhan program kerjasama Universitas Negeri Malang (UM) dan PT Pertamina itu. Program ini mengenalkan pembelajaran bermakna, yaitu melatih guru bukan sebagai pengajar melainkan guru sebagai pembangkit belajar.

Sebuah pesawat dari bahan kertas minyak, melayang-layang rendah. Seorang anak terlihat asyik menerbangkan mainan itu. Dengan bimbingan seorang guru, mereka terus berupaya melipat kertas minyak yang berbentuk pesawat itu hingga terbang sempurna.
Disudut lain, siswa terlihat asyik menata roket peluncur dari bahan air mineral bekas. Roket yang berisi air itu, bisa meluncur dengan cara menembakkannya dengan alat sederhana yang sudah dirancang oleh guru.
Selintas, mereka memang terlihat sedang bermain. Tapi sebenarnya banyak ilmu yang sedang mereka gali dari permainan sederhana itu. Melalui berbagai bahan bekas yang mudah didapat, anak-anak belajar mengidentifikasi kejadian alam dan kemudian menyimpulkan sendiri mengapa hal itu bisa terjadi.
‘’Kalau kertas yang mereka lipat menjadi pesawat belum juga bisa terbang dengan benar maka mereka akan terus mencoba sampai sempurna,’’ ujar salah satu trainer TEQIP yang juga dosen FISIKA FMIPA UM, Drs. H. Winarto M.Pd.
Tak sedikit yang beranggapan, belajar Fisika itu adalah belajar hal yang tidak nyata. Saat berbicara materi tentang gaya gravitasi misalnya, tak ada yang bisa menunjukkan bagaimana bentuk gaya itu.
Namun dengan bantuan alat peraga seperti yang kini banyak dibuat oleh guru peserta TEQIP, siswa pun menjadi paham dengan materi yang bagi sebagian besar orang dianggap sulit.
Tidak hanya pada pelajaran Fisika saja, pada pelajaran Bahasa pun ada banyak alat peraga yang dihasilkan guru TEQIP. Termasuk beragam kreasi model pengajaran di kelas yang lebih menarik bagi siswa.
‘’Anak-anak kini tak lagi cepat bosan kalau belajar di kelas, karena kami sudah pandai membuat alat-alat dan mengkreasikan cara mengajar di kelas,’’ ungkap Kepala SD YPK Maranata Kota, Manokwari, Papua Barat, Yuliana Rawar S.Pd.
TEQIP memang bukan segala-galanya, tapi segalanya ada di TEQIP begitu komentar para guru peserta program ini. Model pelatihan yang sudah dipatenkan oleh UM ini memiliki ciri yang khas meliputi lebih banyak praktik daripada teori, sistem training of trainer, kontinuitas, on going, konkrit, induktif, bermakna dan lesson study.
‘’Pada tahap awal memberdayakan trainers, dilanjutkan satu trainer memberdayakan 9 guru peserta diseminasi. Selanjutnya peserta diseminasi akan menyebarkan pengalamannya kepada 9 orang guru di sekolah,’’ beber Ketua Program TEQIP, Dr. Subanji M.Si.
TEQIP selain sukses mengantarkan guru untuk bisa mengajar secara bermakna, juga mengantarkannya untuk bisa meneliti dan menulis karya ilmiah yang dipublikasikan di jurnal ilmiah dan seminar nasional.
‘’Program ini juga bersifat kontinyu, setelah enam bulan dibantu Pertamina dan UM maka selanjutnya pemerintah daerah yang harus melanjutkannya,’’ ungkap Koordinator TEQIP, Isnandar ST. MT.
UM memang telah mengambil andil besar dalam pengembangan pendidikan dengan program taktis dan strategis seperti TEQIP ini. Dari sekitar 3730 guru yang dilatih menjadi trainer, saat ini sudah berkembang menjadi 28.979 guru.
‘’Program ini adalah andalan pengembangan pendidikan guru, dan ini adalah karya besar UM dan akan kami patenkan,’’ ujar Rektor UM, Prof. Dr. Suparno.
Karena dampak yang signifikan dari program TEQIP ini, Pertamina dan UM sepakat untuk meningkatkan wilayah garapnya tak hanya terbatas pada guru SD saja tapi juga ke jenjang diatasnya.
Tahun ini sudah ada guru SMP yang mendapatkan pembinaan dan kedepan tidak menutup kemungkinan akan berlanjut ke jenjang SMA.
Mutiara dari Timur itu tak kalah pintar dari anak-anak di Jawa, hanya saja selama ini kualitas pendidikan di sana jauh tertinggal. UM sebagai lembaga eks IKIP terpanggil untuk ikut membangun pendidikan dalam arti hakiki yakni pendidikan berkualitas.
Harapan besar kini tak sekedar harapan kosong, karena tanda-tanda kemajuan pembangunan bidang pendidikan itu kini tergambar di Tanah Papua.
Seperti yang diungkapkan Dirut Pertamina, Karen Agustiawan yang optimis bahwa Papua bisa mengejar ketertinggalannya dari Pulau Jawa. (lailatul rosida)